oleh

Langoday : Ahok Tahu Benar Siklus Bisnis di Bidang Peternakan

RADARNTT, Kupang – Sumber hidup ternak adalah air dan pakan termasuk salah satunya adalah jagung. Jika ingin ternak berkembang dalam jumlah banyak dan dalam siklus yang berkepanjangan maka pakan juga harus tersedia dalam stok yang banyak dan dalam siklus yang berkepanjangan sesuai dengan jumlah dan siklus ketersediaan ternak.

Demikain kata Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday, menjawab radarntt.co, Rabu, (31/7/2019) via seluler terkait rencana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang akan membangun pabrik pakan ternak di NTT, yang akan dimulai dengan pengembangan budidaya jagung di lahan seluas lima ribu hektare.

“Salah satu sumber dasar pakan ternak adalah jagung”, kata Langoday. Tanaman jagung sangat cocok dikembangkan di NTT karena tersedia lahan kosong yang luas, sehingga bisa dikembangkan dalam skala besar untuk industri pakan ternak.

Mantan Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Widya Mandira Kupang ini mengatakan, jagung harus tersedia dalam stok yang berkecukupan jika ingin pakan ternak tersedia dalam jumlah yang berkecukupan. Pakan ternak yang berkecukupan akan menjamin keberlangsungan hidup dan jumlah ternak dalam siklus yang panjang.

“Inilah kecerdasan Ahok membangun bisnis peternakan, bukan dimulai dari ternaknya, tetapi dimulai dari menyiapkan pakan yang berkecukupan untuk kebutuhan ternak yang berkecukupan”, terang Langoday.

Menurut Langoday, Ahok tidak saja membangun bisnis pakan ternak tetapi lebih dari itu dia sedang membangun bisnis peternakan skala besar di NTT, dengan langkah awal memulai dari penyediaan bahan pakan ternak dari jagung.

Sehingga pengembangan jagung akan mensuplai bahan baku pakan ternak babi yang sangat potensial di NTT, dan untuk ternak jenis unggas dan lain-lain.

Menurut Data Dinas Peternakan Provinsi NTT, seperti dilansir beritasatu.com, pada 2017, jumlah populasi babi di NTT mencapai 1,8 juta ekor dan pada 2018 mencapai 2 juta ekor. Jumlah ternak babi NTT terus meningkat setiap tahun, mencakupi 23% dari total populasi babi di Indonesia.

Populasi tinggi tetapi produktivitas rendah maka daging yang dihasilkan pun sangat sedikit. Ini yang menyebabkan budidaya atau beternak babi belum masuk skala ekonomi.

Produktivitas ternak babi di NTT berkisar antara 0,1-0,3 kilogram (kg) per hari. Idealnya, harus mencapai 1 kg per hari untuk pertumbuhan setiap ekor babi unggul. “Ketimpangannya masih sangat jauh antara 0,7-0,9 kg yang seharusnya bisa menjadi potensi pendapatan bagi peternak babi.

Untuk meningkatkan produktivitas babi maka asupan pakan yang kaya vitamin dan protein menjadi perhatian penting dalam mengembangkan usaha tersebut.

Seperti diketahui, komoditas babi sangat penting bagi rumah tangga di NTT. Saat ini, tercatat sekitar 900.000 rumah tangga terlibat dalam peternakan babi. (TIM/RN)

Komentar