oleh

Aliansi Anti Korupsi ‘Menagih Nyali dan Ketegasan’ Kejati NTT

Foto: Demonstrasi Aliansi Jaringan Anti Korupsi dan Peduli Keadilan (AJAK-PK ) Nusa Tenggara Timur (Senin,17/06/2019)

RADARNTT, Kupang – Aliansi Jaringan Anti Korupsi dan Peduli Keadilan (AJAK-PK ) Nusa Tenggara Timur melakukan aksi demonstrasi terkait Monumen Pancasila dan Skandal NTT Fair di Kejaksaan Tinggi NTT  (Senin, 17/06/2019).

Ketua PMII Kupang (Koordinator Umum) Hasnu Ibrahim menandaskan, “Mosi tidak percaya terhadap Kejaksaan Tinggi NTT, mengenai penanganan kasus pembangunan Monumen Pancasila dan Skandal NTT Fair yang tidak sesuai bukti fisik di lapangan.”

“Berdasarkan hasil audit BPK telah ditemukan kerugian keuangan negara sebesar 11,5 miliar dengan rincian sesuai LHP BPK terjadi kelebihan pembayaran sebesar Rp. 1.577.384 264. Dan denda keterlambatan sebesar Rp. 1.359.960.022, jaminan pelaksanan yang belum dicairkan dari bank sebesar Rp. 2.692.720.845,-sehingga total mencapai Rp. 5.630.065.131,-Sedangkan Monumen Pancasila terjadi kelebihan pembayaran pekerjaan tidak sesuai dengan prestasi Rp.5.179.854. 415,-denda keterlambatan Rp. 1.206.766.915,- dan totalnya Rp. 6.386. 621.330, ” kata Ibrahim.

Disaat yang sama Oswin Goleng (Koordinator Lapangan) menyuarakan, “Gerakan hari ini sebagai kepedulian orang muda dan mahasiswa dalam mengawal setiap kasus korupsi di NTT, berkenaan dengan mega skandal NTT Fair dan Monumen Pancasila, meski terkesan lamban, kita mengapresiasi kinerja Kejati NTT dengan menetapkan 6 tersangka dan kita berharap segera naik ke persidangan.”

“Selain itu Kejati harus tetap melakukan pengembangan kasus guna mencari petunjuk dan bukti atas keterlibatan pihak lain yang diperiksa sebagai saksi, salah satunya mantan gubernur Frans Lebu Raya. Publik bersama aliansi menanti nyali dan ketegasan Kejati NTT untuk tidak loyo bahkan lemah dari upaya intervensi pihak manapun,” katanya.

Selanjutnya Goleng menegaskan,  “Skandal korupsi monumen pancasila telah mencoreng nurani dan nama baik rakyat NTT, dimana monumen ini sebagai icon kebangsaan, bukan sebatas simbol atau aksesoris tanpa makna yang mana terkandung salah satu nilai kejujuran dan ketulusan untuk menegaskan semangat nasionalisme dari Bumi Flobamora yang katanya Nusa Toleransi. Namun kenyataan berbalik, daerah ini justru tumbuh subur oknum-oknum bermental perampok yang tamak. Dan ironis bila dilakukan oleh penguasa dan pemangku kepentingan.”

“Kejati harus bertindak cepat, tepat dan tegas, sesuai prosedur dalam membongkar keterlibatan para saksi yang diperiksa tanpa pandang bulu. Dengan demikian, meskipun berat namun setidaknya bisa mengembalikan kepercayaan dan nama baik ,” ucap aktivis PMKRI Cabang Kupang tersebut.

Adapun enam tuntutan dari Aliansi Jaringan Anti Korupsi dan Peduli Keadilan (AJAK-PK) Nusa Tenggara Timur sebagai berikut:

1. Mendesak Kejati NTT untuk mengeksekusi pihak yang bertanggungjawab penuh terhadap
pekerjaan Pembangunan Monumen Pancasila dan Pekerjaan Pembangunan fasilitas Pameran Kawasan
NTT Fair.

2. Mendesak Kejati NTT dalam hal penyelidikan, investigasi, pemeriksaan, pengumpulan alat bukti dan penetapan tersangka agar dijalankan seadil-adilnya, tanpa adanya intervensi maupun tendensi dari pihak dan kelompok manapun yang memang sangat jelas tersangka dalam kasus pekerjaan Pembangunan Monumen Pancasila dan Pekerjaan Pembangunan fasilitas Pameran Kawasan NTT Fair.

3. Apabila Kejati NTT tidak mampu menyelesaikan pekerjaan Pembangunan Monumen Pancasila dan Pekerjaan Pembangunan fasilitas Pameran Kawasan NTT Fair selama kurun waktu 2 minggu agar dilakukan supervisi ke KPK RI.

4. Meminta pertanggung jawaban dan klarifikasi terhadap proses mutasi TP4 (tim pengawal dan pengaman pemerintahan dan pembangunan).

5. Meminta klarifikasi dan penjelasan Kejati NTT terkait hal urgen atas pemeriksaan mantan Gubernur NTT dan mantan Sekda NTT priode 2014/2019.

6. Meminta klarifikasi dan penjelasan Kejati NTT terhadap pemeriksaaan mantan ajudan Gubernur NTT dan mantan ajudan Sekretaris Daerah Nusa Tenggara Timur dan staf ruang kerja Gubernur.

(EPEK/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan