oleh

Air Kebutuhan Dasar Manusia

RADARNTT, Mbay – Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Dapat dipastikan bahwa dimana ada Air disitu terdapat sumber kehidupan. Selain manusia, aneka flora dan fauna akan hidup.

Demikian tulis Pegiat Sosial Ari Gato di akun pribadinya, Rabu (16/10/2019) pukul 22.50. Hal ini diunggahnya sebagai wujud keprihatinannya atas kondisi kemarau panjang yang terus melanda wilayah Flores dan NTT umumnya.

Dia juga membeberkan data menunjukan bahwa 97 % permukaan bumi ini adalah air laut dan sisa 3 % adalah air tawar. Dari 3 % air tawar itu 2/3 nya adalah Gletser dan es yang terdapat di daerah Kutub yang berfungsi untuk menstabilkan iklim global. Maka sebanyak 1/3 sisanya digunakan oleh manusia dan hewan serta tumbuhan untuk kebutuhan hidup sehari hari.

Ari Gato mengatakan hampir seminggu terakhir ini koran Flores Pos memberitakan tentang Krisis Air Bersih. Sejumlah Desa di Kabupaten Nagekeo misalnya Renduwawo dan Tengatiba harus memanfaatkan air embung untuk kehidupan sehari harinya yang jauh dari kata bersih dan sehat. Belum lagi genangan embung tersebut menjadi areal minum bagi kawanan sapi dan kerbau yang nota bene dilepas bebas.

“Kita juga disuguhkan berita tentang anak anak SD yang harus berjibaku dengan gersangnya alam dan panasnya matahari berjalan kaki tiga sampai lima kilometer untuk mendapatkan air bersih,” terang Ari Gato prihatin.

Selain itu, kata dia, berbagai penyakit menular dan penyakit lainnya akan muncul seperti stunting dan penyakit kulit diderita oleh masyarakat. Kita juga diperhadapkan pada berbagai project perpipaan dan sumur bor yang gagal sebagai akibat dari design perencanaan yang kurang memadai.

Belum lagi persoalan pembukaan lahan baru dan pemukiman baru di daerah mata air dan juga kita dipertontonkan dengan kebakaran hutan dan padang sebagai akibat dari kenakalan atau sebagai bentuk mempercepat tumbuhnya tunas tunas rumput yang baru yang dapat dijadikan pakan ternak. Kita juga diperhadapkan pada kepemilikan secara pribadi daerah mata air di tanah seseorang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat lainnya harus dilakukan proses “pinang”.

“Situasi hari ini akan semakin parah apabila semua kita hanya menjadi penonton dan menjadi pengeluh tanpa aksi nyata. Sudah saatnya kita “PAKSA TANAM & TANAM PAKSA” aneka pohon lokal untuk selamatkan Bumi”, tegas Ari Gato.

Sehingga program menanam air menjadi relevan dan urgen dilakukan oleh semua pihak. Implementasinya bisa melalui pembangunan sumur resapan berbasis rumah tangga, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Mikro secara sipil teknis, pengembangan hutan desa, perlindungan mata air (PMA), reboisasi lahan kritis dan pengendalian kebakaran lahan dan hutan.

Mengisi kembali air ke tanah dinilai vital karena daerah resapan air sudah jauh berkurang. Tanaman kuat atau penyerap air diganti dengan umur pendek seperti sayuran, plus penggunaan pestisida kimiawi.

Recharge well atau sumur imbuhan/resapan ini diyakini sebagai salah satu cara efektif menjawab krisis air. Jauh lebih efektif dibanding biopori. Tentu saja karena ukurannya jauh lebih besar dan lebih cepat menginjeksi air ke tanah. Prinsip biopori atau sumur resapan ini untuk mengisi air tanah kembali sehingga cadangan air tanah terjaga, agar tak serta merta terbuang ke sungai lalu ke laut. Juga mengurangi risiko banjir.

“Saat hujan, air permukaan paling banyak tapi kotor. Harus ada penyaring kotoran dan bisa ditanami tumbuhan atau rumput agar tanah tak lari ke sumur,” jelas Gede Sugiarta, salah satu staf Yayasan IDEP yang mendemonstrasikan recharge well di kantornya, Kemenuh, Sukawati, Gianyar, Bali. Yayasan IDEP adalah LSM Indonesia yang didirikan 1999, awalnya fokus di pendidikan kesiapsiagaan bencana. Sumur imbuhan ini didukung pembuatannya oleh Fivelements, sebuah restoran dan resor hijau di Abiansemal, Kabupaten Badung.

Program adopt a well ini mengandalkan kolaborasi para pihak agar bisa dibuat lebih banyak. Di rumah, tempat publik, atau perkantoran. Sementara kampanye lain adalah adopt a river, pendidikan lingkungan untuk pelajar yang dekat dengan sungai, dan adopt a water.

“Ini yang benar terjadi dan ada solusi yang cocok. Kami tak bisa memecahkan masalah, tapi kita perlu mendorong kesadaran agar lebih banyak orang bicara sustainable water,” ujar Gove DePuy, Direktur Program Keberlanjutan Five Elements menyaksikan kerja sumur resapan. Kontribusi ini dari para pengunjung karena 10% masuk ke social fund mereka, lalu didistribusikan mendukung inisiatif lingkungan. (TIM/RN)

 

Ket. Foto:  Gambar alur kerja sumur resapan dan sudah diujicoba di kantor IDEP, di Gianyar, Bali. Seperti sumur biasa tapi di sisi-sisinya dipasang pipa-pipa untuk jalur air permukaan dan air hujan dari atap yang difilter terlebih dahulu. Foto Luh De Suriyani

Komentar