oleh

Larantuka Terancam Banjir dan Longsor Pasca Kebakaran Ile Mandiri

RADARNTT, Larantuka – Kebakaran hutan dan lahan di Gunung Ile Mandiri Kabupaten Flores Timur berpotensi menimbulkan banjir dan tanah longsor melanda Larantuka, saat musim penghujan akibat lahan gundul dan kondisi kemiringan lereng diatas 40 derajat.

Banjir dan tanah longsor diakibatkan lahan gundul, kondisi topografi kemiringan lereng diatas 40 derajat dan panjang lereng yang terbentang dari timur ke barat mencapai puncak gunung. Kemiringan lereng mempengaruhi erosi melalui runoff atau laju aliran air permukaan saat air hujan menghantam tanah dan bebatuan pada dinding lereng.

Pemerintah menghimbau masyarakat agar waspada dan menghindari titik lokasi rawan banjir dan longsor. Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sedang melakukan identifikasi dan analisa dampak kebakaran dan pemetaan titik lokasi rawan banjir dan longsor.

Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Flores Timur, Soni Langkamau mengatakan pihaknya sudah melokalisir api agar tidak meluas ke luar, kearah timur, barat dan utara. Saat ini masih terlihat titik api dan asap itu dari kayu besar yang masih terbakar.

“Setelah memastikan semua titik api sudah dipadamkan hari ini berkat kerja sama dan dukungan berbagai pihak. Kita mulai mengidentifikasi dan mendata dampak ikutan pasca kebakaran,” kata Langkamau via seluler, Jumat (20/9/2019) malam.

Menurut dia potensi banjir dan longsor cukup tinggi karena lahan gundul dan batu-batu besar di lereng gunung banyak yang tergantung tanpa penahan karena pohon dan kayu sudah habis terbakar api. Untuk mengantisipasi ancaman banjir dan lonsor, pihaknya sedang berkoordinasi dengan BPBD, KLH dan instansi teknis lainnya untuk menyusun langkah strategis secara terpadu menghadapi musim hujan yang tinggal tiga bulan lagi.

“Kita butuh dukungan semua pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman banjir dan longsor saat musim hujan,” ujar Langkamau.

Dia menyebutkan titik lokasi yang mengalami kebakaran terparah berada di atas Kelurahan Puken Tobi Wangi Bao, Ekasapta, Amagarapati, Postoh, Lokea dan Lohayong. Enam kelurahan ini bakal terdampak banjir dan longsor karena berada di jalur air hujan yang terbagi dalam parit saluran pembuagan air.

Sebelumnya, Wakil Bupati Flores Timur Agus Payong Boli mengatakan kebakaran yang terjadi di Gunung Ile Mandiri, berpotensi menimbulkan banjir bandang di Kota Larantuka pada musim hujan mendatang.

“Pasukan pemadam kebakaran gabungan ASN, TNI dan Polri dibantu masyarakat sudah berhasil memadamkan api, tetapi peristiwa kebakaran ini, tidak bisa dianggap sepele karena bisa berdampak pada longsor, dan banjir pada musim hujan mendatang,” kata Agus Boli menjawab  ANTARA seputar perkembangan penanganan kebakaran di Gunungg Ile Mandiri, Rabu (18/9/2019).

“Saya bersama pasukan pemadam kebakaran yang berjumlah ratusan orang masih berada di puncak gunung Ile Mandiri. Kami baru selesai melakukan pemadaman titik api,” katanya melalui sambungan telepon.

Menurut Agus Boli, kebakaran ini tidak saja berdampak buruk pada kerusakan habitat hutan, perkebunan rusak dan gunung menjadi gundul. Tetapi lebih dari itu, kata dia, perlu waspada siaga satu dalam tiga bulan ke depan pada saat musim barat, karena potensi longsor dan banjir bandang dapat saja melanda Kota Larantuka.

“Seluruh masyarakat harus siaga pada saat musim hujan mendatang, karena kita semua tentu tidak ingin peristiwa kelam pada 27 Februari 1979, dan tahun 2003 silam yang begitu banyak menelan korban harta benda maupun nyawa manusia terulang,” katanya.

Kota Larantuka merupakan kota pantai yang terletak langsung di lereng dan kaki Gunung Ile Mandiri karena itu rentan terhadap banjir dan longsor.

“Potensi banjir bandang dan Longsornya besar karena dengan kebakaran ini, hutan di puncak sudah terbakar dan menjadi gundul sehingga air hujan dan banjir bisa terjang kota ini kapan saja,” kata Agus Boli. (TIM/RN)

Komentar