oleh

Hanya Alasan Kecewa, Tenaga Kerja Asing Di Kupang Pecat Dua Karyawannya.

RADARNTT, Kupang – Lucy Chang seorang Tenaga Kerja Asing (TKA) berkebangsaan China-Tiongkok menjabat sebagai Direktur PT. Ice Maju Bersama Kupang secara lisan memecat Yafret Oja dan Elisa Masae pada Tanggal 6 Maret 2019 lantaran kecewa sejak lama.

“Kemarin adalah titik puncak kekecewaan saya, sedikit demi sedikit kemudian bertumpuk lalu puncaknya adalah kemarin kekecewaan perusahaan. Tidak ada bos meminta karyawan yang baik keluar, mengerti? Demikian terang Lucy Chang dalam bahasa Mandarin yang diterjemahkan oleh Heny Setiawaty yang menjabat sebagai Branch Manager di kantor PT. Ice Maju Bersama, Jalan Abraham Baitanu. No.55 x, kelurahan Penkase, Alak. Sebagaimana dikutip di dalam pengakuan Yafret Oja pada wartawan (Jumat, 08/03/2019).

Kepada RADARNTT, Yafret Oja mengatakan, “Saya di PHK secara sepihak dengan alasan katanya kecewa, katanya sudah ditampung lama dan puncaknya Tanggal 6 Maret 2019. Dari awal kesepakatan driver luar kota tanpa tanpa target.” Hal tersebut sebagaimana termaktub dalam surat pengangkatan No. 04/ HRD-IMB/VII/2018 yang ditandatangani oleh Heny Setiawaty pada Tanggal 1 Agustus 2018 yang dalam putusannya mengangkat Yafret Oja sebagai Driver (sopir) luar kota dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pendistribusian produk es cream di area tersebut dan benefit yang diberikan yakni kenaikan gaji pokok menjadi Rp. 2.000.000.-

Perincian penilaian kinerja kerja driver (sopir) luar kota khususnya yang berkaitan dengan standar penilaian yakni 1. Mendelivery barang ke luar kota atau luar pulau, 2. Mendelivery barang dalam kota saat tidak ada delivery ke luar kota, 3. Mengisi rute pengiriman setiap hari dan mengigatkan saat dokumen mobil expired. Namun, sesaat setelah di PHK secara lisan, pihak perusahaan kemudian menetapkan kepadanya target kunjungan per/hari sebanyak 30 outlet di area kota untuk dipenuhi.

Ia menegaskan, yang menjadi ruang lingkup tanggung jawabnya lebih difokuskan pada pengiriman es cream keluar kota dan pulau.

“Jika tidak ada rute pengiriman keluar kota maka ia hanya diminta membantu sopir dalam kota untuk mendelivery barang dengan atau tanpa diberikan target berapa jumlah outlet yang harus dikunjungi dan berapa banyak box es cream yang harus terjual,” tukasnya.

Setelah dipecat secara lisan, pihak perusahaan memberikan 2 pilihan padanya yakni menandatangani surat pengunduran diri dengan imbalan uang perpisahan sebesar Rp. 1.000.000.-. Apabila ia menolak untuk menandatangani surat pengunduran diri maka pihak perusahaaan akan memberikan surat peringatan 3 (SP 3) dan seandainya SP 3 tersebut diterbitkan, maka otomatis pihak perusahaan sama sekali tidak akan memberikan uang perpisahan. dan opsi yang ke dua, apabila ia ingin melanjutkan proses ini melalui jalur apa saja, pihak perusahaan siap untuk melayani.

Melalui pesan WhatsApp dari Novi yang menjabat sebagai admin, pada Tanggal 11 Maret ia (Yafret Oja) diberikan surat pemutusan hubungan kerja (PHK). Dalam surat PHK yang tertuang dalam No. 027/ HRD-IMB/III/ 2019, alasan pemutusan hubungan kerja (PHK) disebabkan karena tidak ada peningkatan dan perbaikan dari segi kedisiplinan serta tanggung jawab pekerjaan. Mirisnya, PHK lisan disampaikan langsung oleh Lucy Chang tetapi surat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ditandatangani oleh Heny Setiawaty.

Untuk diketahui pada Hari Kamis Tanggal 14 Maret 2019, Yafred Oja telah mengadukan permasalahan yang ia hadapi ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT. (VH/SET/RN)

Komentar