oleh

Transaksi Mencurigakan oleh Calon Petahana

RADARNTT, Jakarta – Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kiagus Ahmad Badaruddin, menyatakan ada puluhan Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) yang terjadi jelang pelaksanaan Pilkada serentak 2018.

“Hasil pemantauan transaksi keuangan mencurigakan terdapat 52 LTKM”, ujar Kiagus dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Jakarta, Rabu, (18/4/2018).

Dia mengatakan, LTKM itu diperoleh setelah pihaknya melakukan pemantauan transaksi keuangan para kontestan pilkada serentak di seluruh Indonesia tahun ini. Total, ada 171 daerah (provinsi, kabupaten, kota) yang mencari kepala daerah secara serentak pada pencoblosan 27 Juni 2018.

Kiagus merinci hampir seluruh LTKM itu mayoritas melibatkan petahana. Sementara, sisanya melibatkan penyelenggara pemilu dan partai politik.

Dia menjelaskan LKTM meningkat signifikan sekitar bulan April hingga Juni tahun 2017 atau menjelang para petahana memasuki masa lepas jabatan.

Meski tidak merinci, Kiagus menyebut transaksi mencurigakan tersebut mencapai miliaran rupiah dan dilakukan melalui perbankan.

“Transaksi keuangan mencurigakan bersumber dari bank umum, bank pembangunan daerah, perusahaan asuransi, dan money changer“, ujarnya.

Terkait hal tersebut, Kiagus menegaskan PPATK akan terus melakukan pemantauan terhadap transaksi mencurigakan tersebut, terutama di beberapa wilayah yang terindikasi memiliki dinasti politik.

PPATK, kata Kiagus, juga sudah berkoordinasi dengan KPK, Bawaslu, dan penegak hukum lain untuk menindaklajuti laporan yang terbukti melanggar ketentuan pelanggaran pemilu maupun pidana.

“Sekarang kami sedang tahap proses analisa. Apakah ini hanya pelanggaran pemilu atau pelanggaran pidana. Itu akan kami klasifikasikan”, ujar Kiagus.

Lebih dari Seribu Laporan Transaksi Keuangan Tunai

CNN Indonesia, melansir selain LTKM, PPATK menemukan 1.006 Laporan Transaksi Keuangan Tunai terkait Pilkada sepanjang tahun 2017 hingga Maret 2108.

Menurut Kiagus, transaksi tunai tersebut mayoritas terkait penyelenggaraan pemilu, partai politik, dan tim sukses.

Dia menyebut lonjakan LKTM terjadi pada akhir 2017 dan diprediksi akan terus meningkat hingga setelah Pilkada serentak tahun 2018 digelar.

“Mayoritas transaksi keuangan tunai tersebut terjadi di Bank Umum dan BPD”, ungkap Kiagus.

Kiagus menyatakan PPATK dan Badan Pengawas Pemilu sudah merevisi nota kesepahaman terkait dengan pencegahan tindak pidana pencucian uang dan politik uang selama Pilkada 2018 dan Pemilu 2019.

Tindak lanjutnya, kata Kiagus, PPATK melakukan validasi rekening dana kampanye yang disampaikan para kontestan Pilkada 2018.

PPATK juga menyampaikan daftar kontestan dan tim kampanye kepada Penyedia Jasa Keuangan (PJK) untuk melapor ke PPATK jika terindikasi menerima sumbangan melampaui ketentuan berlaku.

“PPATK juga menyelenggarakan sosialisasi kepada PJK menyangkut area-area yang rawan penyalahgunaan rekening sebagai sarana politik uang berikut penyampaian modus dan tipologinya”, ujar Kiagus. (kid/Yolf/RN)

Komentar