oleh

Indonesia Fokus Pendidikan dan Perkembangan Teknologi Kecerdasan Buatan

RADARNTT, Bandung – Penerapan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian menunjukkan peningkatan yang menjanjikan, didukung oleh studi IDC Asia Pacific Enterprise Cognitive/AI Survey pada Juli 2018, ditemukan bahwa tingkat adopsi AI di Asia tenggara mencapai 14%, naik sebesar 8% dari tahun sebelumnya. Untuk Indonesia sendiri, terdapat sebanyak 24,6% organisasi bisnis yang telah mengadopsi kecanggihan AI, menjadikan Indonesia sebagai negara yang terunggul dibandingkan negara-negara lainnya, seperti Thailand (17,1%) dan Singapura (9,9%).

Kebutuhan inovasi di bidang teknologi baik dari pemerintah maupun industri dalam proses percepatan dan efisiensi bisnis, mendorong kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang terampil di bidang pemrograman, adaptasi dalam kecanggihan teknologi, serta terampil dalam menciptakan teknologi baru, termasuk AI dari berbagai latar belakang industri.

Indonesia AI Forum, sebagai forum terbuka untuk membahas tren dan pengembangan teknologi AI, mengangkat tema yang bertujuan untuk memberikan pandangan mengenai tantangan dan potensi dari kurikulum, kompetensi, dan penyebaran pengetahuan terkait teknologi AI di Indonesia, bertempat di Bandung pada tanggal 12 Desember 2019. Pembahasan bertajuk “Penyelarasan Pendidikan dan Perkembangan Teknologi AI untuk menunjang Kemajuan Bangsa” ini menghadirkan beberapa ahli di bidangnya, yakni; Teguh Eko Budiarto (Chief Executive Officer of Prosa.ai), Dr. Eng. Ayu Purwarianti, S.T., M.T. (Chairman of AI Center ITB), Ir. Windy Gambetta, MBA (Ketua Satgas bidang Data Mining Kemenaker), dan Prasetya Dwicahya (Head of Data Science Indonesia).

“Lanskap Indonesia dalam bidang teknologi itu sebetulnya sudah cukup baik, kita berada ditengah-tengah dari ratusan negara lainnya. Memang tidak bisa dibandingkan dengan negara maju seperti Skandinavia, yang mana technology literacy dan numerical literacy index orang Indonesia yang berumur diatas 15 tahun itu sama dengan orang Norwegia yang berumur dibawah 15 tahun. Ini bisa menjadi PR utama baik dari pemerintah, swasta, akademisi maupun komunitas untuk meningkatkan kualitas talenta bidang teknologi di Indonesia.” jelas Prasetya Dwicahya selaku Head of Data Science Indonesia.

Berdasarkan data McKinsey and Company, setiap tahunnya Indonesia kekurangan sejumlah 600 ribu talenta digital, sedangkan pada tahun 2030, diprediksi kekurangan mencapai 9 juta ahli di bidang digital dan teknologi. Namun demikian, masih terdapat beberapa tantangan untuk Indonesia sendiri dalam mencetak SDM unggul yang berfokus pada ruang terbuka untuk berinovasi, menciptakan kurikulum dan standar kompetensi demi meningkatkan keterampilan di bidang teknologi, diantaranya ialah Big Data dan AI.

“Seharusnya, siswa/mahasiswa itu dilatih untuk memiliki self-curriculum. Sama seperti mahasiswa S-3, kurikulum yang diberikan untuk mereka itu sedikit sekali, namun mereka mampu untuk memiliki atau membuat target pencapaian masing-masing, baik dalam penelitian maupun skill. Itulah self-curriculum.” kata Teguh Eko Budiarto, Chief Executive Officer of Prosa.ai

Tantangan lainnya mengenai keseragaman pandangan terhadap bidang pekerjaan, dijelaskan oleh Ir. Windy Gambetta, MBA selaku Ketua Satgas bidang Data Mining Kemenaker bawah di Indonesiamasih  banyak sekali istilah yang belum baku. Termasuk salah satunya adalah istilah data science dan artificial intelligence, dimana merupakan dua bagian yang tidak terpisahkan, seharusnya pemaknaan keduanya terdapat unsur-unsur yang melingkupi, misalnya; seperti kompetensi untuk menjadi data scientist itu apa saja? Adapun acuan kompetensi yang perlu diperhatikan yakni; pengetahuan, skill atau keterampilan, dan sikap yang menunjukkan unsur lokal Indonesia baik itu budayanya, cara berbicaranya, dan lain sebagainya.

Dalam upaya untuk mempersiapkan Indonesia mendapat manfaat besar dari revolusi digital, untuk mempercepat kemajuan, baik pemerintah selaku sektor publik, industri, akademisi, dan juga komunitas saling berkolaborasi yang berfokus pada percepatan inovasi dan daya saing SDM unggul di bidang teknologi digital. Sebagai tambahan, Kominfo sejak 2018 memiliki program digital talent scholarship untuk anak SMK dan lulusan S-1. Tahun depan jumlah yang akan diterima sebanyak 50.000 orang. Hampir separuhnya mengambil fokus ke data science/artificial intelligence. Ada juga sebetulnya program lainnya, yaitu big data analytic dan cyber security. Hal demikian menunjukkan semakin meningginya ketertarikan tunas bangsa dalam mempelajari teknologi artificial intelligence.

Tentang Indonesia AI Forum:

Indonesia AI Forum adalah sebuah inisiatif yang berusaha mengumpulkan para pemangku kepentingan (stakeholders) dari industri teknologi kecerdasan buatan di Indonesia untuk melakukan dialog mengenai isu – isu yang penting bagi perkembangan teknologi kecerdasan buatan, melakukan upaya edukasi terhadap publik, dan berbagi informasi mengenai perkembangan terbaru dari teknologi kecerdasan buatan di Indonesia. Pada awal tahun 2019, inisiasi ini dilakukan oleh kedua perusahaan startup di industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), yakni Nodeflux, yang berfokus menyediakan produk di Vision AI dan Kata.ai, yang berfokus menyediakan produk berbasis AI untuk percakapan (conversational AI). (TIM/RN)

Komentar