oleh

Boni, Tukang Bakso, dan Dosa Politik

RADARNTT, Jakarta – BEBERAPA tukang bakso duduk lesehan di sebuah kamar kos kecil dan sederhana di daerah Cililitan, Jakarta Timur. Mereka ngobrol ngalur ngidul sembari ngopi dan ngeteh. Kamar kos itu disewa Boni Hargens. Di situ Boni tinggal dan menunaikan tugasnya sebagai pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia. Pun menjadi pembicara di berbagai pertemuan jika diundang.

“Kami ngga tau mas Boni kerja di mana. Kayanya tukang bakso juga. Kami disuruhnya jualan bakso. Dia yang kasi modal dikit buat jualan bakso. Kalau dia pulang kos, kami nongkrong di sini. Kalau omong agama, tau banyak orang itu. Asyik kalau ngobrol. Mungkin nyantri juga. Kalau kami mudik Lebaran mas Boni suka kasi suit buat beli aqua di jalan,” kata seorang tukang bakso.

Saya mengenal Boni Harges dari analisa politik di Harian Kompas. Bertemu pertama kali langsung akrab. Beberapa kali saya meminta tanggapan dan pendapat beliau. Awal saya dan rekan Dion Pare diminta Pastor Frans Ndoi SVD menjadi kontributor Flores Pos di Jakarta sejak koran harian milik SVD Ende itu terbit perdana, Boni menjadi narasumber paling mudah saya minta pendapat.

Tatkala Pemerintah Kabupaten Lembata berencana mengundang investor tambang emas di Kedang, pantai timur Lembata dan Leragere Kecamatan Lebatukan, Boni juga hadir sebagai akademisi membedah kebijakan politik soal itu. Saya kira ia punya kapasitas bicara soal mengapa Pemkab Lembata yang punya otoritas formal atas rencana investasi tambang. Selain itu, hadir juga advokat kelahiran Manggarai, Agustinus Dawarja SH, yang memberi masukan soal posisi pemangku ulayat bila tanah masyarakat di wilayah prospek tambang dipakai investor nanti.

Saya ingat, pihak Justice Peace of Integration for Creation Ordo Fratum Minorum (JPIC OFM) Indonesia saat itu juga mengundang Bupati Lembata Andreas Duli Manuk hadir sekadar warga Lembata di Jabodetak tahu mengapa pihak Pemkab Lembata begitu getol dengan rencana investasi tambang di bukit Puakoyong dan Leragere di tengah penolakan masif sebagian masyatakat dan pegiat lingkungan lokal. “Saya pikir hanya ada satu hasil tambang yang nanti dinikmati langsung. Bupati dan para pejabat gonta ganti jas. Sarapan di kampung, makan siang di Jakarta dan masuk toilet di Singapura. Itulah hasil langsung tambang,” kata Boni Hargens.

Sejumlah mahasiswa asal Lembata kala itu langsug tersulut emosi. Beberapa spanduk yang ditulis dalam kertas yang disembunyikan dalam baju langsung dikeluarkan. Mereka meminta Bupati Lembata langsung menyatakan membatalkan rencana investasi tambang. Mereka mengatakan, investasi tambang hanya modus baru memperkaya oknum pejabat. Hasil langsung tambang seperti yang disampaikan Boni Hargens. Suasana ricuh. Nyaris adu jotos antara beberapa orang yang mengawal Bupati Manuk. Sesepuh Lembata kelahiran Desa Imulolong, Wulandoni, Brigjen Pol Drs Anton Enga Tifaona mencoba melerai beberapa mahasiswa yang protes pun tak digubris. Pertemuan akhirnya dihentikan karena Bupati merasa dipermalukan.

