oleh

AMPPERA Kupang Desak Terus Kejari Lembata, Usut Tuntas Dugaan Korupsi Proyek Waima

RADARNTT, Kupang – Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Rakyat Lembata (AMPPERA)-Kupang mendesak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Lembata agar segera mengusut kasus tuntas dugaan korupsi proyek jembatan Waima.

Pasalnya, kasus tersebut telah dilimpahkan oleh Kejaksaan Tinggi  (Kejati) Provinsi Nusa Tenggara Timur ke Kejari Lembata untuk diproses dan Kejari telah memeriksa tiga orang saksi namun hingga sekarang belum ada titik terangnya.

Kepada media ini (Kamis 31/01/2019), Koordinator Umum AMPPERA Kupang Emanuel Boli mendesak Kejari Lembata agar segera melakukan tindakan penyelidikan kasus dugaan korupsi proyek jembatan Waima yang dinilai merugikan uang negara senilai 1.7 miliar, secara profesional dan transparan .

Boli mengatakan, Kejari Lembata tidak boleh lamban dalam melakukan proses penyelidikan dugaan korupsi proyek jembatan Waima. Jika lamban maka akan diambil alih oleh Kejati NTT,” sebut Boli mengulangi pernyataan Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati NTT, Iwan Kurniawan kepada AMPPERA Kupang belum lama ini.

Dia (Emanuel Boli) menjelaskan, proyek pembangunan jembatan Waima menggunakan anggaran Biaya Tak Terduga (BTT) APBD II Tahun 2017 senilai 1.7 miliar, terkesan dipaksakan. Sehingga, jembatan yang baru selesai dibangun sekitar 6 bulan yang lalu, ambruk diterjang banjir karena kegagalan konstruksi yang sangat fatal.

“Saya malah menduga kuat proyek pembangunan jembatan Waima tidak menggunakan RAB (Rencana Anggaran Biaya), konsultan perencanaan, dan gambar yang jelas. Sehingga, kami mendesak Kejari harus segera selidiki secara cepat untuk mencegah dugaan tindakan maladministrasi,” ujar mahasiswa Undana Kupang itu.

Pria akrab disapa Soman Labaona ini menegaskan bahwa ambruknya oprit jembatan Waima pertama kali pada tanggal 26 November 2018 dan segera diperbaiki menggunakan biaya perawatan (mungkin). Namun, hasilnya nihil. Karena sebulan kemudian, tepatnya pada tanggal 28 Desember 2018, oprit jembatan Waima kembali ambruk untuk yang kedua kalinya dan putus total sampai dengan sekarang.

Pasca ambruk kedua, kata dia, Pemda Lembata terkesan cuci tangan dan terus-menerus menyalahkan banjir dan bukan karena akibat dari gagalnya konstruksi jembatan atau perencanaan yang jelas.

“Nampak sekali pemberitaan yang ditulis di beberapa media sepertinya berupaya  untuk meracuni nalar waras publik bahwa ambruknya jembatan Waima sebabkan oleh bencana banjir. Itu kan konyol dan hoax,” kata Soman.

Senada dengan Soman, Elfridus Leirua Rivani Sebleku secara tegas mendesak Kejari Untuk segera mengusut tuntas kasus dugaan korupsi Jembatan Waima ini.

“Mengingat alasan penanganan diberikan sepenuhnya kepada kejari Lembata adalah lebih mudah dan efisien maka Kejari Lembata mesti dan seharusnya bekerja secara extra guna mengusut tuntas kasus ini sesuai dengan alasan tersebut yakni lebih mudah dan efisien,” katanya.

Mahasiswa Fakultas Hukum Undana ini menegaskan, jika Kejari bertindak tegas dan cepat maka  akan ada begitu banyak bukti yang dengan mudah bisa didapatkan guna membantu proses hukum untuk mengusut tuntas kasus ini,” katanya.

Oleh karena itu, sekali lagi, kami mendesak secara tegas Kejari Lembata segera melakukan proses hukum dalam kasus yg dimaksud

Rivani selaku Ketua Asosiasi Mahasiswa Lembata-Kupang ini juga menuturkan, dengan putus totalnya jembatan yang belum setahun ini, sudah sangat jelas merugikan masyarakat Lembata jika ditinjau dari berbagai aspek kehidupan termasuk adanya kerugian keuangan negara sebesar 1,7 M yg diperuntukkan utk pembangunan jembatan ini.

Jika Kejari Lembata tidak mengusut tuntas dugaan korupsi proyek Jembatan Waima, AMPPERA Kupang akan melakukan demonstrasi besar-besaran di Kota Kupang maupun Kota Lewoleba, Ibu Kota Kabupaten Lembata, ucap para aktivis tersebut. (AGUSTO/SET/RN)

Komentar