oleh

BNNP NTT Minim Anggaran Hambat Upaya Pencegahan Narkotika

RADARNTT, Kupang – Badan Narkotika Nasional Perwakilan (BNNP) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengeluhkan soal minimnya anggaran menjadi kendala utama melakukan sosialisasi dan upaya pencegahan peredaran narkotika.

“Karena kekurangan anggaran, kita hanya bisa advokasi atau sosialisasi pencegahan setahun sekali dan hanya untuk satu kabupaten,” ujar Kepala Seksi Pencegahan BNNP NTT, Markus Raga Djara kepada awak media pada Jumat, (4/9/2019).

Menurutnya, sosialisasi dan advokasi dalam upaya pencegahan itu penting karena tujuannya agar kemudian pihak yang telah diadvokasi dapat membantu BNNP dalam mempersempit ruang gerak peredaran narkoba.

“Pengedar akan semakin tersudut manakala masyarakat sudah memahami betul soal strategi pencegahannya,” lanjutnya.

Untuk mendukung itu, lanjutnya, dirinya sangat mengharapkan peran serta pemerintah daerah untuk ikut mendukung BNNP NTT dengan memfasilitasi kegiatan advokasi dan sosialisasi di daerah agar menjadi rutin.

“Kita sangat mengharapkan dukungan dari para kepala daerah yang bisa membantu memfasilitasi BNNP NTT untuk melakukan sosialisasi ke daerah-daerah,” ujarnya

Sementara itu, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat BNNP NTT, Lia Novika Ulya mengatakan bahwa berdasarkan hasil pemetaan kawasan rawan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba tahun 2019 menggunakan 8 indikator pokok, 5 indikator pendukung diperoleh 7 kawasan rawan narkoba di NTT dengan tingkat kerawanan waspada.

“Tujuh kawasan tersebut yakni Kelurahan Labuan Bajo di Manggarai Barat, Kelurahan Kamalaputi di Sumba Timur, Kelurahan Wailiti di Sikka, Kelurahan Oesapa dan Alak di Kota Kupang, Desa Silawan di Belu, dan Kelurahan Kampung Baru di Sumba Barat,” jelasnya

Tak lupa, dirinya juga menjelaskan 8 Indikator pokok yang digunakan antara lain adalah kasus kejahatan narkoba, aksi kekerasan, bandar pengedar narkoba, kegiatan produksi narkoba, angka pengguna narkoba, barang bukti narkoba, entry point narkoba dan kurir narkoba.

Dan ada 5 indikator pendukung yakni banyak lokasi hiburan, tempat kost dan hunian dengan privacy tinggi, tingginya angka kemiskinan, ketiadaan sarana publik dan rendahnya interaksi sosial masyarakat. (ND/RN)

Komentar