oleh

FPN Desak Bupati Nagekeo Berkantor di Desa Tengatiba

RADARNTT, Mbay –  Forum Pemuda Nagekeo (FPN) mendesak Bupati Nagekeo, dr. Johanes Don Bosco Do agar berkantor di Desa Tengatiba, Kecamatan Aesesa Selatan. Untuk mengatasi krisis air bersih yang sedang melanda desa itu.

Hal ini disampaikan Ketua FPN, Urbanus Dhalu, S.H., M.H agar Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo segera mengatasi persoalan krisis air bersih dan listrik yang sudah sekian lama diderita masyarakat desa tersebut.

“Sejak 12 tahun Kabupaten Nagekeo berdiri sebagai daerah otonom, Desa Tengatiba belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Desa Tengatiba sepertinya dianaktirikan,” kata Urbanus.

Kepada media ini, Senin, (16/12/2019) Urbanus mengatakan bahwa untuk memenuhi kebutuhan air, warga Tengatiba terpaksa menimba air hujan yang tertampung di tiga embung Nunungongo untuk dikonsumsi.

“Hal yang memprihatikan adalah air di tiga embung tersebut juga menjadi konsumsi hewan peliharaan seperti sapi, kambing, kerbau. Sehingga, dari sisi kesehatan, sangat tidak layak jika air itu dipergunakan oleh warga untuk minum, masak, dan mandi,” tutur Dhalu yang juga merasakan penderitaan itu.

Urno sapaan akrab Urbanus menegaskan  bahwa sangat tidak manusiawi jika Pemerintah Daerah Nagekeo tidak segera mengatasi krisis air bersih di Tengatiba, karena air yang dikonsumsi warga setempat adalah air kotor dan tercemar.  Hewan pun turut mengonsumsi air itu. “Apabila Pemda tidak segera bertindak secepatnya, maka akan berdampak pada masalah baru seperti timbulnya penyakit kulit, stunting, diare, dan jenis penyakit lainnya,” tegasnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, mantan aktivis PMKRI Cabang Kupang ini menuturkan, “Pemerintah Daerah Nagekeo harus segera menyediakan air bersih gratis untuk memenuhi kebutuhan warga setempat sebagai pertolongan alternatif,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, di Desa Tengatiba ada sumber air. “Namun, kendala yang dihadapi adalah jarak tempuh dari Desa Tengatiba ke sumber air sekitar 3 kilo meter yang membutuhkan waktu berjam-jam untuk tiba di sana. Sehingga, warga tidak bisa jangkau,” ujar alumni Pascasarjana  Ilmu Hukum Universitas Nusa Cendana itu.

Sebelumnya, ada jaringan perpipaan untuk mengalirkan air dari sumber air ke Desa Tengatiba. Akan tetapi, lanjutnya, jaringan perpipaan dan bak penampung air tidak berfungsi lagi dan telah lama rusak.

Menyikapi hal tersebut di atas, Forum Pemuda Nagekeo mendesak DPRD dan Pemerintah Daerah agar segera menganggarkan pembangunan jaringan perpipaan, bak penampung air, serta fasilitas lainnya demi mengatasi krisis air di Desa Tengatiba. “Tentu perlu perencanaan dan  kajian teknis sehingga bermanfaat jangka panjang,” harap Urbanus.

Ia menambahkan bahwa tidak hanya di Desa Tengatiba, Forum Pemuda Nagekeo juga mendesak Pemerintah Daerah Nagekeo untuk mengidentifikasi desa-desa yang mengalami krisis air bersih.

Apabila Pemerintah Daerah Nagekeo tidak mampu mengatasi krisis air besih di Desa Tengatiba dalam tempo jangka menengah dan jangka panjang, sebagaimana diuraikan di atas, Forum Pemuda Nagekeo menilai Pemerintah Daerah Nagekeo di bawah kepemimpinan dr. Johanes Don Bosco Do dinilai gagal menyejahterakan masyrakatnya.

“Jika tuntutan dan desakan tidak diindahkan oleh Pemerintah Daerah dan DPRD Nagekeo, Forum Pemuda Nagekeo akan melakukan demonstrasi besar-besaran
bersama elemen mahasiswa dan pemuda  Nagekeo,” tegas pemuda kelahiran Desa Tengatiba itu.

Rencanannya, Forum Pemuda Nagekeo akan menyurati Gubernur NTT Viktor Laiskodat untuk menyampaikan aspirasi berdasarkan data dan fakta soal krisis air bersih di Kabupaten Nagekeo. (EB/SL/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan