oleh

Hujan Prestasi Di SDI RSS Oesapa Kota Kupang

Foto : Rosalin Toy, S. Pd Kepala Sekolah SDI RSS Oesapa Kota Kupang

RADARNTT, Kupang – Saya dilantik pada Tanggal 12 Febuari 2019, kemudian kami mengikuti perlombaan tarian daerah, dari sekian ratus sekolah peserta, SD kami meraih juara 1 Umum Kota Kupang. Seluruh aksesoris dan pakaian budaya asli sehingga betul betul juara bukan karena dikasih kasih. Karena syarat yang diminta juri dan petunjuk teknis saya ikuti semua, sehingga kita juara mendapat piala dan uang tunai 10 Juta. Satu bulan kemudian kita mengikuti lomba paduan suara dan meraih juara V mendapat piala dan uang tunai 5 juta rupiah.

Hal ini diungkapkan Kepala Sekolah SDI RSS Oesapa Rosalin Toy, S.Pd kepada RADARNTT diruang kerjanya (Kamis, 04/07/2019).

Bukan hanya itu pada Perlombaan O2SN SDI RSS Oesapa meraih juara II seKota Kupang untuk bidang olahraga, menurut Rosalin hadiah akan diberikan pada Bulan Agustus ini. Kemudian pihaknya menyabet Juara VI nilai USBN seKota Kupang dan Juara I Nilai tertinggi USBN seKecamatan Kelapa Lima.

“Saking juaranya banyak maka saya diberi penghargaan yakni penerima seragam untuk siswa siswi pertama dari pemkot kupang. Saat siswa masuk sekolah pasca libur ini kita bagikan untuk murid kelas 1 – 5,” tukasnya.

Rosalin mengemukakan, “Di sekolah ini atensi orang murid cukup baik, setiap ada kegiatan siswa mereka melibatkan diri seperti pada perlombaan tarian dan paduan suara mereka turun tangan. Contohnya orang tua murid berinisiatif membantu menyumbang makanan kepada siswa dan guru pendamping saat mengikuti lomba di GOR. sesuatu yang disampaikan secara baik pasti akan mendapat respon yang baik, itu yang saya lakukan di SDI ini.”

Lebih lanjut disampaikan, “Saya akan pertahankan prestasi ini dan berupaya meningkatkan lagi, pada bulan Juli ini kita titik beratkan peningkatan mutu pendidikan. Kita akan bekerja keras, untuk peningkatan mutu pendidikan perangkat pembelajaran guru harus lengkap. Saya disini harus sinkron dengan ketentuan dinas kota, kalau tidak ada perangkat pembelajaran dilarang masuk kelas. Untuk buku, prioritas K13 untuk setiap murid dan mereka harus dapat, kita tidak boleh mendahulukan buku referensi. Tahun ini kita akan melengkapi buku untuk kelas III dan VI, buku K13 itu nomor satu dan buku referensi itu nomor dua. Tidak boleh cari uang disekolah, kita disini untuk bekerja, kita hanya boleh mengambil yang menjadi hak kita selain itu tidak boleh. Jangan berpikir keuntungan ketimbang kebutuhan anak didik kita, siapa yang mau kerja lalu masuk penjara?”

Rosalin menambahkan, “Saya percaya orang tua murid mendukung kebijakan saya, untuk kedepan berdasarkan pengamatan persoalan murid kelas 1 sampai III semestinya dititikberatkan membaca, menulis dan berhitung, Ini kemampuan dasar. Sedangkan kelas IV sampai VI dititikberatkan soal pengetahuan, hal ini harus diketahui. Setelah saya mengidentifikasi berdasarkan laporan guru guru, saya sendiri akan menangani murid yang mengalami keterlambatan membaca, menulis dan berhitung. Kita harus keluar dari koridor persoalan ini, tidak boleh ada yang tidak tahu baca lagi, itu metode ada.”

“Saya dulu juara satu se-Indonesia bidang mengajar membaca di kelas I, untuk itu disini saya akan mengajar kelas I sampai III khusus yang belum bisa baca. Metode dulu yang dianggap kuno justru membuat banyak anak bisa cepat membaca, selain itu harus ada kartu huruf untuk mengenal huruf, kemudian merakit kata, jadi harus ada alat peraga. Kedepan itu skala prioritas untuk saya dan supervisi, kalau tidak supervisi kita tidak tahu kelemahan guru dimana. Kebanyakan kepala sekolah empat atau lima tahun tidak melakukan supervisi, sehingga kita tahu sejauh mana kemampuan guru. Dari supervisi kita tahu maju mundurnya mutu sekolah, kita mulai berangkat bekerja untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan,” ujarnya.

Rosalin mengungkapkan, “Guru guru disini sangat mendukung sampai sampai untuk mengerjakan 8 standar mereka tidak libur, kami kerja dari hari Idul Fitri hingga sekarang.” (TIM/SET/R-N)

Komentar