oleh

Program RPM Tidak Merata, Petani Desa Lakekun Barat Kecewa

-Daerah, Malaka, News-1.341 views

RADARNTT, Betun -Beberapa petani Desa Lakekun Barat, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka merasa kecewa lantaran bantuan pemerintah terkait program Revolusi Pertanian Malaka (RPM) menurut mereka tidak merata dengan alasan tertentu. Hal itu diungkapkan oleh Agustinus Teti dan Gabriel Nahak ketika ditemui radarntt.co di lokasi sawah mereka di Dusun Webua, Jumat (23/3/2018).

Sesuai pengakuan Agustinus Teti, petani sekaligus tukang ojek ini, dalam musim tanam mereka selama ini, menggalakkan penanaman padi secara tradisional tanpa Tim Pakar RPM satu pun namun hasilnya sangat memuaskan.

“Keseharian saya begini sudah, pagi saya ojek, sore saya ke sawah. Saya kerja sawah ini tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah sama sekali, tapi saya tetap rajin kerja. Mulai dari pengolahan lahan, benih, pupuk dan obat-obatan, saya adakan sendiri sebisa saya.” ungkap Teti dengan semangat dalam bahasa tetun.

Lanjutnya, yang bicara hasil RPM sangat menjanjikan dan masyarakat sangat terbantu, tanya Agus, “lalu mengapa saya tidak mendapatkan bantuan itu? Apapun alasan, entah politik, hasil saya juga memuaskan.” ujarnya.

“Belum tentu yang merasakan bantuan yang sangat besar dari Bupati Malaka, mendapatkan hasil seperti punya saya ini.” tegas Teti.

Hamparan seluas 50 x 175 m2 yang sementara diolahnya itu, semuanya ditanam padi. Jenis padi yang ditanam adalah Ceherang. Sedangkan pupuk yang digunakan adalah Urea. Dan obat-obatan, Furadam dan Besnoit.

Prediksinya, padi yang ditanam secara susah payah ini akan dipanen pada bulan Mei mendatang, diperkirakan capaian hasil panennya kali ini akan melebihi tahun lalu, 90 karung gabah.

Sementara Gabriel Nahak, memiliki luas lahan 150 ha. Jenis padi yang ia tanam adalah Makongga. Menggunakan Pupuk Urea dan NPK. Obat-obatan yaitu Sandimas dan Chix. Sesuai pengakuannya, semua itu ia kerja juga tanpa bantuan dari Dinas Pertanian Malaka dengan alasan yang tidak jelas.

“Pernah beberapa kali saya minta bantuan ke pemerintah (Pemkab Malaka -Red) mulai dari tahun lalu sampe sekarang 2018,  tidak diberikan. Termasuk kelompok tani kami, namanya Kanu Bot di dusun Webua, semua tidak dapat.” tutur Nahak kesal.

Menurut pria yang biasa di sapa Gab itu, tahun lalu hasil panennya mencapai 175 karung (S12). Dan kali ini, pada panen bulan April nanti, ia optimis akan kembali berkisar angka itu bahkan lebih. Katanya, biar orang-orang tahu kalau tanpa bantuan RPM pun ia bisa panen raya melebihi yang dapat bantuan.

Begitu pun dengan Romana Dahu. Dengan luas lahannya yang 90 hektare, ia dan suaminya kerja tanpa bantuan RPM-nya pemerintah Malaka.

Hingga kini,  umur padi milik ibu ini sudah memasuki minggu kelima dengan total pengeluaran sekira Rp. 2.500.000. Dan menurutnya, sampe panen nanti, gabahnya bisa mencapai 110 karung S12. (Baurae/RN)

Komentar