oleh

PMKRI Cabang Kupang Gelar Diskusi Publik Bertema ‘Optimalisasi Pembangunan kawasan Perbatasan RI- TIMOR LESTE’

Tampak Moderator dan Kedua Pembawa Materi Diskusi Publik Yang Diselenggarakan PMKRI Cabang Kupang

 

RADARNTT, Kupang – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang menggelar diskusi publik dengan mengusung tema ‘Optimalisasi Pembangunan Kawasan Perbatasan Rebulik Indonesia – Timor Leste.

Hadir sebagai narasumber dalam dialog publik tersebut Sekretaris Dinas Perbatasan Provinsi NTT Linus Lusi Making, Pemimpin Redaksi Pos Kupang Dion DB Putera dan Moderator Mantan Ketua PMKRI Cabang Kupang Agustinus Bedi Roma. Kegiatan ini berlangsung di Aula Komodo Kantor DPD RI NTT (Kamis/22/11/2018).

Ketua PMKRI Cabang Kupang saat ini Engelbertus Boli Tobin dalam sambutannya mengatakan, “Persoalan terkait dengan kawasan perbatasan akhir-akhir sangat menjadi krusial di Indonesia khususnya Provinsi NTT yang berbatas langsung dengan Negara Timor Leste. Sebagai generasi muda bangsa kita wajib bertanggung jawab dalam menjaga keutuhan NKRI.”

Kawasan perbatasan menjadi wilayah yang sentral dan menjadi cermin dan wajah negara, sehingga pemerintah pusat atau pemerintah daerah tetap membangun wilayah perbatasan karena dijadikan payung negara kita Indonesia khususnya NTT.

Untuk membangun perbatasan kita butuh keterlibatan semua unsur, dari pemerintah, masyarakat, media dan generasi muda dalam mengoptimalisasi pembangunan perbatasan, kata Tobin.

Linus Lusi dalam dialog publik ini mengemukakan, “Awal mulanya sebelum Negara Timor Leste pisah dari NKRI, merupakan bagian Indonesia dan menjadi provinsi yang ke 27 dalam administrasi Indonesia.

Pada dasarnya kultural adat di Tanah Timor pada umumnya sama yaitu satu kultur dan satu rumah adat. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah mendorong pembanguan infrastruktur wilayah perbatasan yang sangat menunjang sampai saat ini. pemerintah sedang merencanakan hubungan kerja sama di bidang peternakan.

Karena hingga sampai hari ini Negara Timor Leste masih menjalin hubungan perdagangan dengan Negara Brazil dan proses pengiriman juga lama hampir 3 bulan  perjalanan, terangnya.

Sementara itu Dion DB Putera mengatakan, “Kalau dulu ada anggapan kawasan perbatasan yang dipandang paling terbelakang dari sisi infrastruktur, termiskin dan tertinggal. Namun sekarang kawasan perbatasan dijadikan sebagai daerah terdepan.

Menurutnya, ada 5 masalah di daerah perbatasan RI-RDTL. Pertama, NKRI dijajah dari sisi telekomunikasi, Kedua, Infrastrukur di perbatasan masih buruk, Ketiga, terlalu banyak koki, karena hampir 25 kementerian yang mengurus masalah yang sama, ibarat banyak koki mengelola satu menu yang sama. maka jadi ramai rasanya. tidak enak, Keempat Badan Perbatasan tak bergigi, indoktrinasi ideologis dan Kelima, pembangunan berbatasan harus mutlak sejahtera. (RO/SET/RN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru