oleh

Tragis Nasib TKW Asal NTT, Ini Ceritanya

RADARNTT,  Kupang – Peristiwa tragis yang dialami TKW asal NTT,  rupanya sudah menjadi langganan tetap, tidak heran kalau hampir setiap tahun Negara Malaysia selalu mengirim kado istimewa yang berisikan Jenazah

Lebih anehnya lagi, kondisi Jenazah yang dikirim selalu ada bekas jahitan. Apakah ini ejekan bangsa lain untuk NKRI, mungkin negara luar anggapan bahwa nyawa manusia tidak beda jauh dengan sehelai kain yang ketika sobek tinggal dijahit saja dan selesai urusannya.

Buktinya kali ini kabar menyedihkan datang dari TKW asal Indonesia tepatnya di Kelurahan Nonbes, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Milka Boimau, TKW asal RT 18/RW 09 Nonbes kini harus tutup usiannya di Malaysia tanpa diketahui penyebab kematiannya oleh pihak keluarga, kematian misterius yang dialami Milka Boimau ini keluarga menganggab sangat aneh dan tidak wajar.

Lebih menyedihkan lagi, Jenazah korban ditemukan bekas jahitan seperti barusan dioperasi beda, dimana kondisi Jenazah dibelah bagian perut hingga anggota tubuh bagian leher korban, kemudian dijahit yang rapih layaknya hasil karya dokter profesional.

Adik Kandung korban, Agustinus Boimau saat dikonfirmasi wartawan, Minggu (11/3/2018) sore menceritakan, bahwa percakapan terakhir, dirinya dengan korban via telepon seluler sekitar empat hari lalu pukul 13.00 wita. Dan dalam percakapan kedua saudara kandung itu, korban hanya bicara soal kerinduannya untuk  kembali ke kampung halaman tempat kelahirannya.

“Korban kasih tau saya keinginannya untuk pulang,  apakah masih diterima oleh keluarga atau tidak? Karena waktu berangkat tahun 2012 lalu keluarga tidak tahu,”kata Agus.

Selanjutnya, dalam percakapan tersebut, korban meminta tolong seseorang untuk membesarkan volume suara  telepon seluler yang digunakan korban.

Agus mengakui saat telepon yang digunakan korban masih tersambung dengan dirinya,  terdengar suara orang bincang dengan bahasa melayu, seperti tidak menyukai percakapan antara korban dan dirinya, dan saat itu pula sambungan telepon langsung dinon aktifkan.

Namun sepuluh menit kemudian, korban kembali menelpon menggunakan nomor yang sama untuk  lanjutkan percakapan terkait kepulangannya serta legalitas perjalananan yang menurut pengakuan Korban surat-suratnya sudah habis masa berlaku.

“Tapi yang saya tahu, korban pernah memberitahu bahwa agennya menawarkan untuk mengurus surat-surat tersebut,” jelas Agus.

Untuk diketahui, kata Agus ketika dirinya bersama Korban masih berbicara via telepon seluler, tiba-tiba korban terdiam lalu hanphonenya dinonaktifkan lagi, dan selang beberapa menit kemudian ada panggilan masuk lagi namun yang berbicara bukan korban tapi seseorang yang mengaku anggota Polisi Negara Malaysia yang bernama Usman.

“Pak Usman ini mengaku ke saya dia seorang Polisi yang dimana tempat tugasnya dekat lokasi wilayah tempat korban kerja. Dia (Usaman -red) lalu menanyakan nama saya, dan status hubungan keluarga saya dengan korban, lalu saya mengatakan bahwa korban Milka Boimau adalah kakak kandung saya,”ungkap Agus kesal.

Lanjut Agus,  lewat polisi atas nama Usman inilah pertama kali keluarga mendapat informasi bahwa Milka Boimau sudah meninggal. Antara percaya dan tidak, Agus merasa heran dan menanyakan bagaimana mungkin kakaknya meninggal, karena baru beberapa menit yang lalu Ia berkomunikasi dengan korban.

“Pak Usman tidak menjawab pertanyaan saya, tapi dia mengatakan akan membawa korban ke hospital (Rumah Sakit). Saya pikir hospital itu kantor, setelah diterjemahkan ke bahasa Indonesia baru saya tau kakak saya mau dibawa ke Rumah Sakit,”ujarnya sedih.

Agus juga dapat informasi, setelah dari rumah sakit diketahui bahwa korban meninggal akibat paru-paru, dan meminta Agus segera mengirimkan alamat untuk jenazahnya segera dipulangkan. Namun Agus menolak lalu meminta untuk mereka melaporkan dulu ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Malaysia.

Menurutn Agus, seharusnya mereka melaporkan dulu ke KBRI, karena korban menjadi TKW berstatus legal dan resmi tercatat pada kedutaan, adi pulang pun harus resmi, jangan karena sudah meninggal lalu mau dipulangkan begitu saja. Tak lupa juga kakak korban menanyakan nama majikan ,yang menurut informasi namanya Can.

“Saya minta majikan korban atas nama Can untuk melaporkan hal ini ke kedutaan RI. Kira-kira 15 menit kemudian kami kontak lagi dan kali ini anak perempuan yang bicara, namun yang terima telepon waktu itu Pak Aris, katanya orang dari kedutaan RI, dan menggunakan bahasa Indonesia, pak Aris mengatakan ada laporan dari majikan korban bahwa TKW atas nama Milka Boimau sudah meninggal dan dari kedutaan segera turun ke TKP untuk melakukan identifikasi lanjutan,” tutur Agus.

Usai percakapan dengan orang atas nama Aris tersebut, pihak keluarga tidak mendapatkan informasi lagi. Sampai keesokan hari, keluarga mencari informasi sendiri tanpa bantuan dari pihak majikan atau kedutaan.

Lanjut Agus, informasi pun berkembang dan pihak keluarga melaporkan ke BP3TKI sampai akhirnya jenazah korban dipulangkan ke kampung halamannya, Minggu (11/3/2018) di Amarasi.

“BP3TKI berkoordinasi dengan kedutaan, lalu dua hari kemarin pak Timotius dari PJTKI menginformasikan ke keluarga bahwa hari  Minggu, (11/3) pukul 12 siang jenazah akan tiba di Bandara El Tari Kupang, “jelas Agus.

Namun, seperti jatuh tertimpa tangga, setelah peti jenazah dibuka keluarga korban melihat kondisi korban yang memprihatinkan. Dimana dari perut sampai leher korban terdapat jahitan besar seperti baru selesai di operasi alias jenazah korban terlihat tidak wajar.

“Yang kami keluarga korban takutkan adalah keutuhan dari jenazah, diluar tidak utuh jangan sampai di bagian dalam juga tidak utuh. Kami minta majikan dan kedutaan RI di Malaysia untuk menjelaskan kenapa sampai kondisi anak dan saudari kami seperti ini,”tegas Agus. (Tim/RN)

Komentar