oleh

Agustinus Rani: Tanpa IESR-AMAN Panel Surya SDK Boafeo Tidak Mungkin Ada 

Foto : Tampak panel surya yang terpasang di SDK Boafeo, Kecamatan Maukaro – Kabupaten Ende

RADARNTT, Ende – Institute for Essential Services Reform (IESR) bekerjasama dengan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Nusa Bunga merealisasikan pemasangan Panel Surya di SDK Boafeo, Kecamatan Maukaro – Kabupaten Ende.

Pemasangan panel surya di sekolah ini merupakan kelanjutan dari salah satu Program IESR dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Dan SDK Boafeo dijadikan sebagai pilot project dalam memperkenalkan energi terbarukan dengan listrik ramah lingkungan yang bersumber dari cahaya matahari.

Foto : Kepsek SDK Boafeo saat memberikan keterangan pers kepada awak media

Ditemui pada Sabtu (17/08/2019) usai upacara bendera HUT RI ke 74 di Lapangan Boafeo, Kepala Sekolah SDK Boafeo, Agustinus Rani mengatakan,  “Pemasangan Panel Surya oleh IESR yang bekerjasama dengan AMAN di SDK Boafeo merupakan satu kebanggaan yang luar biasa karena selama ini SDK Boafeo sangat kesulitan dalam melaksanakan proses belajar mengajar yang menggunakan listrik dan sangat gelap pada malam hari sehingga sangat membutuhkan listrik untuk kepentingan proses belajar mengajar baik pada siang hari maupun belajar kelompok yang dilakukan para siswa pada malam hari.”

“Kami sangat bersyukur karena sejak berdirinya SDK Boafeo tahun 1922, baru kali ini kami mendapatkan bantuan listrik berupa Panel Surya dalam skala besar dalam menerangi setiap ruangan kelas dan semua area sekolah yang selama ini berkondisi gelapm,” tutur Kepsek Agustinus.

Selanjutnya dikatakan, pemasangan panel surya ini akan sangat membantu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah dengan sistem pendidikan dewasa ini yang sudah mulai menggunakan listrik sebagai media pendukung dalam membantu kelancaran proses belajar mengajar di kelas sesuai dengan kurikulum sekolah K13.

Kehadiran listrik di sekolah merupakan hal baru dalam proses belajar mengajar dimana dalam satu kali pelaksanaan kegiatan belajar mengajar maka akan terintegrasi semua mata pelajaran bagi para siswa, tambah Agustinus Rani.

“Yang tak kalah pentingnya adalah kehadiran listrik juga akan meningkatkan kompetensi guru terutama bagi guru kelas dalam berkreasi untuk memberikan pelajar kepada para muridnya,” cetusnya.

Pihaknya berterimakasih kepada IESR dan AMAN yang begitu besar perhatiannya terhadap bidang pendidikan terutama kepentingan pendidikan anak – anak didik di SDK Boafeo yang selama ini membutuhkan listrik untuk penerangan maupun pendukung proses belajar mengajar di sekolah.

“Sebuah kebanggaan yang kami terima saat ini karena sekolah kami dipilih IESR dan AMAN menjadi sekolah model pilot projects pemasangan Panel Surya terbesar di Kabupaten Ende. Kami akan memanfaatkan listrik ini untuk kepentingan pendidikan di sekolah ini,” ucap Agustinus.

Sementara Program Officer IESR melalui Hapsari Damayanti mengungkapkan, pemasangan Solar PV di SDK Boafeo berkapasitas 5 kWp solar PV dengan 4 kWh baterai kiranya dapat mengakomodasi seluruh kebutuhan listrik yang ada di sekolah tersebut baik untuk penerangan maupun penggunaan arus listrik pada saat kegiatan proses belajar mengajar di dalam kelas.

Pihaknya berharap dengan kehadiran listrik yang bersumber dari energi terbarukan ini, kegatan belajar mengajar di sekolah semakin interaktif dan berkualitas.

“Kami berharap kehadiran Solar PV di sekolah ini membawa angin segar dalam dunia pendidikan di Boafeo terutama bagi para pendidik dan adik – adik yang sekolah di SDK Boafeo. Semoga peningkatan mutu pendidikan di sekolah ini tercapai dengan baik mampu bersaing dengan sekolah lainnya di Kabupaten Ende,” ujar Hapsari.

Terkait pemasangan instalasi Panel Surya d SDK Boafeo, Priyono Raharjo dari PT DAS menuturkan kapasitas PLTS yang terpasang sebesar 5000 watt yang terdiri dari 2 PLTS yang identik dengan kapasitas masing – masing 2475 Wp dan kapasitas baterai 2 kWh serta inverter 3 Kwh.

“Kita pilih menjadi 2 PLTS untuk kehandalan dari sistem itu sendiri dan apabila terjadi masalah di salah satu sistem maka sistem yang lainnya masih dapat dipakai dalam kehidupan sehari – hari,” ungkap Priyono.

Pihaknya menjelaskan setiap PLTS terdiri dari 3 panel yang dihubungkan secara serial dengan masing – masing panel digabung dengan sambungan paralel melalui mcb sebagai penghubung dan pengaman dengan hasil gabungan yang masuk ke box inverter agar tegangan listrik yang dihasilkan menjadi 48 Volt. Energi dengan tegangan 48 Volt itu akan diubah menjadi tegangan 220 Volt AC agar bisa dimanfaatkan untuk penerangan maupun kepentingan lainnya.

“Energi yang belum terakai akan tersimpan di baterai dan akan digunakan pada saat energi dari panel surya tidak ada dan pada malam hari ketika matahari tidak ada energi maka energi listrik dapat diperoleh dari hasil simpanan yang ada di dalam baterai dengan kapasitas simpanan masing – masing sistem sebesar 2 kWh dan beban 200 Watt untuk bisa menyala sampai 10 jam,” jelas Priyono. (RianNulangi/Set/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan