oleh

Kisah Nelayan Alor Jinakan Dugong

RADARNTT, Kalabahi – Dugong atau Duyung merupakan satwa mamalia laut pemakan tumbuh-tumbuhan atau herbivora yang memiliki sifat dasar liar, namun sering muncul di permukaan air laut untuk menghirup udara dan berada di perairan dangkal tempat banyak tanaman rumput laut jenis lamun sebagai pakan alami.

Sifat itu turut membentuk perilaku unik seekor Dugong yang teridentifikasi berjenis kelamin jantan di perairan Mali Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang saat ini ramai dikunjungi orang dan menjadi salah satu destinasi wisata. Sudah dibuat acara bertaraf internasional, Festival Pemanggilan Dugong yang diprakarsai orang nomor satu NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat pemilik gagasan pariwisata sebagai prime mover pembangunan.

Menurut informasi yang dihimpun, Dugong di perairan Mali yang jinak saat ini, memiliki ruang gerak yang cukup luas. “Ruang geraknya mulai dari perairan pantai Paliboo sampai Pulau Sika”, tutur Adolf Samasing alias Kideng, mengisahkan proses menjinakkan Dugong sejak dua puluh tahun silam.

Adolf Samasing menceritakan kisah perjalanan hidup bersama Dugong, kepada radarntt.co mengatakan, “pada tahun 1995 saya menetap di Kampung Mali bersama keluarga (isteri dan anak-anak) dan beraktivitas sebagai nelayan (penyelam)”, kata dia. Selain sebagai penyelam, dia juga pendayung sampan/perahu kecil dan memancing cumi-cumi, aktivitasnya itu, kata dia, sangat membantu proses penjinakan awal.

Dua tahun berselang pada 1997, Adolf Samasing beralih kegiatan ke memancing ikan belo-belo, dalam menjalankan aktivitas memancing ikan belo-belo, kata dia, semua nelayan Kabola yang meliputi Paliboo, Mali dan Pantedeere bahkan nelayan dari Kadelang (Kalabahi), selalu datang memancing di laut Mali. “Dari kebersamaan kami yang penuh ceria dan sendagurau, ada nelayan dari Paliboo yang bercerita adanya Dugong (ikan Duyung) di Paliboo”, kata Adolf Samasing.

Mendengar cerita rekannya, dia sangat penasaran ingin tahu ihwal Dugong, karena menurut mitos, Dugong/Duyung mempunyai bentuk yang aneh yaitu bagian kepala sampai pusat seperti manusia sedangkan dari pusat ke ekor berbentuk seperti ikan. Rasa penasaran akhirnya terjawab dua tahun kemudian, pada 1999, Adolf Samasing melihat langsung Dugong dengan mata kepalanya dan awal penjinakan pun dimulai dari sini.

“Saya bertemu langsung dengan Dugong, saya lihat punggungnya sebesar kurang lebih 35 centi meter, panjang satu meter”, terangnya. Saat itu, kata Adolf Samasing, umur Dugong diperkirakan 30-35 tahun dan berenang di kedalaman 3 meter pada malam hari saat bulan purnama. Dugong mulai mengikuti perahu miliknya di malam hari, dengan jarak 3-5 meter. Seiring waktu berjalan, Dugong mulai muncul di siang hari, di saat teduh 3 atau 4 bulan sekali muncul.

Dia juga mengatakan pernah ada orang barat (bule), Mr. Thomas datang dengan perahu motor pesiar pribadinya pada tahun 2004 untuk melihat Dugong dan snorkeling atau menyelam di perairan Mali.

“Dan pada tahun 2007 saya melihat berita di TV dan saya selalu menonton berita-berita yang salah satunya adalah nangka berbuah pisang, saya lihat banyak orang yang datang untuk menyaksikan kejadian itu”, kata Adolf Samasing.

Menonton peristiwa-peristiwa aneh di televisi mengispirasi dirinya untuk menjinakkan Dugong, ia membayangkan jika berhasil suatu saat bisa menjadi hal yang menarik untuk dikunjungi seperti hal yang ditontonnya di televisi.

Memasuki tahun 2007, Adolf Samasing beralih dari kegiatan memancing ke menjaring atau menjala ikan. “Setiap kali melaut, saya selalu lewat di lokasi Dugong pada malam maupun siang hari selama dua tahun”, kata dia. Saat itu, Dugong mulai mengikuti perahunya dan saat bulan purnama jarak Dugong sangat dekat perahu dengan jarak sekitar setengah sampai satu meter.

Sedangkan pada siang hari Dugong mulai muncul setiap hari, dengan jarak sekitar 30-40 meter bisa melihat Dugong sedang asyik bermain dengan penyu (kura-kura). Namun, kata dia, saat itu belum bisa melihat Dugong secara utuh di siang hari.

Pada tahun 2009 ada pengunjung orang bule datang dihantar Pengurus Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Mali Indah, Benyamin Asamau dan kawan-kawan untuk melihat Dugong, tetapi saat itu mereka tidak menemukan Dugong, “jadi saya katakan kenapa tidak tanya-taya kita, saya juga menanyakan berapa tarif, jawab mereka Rp. 500.000,- dan hal ini memberi semangat bagi saya untuk mencari informasi tambahan”, kata Adolf Samasing.

Adolf Samasing berasal dari Pura-Ternate sebuah pulau kecil tak jauh dari lokasi itu, yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, dia pergi ke kampungnya untuk mencari tahu ihwal Dugong dan bagaimana cara menjinakkannya.

“Jadi saya ke kampung untuk menghimpun informasi dari orang saya yang pernah melihat Dugong, informasi-informasi sudah saya dapatkan tetapi yang menjadi tantangan dalam proses penjinakan adalah mengganggu kebutuhan saya sebagai nelayan”, tuturnya.

Menurut informasi yang diperolehnya, belum ada orang melakukan penjinakan Dugong, sehingga menjadi hal baru dan tantang tersendiri bagi dirinya.

Upaya penjinakan pun terus dilakukannya hingga tahun 2015, kala itu bulan September dia melihat seorang nelayan dari Binongko (Kalabahi) membawa jaring ikan halus untuk menjaring ikan di perairan Mali, “saya melihat jaring ini baik dan sangat baik juga kalau saya miliki berarti proses penjinakan ikan Dugong (Duyung) pun berjalan lancar”, tutur Adolf Samasing.

Baru di tahun 2016 dia memiliki jaring atau pukat ikan halus, yang dibelinya dari uang hasil menyelam ikan. Karena di lokasi itu banyak ikan halus, sembari menjaring ikan halus Adolf Samasing juga terus berusaha menjinakkan Dugong. Membutuhkan waktu kurang lebih 3 bulan, dia berhasil menjinakkan dan Dugong mulai menghampiri dirinya. “Dugong menghampiri saya dengan jarak 3 meter di belakang saya, saat saya merasa ada sesuatu menghampiri dan saat saya melihatnya saya ketakutan sekali karena besarnya dan saya berada di dasar laut”, kata Adolf Samasing.

Saat Dugong muncul, saya membuat sinyal dengan cara membunyikan mulut dan melambai-lambaikan tangan, cara ini dilakukan selama dua minggu dan berhasil, Dugong pun semakin mendekat dengan jarak hanya 0,5 meter. Tanda awal Dugong menjadi jinak yakni selalu mengikuti semua gerakan-gerakan yang saya ajarkan selama tiga bulan, namun setelah berjalan 10 bulan tidak hanya menunjukkan sifat semakin akrab dengan manusia tetapi Dugong juga mulai menampakkan sifat aslinya, sehingga dia tidak dapat mengendalikannya.

“Jadi upaya saya menjadi pawang Dugong terhenti, tetapi kalau Dugong tidak ada di lokasi kita dapat mencarinya di lokasi yang sering dia kunjungi dan ke lokasinya dan sampai sekarang Dugong lebih senang dengan perahu yang bergerak. Ini yang bisa saya ceritakan sejelasnya yang saya ketahui”, tandas Adolf Samasing.

Semenjak tahun 2017, Adolf Samasing fokus menjalankan kegiatan utama sebagai nelayan mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, dalam menjalankan usaha itu dia selalu berpapasan dan akrab bersama Dugong hingga saat ini. Pada saat tertentu, ketika ada tamu pengunjung yang ingin melihat Dugong, yang dihantar oleh temannya Onesimus Laa sebagai pengelola Pulau Sika itu, sering meminta bantuan dirinya untuk memandu memanggil Dugong menggunakan perahu kecil.

Dia mengharapkan dengan adanya Festival Pemanggilan Dugong yang digelar tahun ini, semoga memberikan manfaat dan dampak positif bagi semua nelayan di wilayah itu. Pengelolaan pariwisata Dugong melibatkan nelayan dan masyarakat di kawasan itu untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan. “Semua nelayan perlu menikmati, saya kuatir jangan sampai usaha pariwisata ini hanya dikuasi oleh satu orang saja”, pungkas Adolf Samasing via selulernya, Senin (12/8/2019) siang.

Dugong telah ditetapkan sebagai satwa laut dilindungi dengan Undang-Undang Nomor 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dan Undang-Undang Nomor 31/2004 tentang Perikanan, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah memasukan Dugong sebagai satu dari 20 spesies prioritas.

Dugong pernah punah di tahun 1999, namun Yayasan Rare Aquatic Species Indonesia (RASI) menemukan Dugong di Teluk Balikpapan tahun 2000. Ancaman terhdapat Dugong seperti tertangkapnya tidak sengaja oleh alat tangkap perikanan (bycatch) dan perburuan masif untuk pemanfaatan daging, taring dan air matanya yang disinyalir memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. (YL/TIM/RN)

 

Ket. Foto : Adolf Samasing di atas Sampan dan Dugong

Komentar