oleh

Warga Keluhkan Hasil Panen Menurun Akibat Gas Bumi Mataloko

-News, Ngada-1.949 views

RADARNTT. Bajawa – Warga kampung Turetogo dan Pomamana Desa Ratogesa kecamatan Golewa kabupaten Ngada, keluhkan hasil panen pertanian yang terus menurun setiap tahun akibat meluapnya gas bumi Mataloko yang merusak lahan usaha tani.

Menipisnya hasil panen masyarakat desa Ratogesa terlebih khusus RT. 08 Turetogo dan RT. 09 Pomamana ini, disebabkan dari gas bumi yang sudah di bangun pemerintah sejak tahun 2003. Lapangan panas bumi Mataloko terletak sekitar 18 kilometer sebelah timur kota Bajawa kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sejak terbangunnya gas bumi di wilayah Desa Ratogesa, dampak yang di terima oleh masyarakat Turetogo, Pomamana dan sekitanya sangatlah jelas, ketika hasil panen musiman dan tahunan setiap tahunnya terus menurun jauh dari harapan.

Untuk meneruskan kehidupan, masyarakat Turetoko dan Pomamana lebih banyak mengkonsumsikan ubi kayu dan pisang kepok, itupun ubi kayu dan pisang kepok tidak semuanya hasil baik.

Herman Y. Tay (51), selaku anggota BPD Desa Ratogesa dan juga penghuni wilayah tidak jauh dari lokasi semburan lumpur panas dari gas bumi mengatakan, hasil panen yang didapat untuk tahun kemarin dan juga tahun ini, masih jauh dari harapan.

“Karena jika kami bandingkan dari tahun-tahun sebelumnya masih bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Namun, musim panen kali ini terus menurun”, ungkap Herman kepada awak media Selasa, (22/5/2018) pukul 15.19.

Herman menuturkan, biasanya lahan kopi seluas 1000 meter persegi, pada tahun 2016 bisa menghasilkan panen 2 karung ban biru, tetapi tahun lalu 2017, hanya bisa menghasilkan panen 1 karung ban biru.

“Untuk tahun ini belum tentu kami bisa dapat dengan hasil yang sama. Lahan jagung 2500 meter persegi untuk tahun lalu hanya bisa menghasilkan setengah karung, sedangkan tahun 2016 kami bisa dapat hasil panen jagung 2 karung”, kata Herman menjelaskan.

Untuk tahun ini belum bisa dipastikan hasil panen jagung karena lumpur panas yang terus meluas.

Ia menambahkan untuk tanaman sayur-sayuran pada tahun 2016 masih bisa lihat tanda-tanda kehidupan, namun pada tahun 2016 dan 2017 sudah mulai menurun, bahkan tahun ini sudah tidak bisa untuk tanam sayur karena lahan tanah cukup panas.

“Sedangkan, hasil panen tanaman tahunan yang tidak bisa kami harapkan lagi seperti bambu, mahoni dan sengon karena terserang hama dari bau belerang”, imbuh Herman.

Herman juga mengungkapkan rasa kekecewaan terhadap Pemda setempat karena sudah dijanjikan pada tahun 2016, masyarakat Turetoko dan Pomamana akan direlokasi ke translok di daerah Watukapu yang jauh dari radius gas bumi dan juga tanaman di sekitar lokasi dijanjikan akan diganti rugi oleh Pemda. Namun, sampai saat ini tidak ada realisasi oleh Pemda.

Dia juga, mengeluh karena air yang berada di kali sudah menguning dan tidak layak untuk dikonsumsi hewan.

Untuk menjamin hidup ke depan masyarakat Turetogo dan Pomamana hanya bisa mengharapkan usaha yang tidak digunakan dari alam, seperti pembuatan parang. Dan juga untuk biaya anak sekolah, mereka lebih banyak cari uang di wilayah lain.

“Harta yang paling berharga untuk kami ketika anak yang kami sekolahkan bisa mendapatkan ijasah dan juga lapangan pekerjaan yang cukup untuk bisa memenuhi kehidupan, pungkas Herman. (FXB/RN)

Komentar