oleh

Pekerja Sosial Sangat Membantu Rehabilitasi Sosial Di Kabupaten Kupang

 

Ket: Benyamin Luji Kabid Rehsos Dinsos Kabupaten Kupang Didampingi Dua Satuan Bakti Pekerja Sosial

RADARNTT, Oelamasi – Ada banyak masalah masalah yang terjadi di Kabupaten Kupang yang berkaitan dengan anak berhadapan dengan hukum dengan berbagai kasus. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kupang Fahrensy P. Funay melalui Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial (REHSOS) Benyamin Luji yang didampingi dua tenaga pekerja sosial perlindungan anak, Melkior Musikam dan Omri Edison Sakbama kepada radarntt di ruang kerjanya (Jumat, 21/9/2018).

Dalam mengatasi banyak permasalahan sosial yang terjadi di Kabupaten Kupang cukup banyak yang telah dilakukan oleh Dinas Sosial. Benyamin Luji menjelaskan, “Sejauh ini kegiatan yang penanganan persoalan sosial cukup baik, dan kebetulan ada tenaga Pendamping Sosial dari Kementerian sosial yang diperbantukan di Kabupaten/Kota. Terus terang juga mereka ini semua dari kementerian dan dari daerah belum masuk dalam program kegiatan kita, untuk membantu menangani banyak masalah yang terjadi di daerah ini terutama mendampingi anak yang berhadapan dengan hukum. Kita hanya memfasilitasi Pendamping Sosial dari Kemensos sebatas administrasi, selebihnya itu kami memang tidak bisa karena tidak masuk dalam DPA.

Luji menambahkan, jujur baru baru ini kami mencoba untuk menyampaikan kepada Bupati terkait masalah ini karena yang kami pandang cukup serius melihat dari grafik kasus per kasus dari tahun ke tahun naik meningkat.

Kemudian Luji menyebutkan, Tahun 2015 ada 8 kasus, Tahun 2016 ada 13 Kasus pada Tahun 2017 mencapai puncaknya terdapat 50 kasus sedangkan per Januari hingga Bulan Juni 2018 2018 sudah terjadi 23 Kasus. Namun rupanya perhatian dari pemerintah Kabupaten Kupang belumlah kesana, sehingga belum bisa membantu sejumlah dana responsif untuk membantu pekerja sosial dalam menangani kasus kasus tersebut.

“Kami disini khususnya Bidang Rehabilitasi Sosial hanya membantu memfasilitasi secara administrasi contohnya ATK untuk buat laporan, kita bantu kertas, alat bantu seperti printer, laptop untuk mereka bisa menyusun laporan laporan itu, katanya.

Tetapi lebih dari itu memang sama sekali belum bisa, jangan sampai ada tabrakan karena mereka tanggungjawabnya langsung dari kementerian, jadi kegiatan mereka semua ditanggulangi oleh kementerian. Makanya kita perlu duduk sama sama dengan pejabat pengambil keputusan di tingkat kabupaten untuk bagaimana untuk ke depan ini, supaya bisa jalan dengan baik, karena persoalan ini cukup membuat kita ketakutan dengan peningkatan kasus demi kasus yang terjadi naik tajam, ulas Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial ini.

Luji menegaskan, Jangan sampai 10 15 Tahun generasi muda kita sudah rusak semua, dan ini yang menjadi masalah buat kita semua. Kita ingin ketemu Pak Bupati namun beliau sering keluar daerah terus dan hingga kini belum ketemu. Lantas sekarang beliau sudah mengundurkan diri dari jabatan bupati maka kita butuh waktu untuk bertemu bupati yang baru untuk diskusi tentang hal ini. Paling tidak ada anggaran sedikit dari pemkab untuk para pekerja sosial yang didroping dari kemensos ini.”

Tahun 2015 kita sudah ditempatkan di dinas sosial, sebelumnya kita dipanti panti, para peksos (pekerja sosial) bukan hanya menangani ABH (Anak Berhadapan Hukum) saja namun juga tentang adopsi anak, dan pendampingan korban trafficking kami juga tangani, kata Melkior salah seorang peksos.

“Sebelum turunnya para peksos dinas sosial hanya menangani sesuai regulasi yaitu sebatas anak terlantar diluar panti, penyandang disabilitas, para lansia yang jadi program rehabilitasi. Terkait penanganan trafficking di Bidang Rehsos pernah memfasilitasi para peksos dengan bekerjasama dengan Save The Children pada tahun 2016, hingga korban berhasil dikembalikan dikeluarganya, pangkas Luji. (SET/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru