oleh

Bagaimana Kiat Lulusan Langsung Diterima Bekerja

RADARNTT, Kupang – Pakar Manajemen Vincent Gaspersz membeberkan pengalaman terkait kiat-kiat agar lulusan Perguruan Tinggi langsung diterima bekerja dalam Pasar Tenaga Kerja Bisnis dan Industri.

“Bagi Anda calon lulusan D3, S1 dan S2 yang ingin bekerja dalam pasar tenaga kerja di manapun di dunia (pasar global), maka tidak usah peduli dengan nomor ranking dari Universitas/Perguruan Tinggi Anda sekarang,” tegas Vincent Gaspersz via whatsapp, Minggu (3/11/2019).

Mau tahu rahasianya agar lulusan yang dihasilkan langsung diterima dalam pasar tenaga kerja Industri di Indonesia maupun di ASEAN atau tempat lainnya?

Menurutnya,  orientasi pasar tenaga kerja seharusnya bukan PNS yang sangat terbatas kuotanya tetapi pada perusahaan-perusahaan industri besar, sedang, maupun kecil di Indonesia, bahkan bila perlu di luar Indonesia.

“Desain saja cara belajar kita sendiri, agar mahasiswa 4.0 tidak tergantung pada dosen maupun kurikulum yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan industri. Aplikasi cara ini secara mandiri oleh mahasiswa 4.0 disebut sebagai design thinking of learning,” ungkap Vincent Gaspersz.

Sebagai mahasiswa 4.0, kata dia, jangan pernah kita terjebak pada kurikulum usang atau kuno yang diajarkan kepada kita, karena terbukti kurikulum kuno itu membuat kita tidak mampu berkompetisi dalam pasar tenaga kerja di tingkat nasional, regional, maupun global.

“Dengan demikian mahasiswa 4.0 agar selalu belajar tambahan melalui menyisipkan poin-poin inti tentang kebutuhan bisnis dan industri itu dalam setiap mata kuliah yang ada,” tegasnya.

Sebagai contoh untuk jurusan manajemen industri, Vincent Gaspersz mengutarakan kebutuhan utama dari dunia bisnis dan industri di seluruh dunia adalah:

Pertama; Problem Solving & Decision Making: dapat dipelajari secara mandiri atau mengikuti kursus online ketika belajar mata kuliah: analisis keputusan, statistika, metode kuantitatif dalam manajemen, dll.

Kedua; Keterampilan berpikir statistika (statistical thinking) dapat dipelajari secara mandiri atau kursus online ketika belajar mata kuliah pengantar statistika atau statistika lanjutan.

“Keterampilan PSDM (Problem Solving & Decision Making) beserta Statistical Thinking merupakan hal mutlak dalam implementasi sistem manajemen modern,” tandasnya.

Ketiga; Keterampilan Manajemen Kualitas, dapat dipelajari secara mandiri atau mengikuti kursus online ketika belajar mata kuliah manajemen produksi dan operasional.

“Keterampilan menjadi seorang Total Quality Person yang memahami dan menerapkan Productivity & Quality Thinking and Approach adalah mutlak dipahami ketika bekerja dalam bisnis dan industri modern,” tekan Vincent Gaspersz.

Keempat; Throughput Accounting dapat dipelajari secara mandiri atau kursus online ketika sedang mengikuti mata kuliah pengantar akuntansi dan akuntansi lanjutan.

Menurut Vincent Gaspersz, keterampilan untuk memahami Throughput Accounting adalah persyaratan multlak bagi bisnis dan industri yang sedang menerapkan sistem manajemen ToC (Theory of Constraint Management System).

Kelima; TOPS (Team Oriented Problem Solving) dapat dipelajari secara manduri ketika belajar mata kuliah manajemen sumber daya manusia.

Keterampilan solusi masalah berbasis pendekatan TEAM (Together Everyone Achieves More) merupakan kebutuhan nyata bisnis dan industri.

Keenam; Aplikasi Lean Six Sigma Supply Chain Management dapat dipelajari secara mandiri atau online ketika belajar mata kuliah manajemen produksi dan operasional atau menambah pembelajaran mata kuliah sendiri melalui mengikuti kursus online.

Perkembangan terbaru dalam manajemen industri adalah tentang integrasi ToC, Lean Six Sigma dan Supply Chain Management.

Ketujuh; Keterampilan presentasi, mengemukakan pendapat, dll dapat dipraktekkan langsung dalam semua mata kuliah ketika mahasiswa melakukan presentasi tugas dari setiap mata kuliah.

Kedelapan; Keterampilan menyusun SOP (Standard Operating Procedures) dapat disisipkan dalam mata kuliah manajemen produksi dan operasi, manajemen sumber daya manusia, manajemen pemasaran, manajemen keuangan/akuntansi, dll.

Kesembilan; Ketika mahasiswa berada pada semester terakhir, maka lakukan pelatihan intensif tentang: Sistem Manajemen ISO 9001:2015 selama 5-10 hari, TOPS selama 5-10 hari, Problem Solving & Decision Making selama 5-10 hari, dll. Bagi organisasi pendidikan yang cerdas akan memasukkan dalam mata kuliah pilihan seperti: Kapita Selecta atau lainnya untuk melatih calon lulusan berkompetisi dalam pasar tenaga kerja Indonesia maupun global.

Kesepuluh; Ketika kita menyusun praktek kerja lapang (PKL), Skripsi atau Thesis, jangan pernah berpikir ingin cepat lulus saja sehingga mengambil topik-topik asal jadi dan tidak bisa diterapkan di pasar tenaga kerja, tetapi berusaha lebih giat—meskipun harus mengorbankan tambahan waktu agar dalam penyusunan laporan praktek lapang, skripsi atau thesis itu terjadi experiential learning melalui aplikasi yang telah dipelajari ke dalam dunia nyata sehingga iptek yang kita pahami dan pelajari tu tidak akan pernah usang sampai kapanpun.

Semua poin yang dikemukakan di atas menurut Vincent Gaspersz bukan sekedar teori tetapi harus bisa langsung diaplikasikan, meskipun menggunakan simulasi atau data hipotesis!

“Pengalaman saya melakukan hal di atas, hanya dalam waktu pembelajaran selama enam bulan secara intensif, lulusan yang bukan berasal dari Universitas top (Ranking 1-10) di Indonesia, mampu diterima bekerja di perusahaan ternama seperti Uniliever Indonesia, dll, mengalahkan calon-calon yang berasal dari UI, ITB, dan IPB,” kata dia.

Apakah manajemen universitas/perguruan tinggi di Indonesia mampu melakukan hal-hal di atas? Vincent Gaspersz menegaskan,  jika dilakukan maka hasilnya dalam 2-3 tahun akan mengangkat nama universitas yang belum dikenal dalam pasar tenaga kerja di Indonesia maupun di luar Indonesia menjadi sejajar dengan universitas top baik di Indonesia, ASEAN, maupun dunia.

“Jika hal-hal di atas belum ada atau belum dipraktekkan di tempat kita kuliah sekarang, maka lakukan pembelajaran secara mandiri (Heutagogy, Peergogy, Cybergogy) melalui berbagai sumber yang ada untuk menutupi kesenjangan yang ada dalam diri kita sebagai mahasiswa di Indonesia,” saran Vincent Gaspersz. Dengan demikian, maka secara langsung kita ikut bertanggung jawab untuk meningkatkan daya saing pada diri kita sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

“Semua kiat-kiat di atas disarankan agar jangan sampai kita telah belajar bertahun-tahun tetapi tidak bisa berkompetisi dalam dunia nyata, bahkan hasil penyusunan karya ilmiah apakah berbentuk laporan praktek lapang (PKL), skripsi dan thesis hanya terdokumentasi sebagai informasi saja,” pungkasnya. (TIM/RN)

Komentar