Sejak itu Boni menjadi salah satu narasumber yang selalu saya minta pendapat. Rasanya seperti jadi saudara. Ia juga sangat gaul. Kerap pula membuat heboh jagad politik tanah Air. Wajahnya familiar di layar kaca sebagai analis politik yang brilian. Buku karyanya, ‘Sepuluh Dosa Politik’ kian melambungkan namanya. Sejumlah elite politik marah tatkala buku karyanya itu terbit. Salah satu bukunya, ‘Trilogi Dosa Politik’ langsung ludes diburu pembeli. “Saya cuma punya satu. Kalau mau mampir di kos. Saya kasi tuk baca dan memahami apa makna ‘dosa’ dalam politik. Biar tak melulu memahami dalam konteks agama,” kata Boni kepada saya. Buku ‘Trilogi Dosa Politik’ saya resensi dan taro dalam blog pribadi (http://ansel-boto.blogspot.com/2009/09/resensi-dosa-politik-sbyjk.html?m=1).

Suatu waktu kami janjian bertemu. Melalui pesan singkat Boni meminta saya segera meluncur ke Gedung LKBN ANTARA di selupar silang Monas. Wawancara bisa dilakukan di sela-sela suatu kegiatan. “Naik taksi saja. Kalau sampe di lobi, kabarin saya agar ada teman jemput. Kita ngobrol saat jedah,” katanya. Segera saya merapat di lobi dan ditanya satpam apa keperluan saya. Setelah menghubungi resepsionis, Boni sudah beranjak karena ada acara lain. “Maaf, lanjut saja ke Dukuh Atas. Tadi saya langsung bergerak. Ini alamat kantor. Kita ngopi di sini saja,” kata Boni, eks frater CICM.

Lama tak bersua, Boni ternyata sempat ke Jerman. Ia melanjutkan studi di Hambold zu Berlin. Janjian bertemu pun mulai jarang. Beberapa kali mengontak, ia sudah berada di Amerika Serikat. “Main-main satu sua waktu dulu. Tapi masih ke Jakarta juga. Pasti bisa bertemu kalau ada waktu,” kata Boni, analis politik kelahiran Manggarai, Flores. Saya juga tak bertanya lebih jauh apakah selama di negeri pimpinan Presiden Donald Trump itu ia melanjutkan studi doktor. Jawaban beliau merendah. Cuma satu dua waktu ke depan. Tapi pag tadi, Boni menulis kabar gembira di akun pribadinya. Ia meraih gelar doktor di Walden University, Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, dengan IPK 4.00.

“Terimakasih dukungn saudara/sahabat/kenalan sekalian. Puji Tuhan, selesai doktoral dengan IPK 4.00 merupakan anugerah bukan karena kehebatan manusia. Meski selama ini bolak balik Jakarta-Amerika dengan perjuangn keras karena kesehatan yang menurun. Salam dari Paman Sam,” kata Boni Hargens.

Meski saat ini Boni tengah berada di bawah langit USA, ingatan saya masih menyasar kos beliau di Cililitan tempo doeloe. Kos yang kerap jadi tempat nongkrong ia dan para tukang dorong gerobak bakso sekadar mencari rejeki di belantara Jakarta. Saya ingat catatan beliau tahun 2014 silam. Kata Boni Hargens, kalau tiap orang peduli dengan orang di sekitarnya, minimal dengan satu orang saja, (maka) niscaya seluruh umat manusia di dunia akan terikat dalam solidaritas sosial yang tak terkalahkan.

Tak akan ada terorisme, tak akan ada kapitalisme buas, tak akan ada perang senjata! Di situlah lagu Lenon tepat diperdengarkan: “bayangkan bila tak ada negara. bayangkan bila tak ada agama. bayangkan bila tak ada surga”. Artinya, kalau identitas agama, negara, dan lain-lain masih memisahkan kita dan melahirkan perang antarkita, biarkan kemanusiaan dan “solidaritas sosial” menyatukan kita. Karena sesungguhnya Sang Pencipta itu satu.

Ya, Tuhan sungguh baik. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Proficiat. Salam ke negeri tuan Trump, kraeng Boni. Jejak perjuangan dan pengabdianmu di dunia politik menginspirasi. Paling kurang buat anak-anak NTT dari kampung halaman di bumi Flobamora. (Ansel Deri)

Komentar

Jangan Lewatkan