oleh

Diduga Gagal Teknis Pembangunan Sarana Air Bersih, Warga Laporkan Mantan Kades Golo Munga

RADARNTT, Borong – Diduga gagal teknis pembangunan sarana air bersih, warga laporkan mantan Kades Golo Munga ke Bupati Manggarai Timur (Matim) dan Kapolres Manggarai.

Pembangunan jaringan perpipaan yang dikerjakan tahun 2017 di kampung Purang Wara, Desa Golo Munga, Kecamatan Lamba Leda Kabupaten Matim, dengan panjang 2.600 meter, ditambah 5 unit tugu keran, satu bak induk dan bak penampung, yang menurut penuturan warga menelan total anggaran sebesar Rp.400.000.000 bersumber dari Dana Desa.

Namun sampai saat ini, sarana itu belum dimanfaatkan karena pipa tidak dialiri air sejak awal pekerjaan dan beberapa pipa sudah pecah dan rusak.

Hasil pantauan radarntt.co di lokasi, belum lama ini nampak air sama sekali tidak mengalir sampai di tugu keran yang sudah dibangun di kampung Purang Wara, padahal air sangat dibutuhkan warga setempat.

Kondisi ini memicu protes warga dan 5 orang pemuka mewakili warga melaporkan kasus ini beserta mantan Kades Golo Munga ke Bupati Matim dan Kapolres Manggarai. Kelima tokoh masyarakat itu adalah Laurensius Nudin, Fonsianus Edi, Fabianus Adi, Marselinus Darmin, Finsensius Pice. Mereka menyampaikan laporan melalui surat tertulis pada Jumat, (23/8/2019).

Warga Purang Wara menduga terjadi kesalahan teknis perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan. Karena air sama sekali tidak mengalir ke kampung itu dan beberapa pipa yang telah dipasang sudah pecah dan rusak. Kegiatan tersebut juga tidak dipasang papan proyek, sehingga warga tidak mengetahui teknis pengerjaan yang sebenarnya.

Masa tugas Kades Golo Munga, Laurensius Rato sudah berakhir per 19 Agustus 2019 dan saat ini menjadi bakal calon Kades Golo Munga dalam Pilkades yang akan dilaksanakan pada Oktober mendatang.

Saat ditemui di kediamannya di Muwur belum lama ini, Laurensius Rato mengatakan pekerjaan proyek itu dilakukan dengan pola swakelola melibatkan masyarakat setempat. “Saya selaku kades saat itu, hanya memfasilitasi, sedangkan yang melaksanakan pekerjaan adalah warga Purang Wara sendiri”, kata dia.

“Soal gagal atau tidaknya proyek tersebut, itu disebabkan kelalaian mereka sendiri”, tegas Laurensius Rato.

Dia mengatakan sudah berkali-kali diperbaiki, tapi pipanya selalu pecah. Hal ini karena hasil pekerjaan mereka sendiri. “Salah satu warga menuduh saya yang mengelola, padahal semuanya, warga sendiri, mulai tukangnya, sampai ke pekerjaan proyek itu”, tuturnya.

Laurensius Rato menjelaskan besaran Dana Desa yang digunakan saat itu bukan 400 juta rupiah, seperti yang didugakan warga, melainkan anggaran biaya yang sebenarnya adalah Rp.336.898.449,68 dan sudah dilaporan ke Inspektorat. (RJ/RN))

Komentar