oleh

JPU Hadirkan 5 Orang Saksi di Persidangan Penggiat Anti Korupsi Rote Ndao.

RADARNTT, Ba’a – Pengadilan Negeri Rote Ndao kembali menggelar sidang kedua kasus pengrusakan tiang penyangga pintu gerbang Kantor DPRD Rote Ndao (Selasa,19/02/2019).

Agenda sidang kali ini mendengarkan keterangan 5 orang saksi yang dihadirkan oleh pihak Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Rote Ndao yaitu Drs.Jonas M Selly, Elisama Nggonggoek, Musa Taher, SP., Yohanis M Nomor dan Lalu Haris Yudi Risnawan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Rote Ndao Drs.Jonas M Selly, MM dihadapan Majelis Hakim mengatakan, dirinya menerima laporan dari sekretaris DPRD Rote Ndao bahwa terjadi pengrusakan pintu gerbang DPRD oleh para pendemo, kemudian dirinya sebagai pengelola aset daerah melaporkan kasus tersebut ke Polres Rote Ndao untuk diproses hukum.

Salah satu saksi lainnya Elisama Nggonggoek menyebutkan, “Kejadian tersebut berawal dari adanya aksi damai untuk bertemu anggota DPRD Rote Ndao yang dipimpin oleh Yunus Panie, kemudian para pendemo berjalan menuju pintu gerbang DPRD dan mendorong-dorong sampai pintu roboh oleh karena tiang penyangganya patah.

Sedangkan saksi Musa Taher, SP menuturkan, “Kejadian tersebut berawal dari aksi unjuk rasa damai yang dipimpin tersakwa Yunus Panie didepan kantor DPRD Rote Ndao yang meminta bertemu dengan para anggota DPRD, kemudian berjalan menuju pintu gerbang gedung DPRD Rote Ndao namun pintu ditutup kemudian terdakwa Yunus Panie mendorong yang diikuti sejumlah orang tidak dikenal dan menyebabkan pintu tersebut roboh akibat ada patahan pada tiang penyangga.

“Pintu tersebut bisa di pakai kembali jika diperbaiki karena patahannya ada pada tiang penyanggah,” ungkapnya.

Dilanjutkan saksi Lalu Haris Yudi Risnawan (anggota Polres Rote Ndao) yang melakukan pengamanan di halaman Kantor DPRD Rote Ndao saat berlangsungnya aksi damai mengungkapkan, ketika terdakwa Yunus Panie sampai di depan pintu gerbang yang dalam keadaan yang tertutup kemudian Yunus Panie menggoyang dan mendorong lalu diikuti sejumlah orang kemudian pintu yang goyang patah di tiang penyangga.

Sesaat kemudian keterangan anggota Polres Rote Ndao Lalu Haris Yudi Risnawan mendapat bantahan dari terdakwa Olifer Lette bahwa saat dirinya mendorong pintu tersebut saksi Lalu Haris Yudi Risnawan mengatakan “dorong kuat” kata Olifer Lete yang membantah keterangan Haris.

Dalam persidangan tersebut Majelis Hakim mengizinkan pihak Jaksa Penuntut Umum memutarkan Video rekaman pengrusakan pintu gerbang Gedung DPRD Rote Ndao tersebut.
Ada empat orang yang dihadirkan sebagai terdakwa yakni Yunus Panie, Silfon Lette, Mikson Dethan serta Olifer Lette. Perbuatan para terdakwa tersebut didakwa melanggar pasal 406 ayat (1) KUHP dan pasal 170 ayat (1) KUHP Juntho pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Usai persindangan Fransisco B Bessi selaku kuasa Hukum para terdakwa kepada wartawan menegaskan, “Saksi yang dihadirkan pada persidangan itu menjelaskan terjadinya peristiwa tersebut dan itu masih saksi yang dihadirkan pihak
JPU. Kuasa hukum terdakwa juga meminta para jurnalis untuk mengawal kasus yang menjerat para terdakwa sampai tuntas.”

“Sudah ada video yang ditayangkan dan kami juga punya video yang berdurasi lebih dari dua menit dan akan kita tayangkan, menariknya teman-teman kepolisian ikut menyuruh menggoyang dan soal benar tidak kita akan buktikan di persidangan berikut, kami minta rekan-rekan media mengawal sampai tuntas,” pinta Fransisco.

Sidang dipimpin Ketua Majelis Hakim Beaty D Simatauw, SH.,MH., dibantu dua hakim anggota yakni Rosihan Lutfhi, SH dan Abdi Ramahsyah, SH panitera pengganti Febriyanti M Jehalu, SH. Dari pihak Kejaksaan Negeri Rote Ndao hadir JPU Nikodemus Damanik dan Frengky.

Para Terdakwa didamping ketua Tim Kuasa Hukum Fransisco Bernando Bessi,SH.,MH.,
sidang kembali digelar pada Hari Selasa Tanggal 26 Februari 2019. (TONY ADANG/SET/RN)

Komentar