oleh

Liga Mahasiswa NasDem NTT : ‘Sophia’, Potensi Ekonomi Berbasis Lokal

RADARNTT, Kupang – Produk minuman beralkohol Sophia diluncurkan pada Rabu, 19 Juni 2019 di Lab Biosains Universitas Nusa Cendana (Undana) atas kerjasama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Undana dan PT. NAM Kupang, menjadi hal yang masih diperbincangkan sampai saat ini berkaitan dengan baik atau buruk dari produk itu.

Ketua Liga Mahasiswa NasDem Komite Wilayah Provinsi NTT, Yoan B. W. Niron, S.KM yang baru saja terpilih lewat MUSWIL Januari kemarin, ikut menyampaikan pendapat ke media ini, Senin, (8/7/2019).

Menurut Niron, sejauh ini inovasi yang dilakukan oleh Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat sudahlah tepat, dikarenakan akan sangat membantu para pembuat sopi ditingkat masyarakat desa untuk diberdayakan dan hal ini tentunya kami sangat mendukung.

“Masalah selama ini kita hanya mempersoalkan dampak buruk tanpa melihat ini sebagai suatu potensi ekonomi yang bisa dikembangkan dimasyarakat. Jika yang dilihat ialah faktor dampak buruk dari konsumsi sophia,  saya pikir itu penilaian yang terlalu normatif. Kita hanya butuh membuat sebuah kebijakan yang tepat untuk mendorong progam ini menjadi sesuatu nilai yang baik dalam pola kehidupan bermasyarakat sehingga lambat laun perilaku sosial masyarakat pun bisa disesuaikan”, tegasnya.

Lebih lanjut Yoan Niron juga mengatakan kalau kita mencermati baik-baik, dengan potensi desa di daerah Flores, Lembata, Sumba, Timor, Sabu, Rote dan Alor dengan 3.000 desa yang memiliki potensi alam dan budaya menyadap nira lontar dan nira aren, dan penyulingan sopi atau moke, yang bisa dikembangkan melalui BumDes (Badan Usaha Milik Desa) setempat.

“Desa bisa membentuk kelompok-kelompok pembuat minuman ini, lalu diberdayakan setelah itu desa serius untuk melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah provinsi, selain daripada itu ada bentuk pemberdayaan lain yang bisa memberikan sosialisasi pemahaman kepada kelompok di desa tersebut berupa penggunaan alat masak sopi yang steril (bersih), dengan begitu kebersihan minuman ini terkontrol sesuai standar dan pemberdayaan dalam manajemen pemasarannya”, tandasnya.

Kalau persoalan standarisasi pelabelan, kata Niron, yang utamanya ialah faktor kesehatan saat mengkonsumsi minuman sophia. Tentunya laboratorium terkait pastinya telah melewati proses pertimbangan yang terstandar. Sehingga, lanjutnya, sudah melakukan standarisasi kandungan alkohol dan pemilahan kandungan zat yang berbahaya didalam minuman itu sendiri.

Sementara itu, saat dikonfrimasi, Forum BumDes Provinsi NTT, Eka Y. Alimansyah mengatakan bahwa “minuman Sophia ini sudah pas mengangkat potensi lokal yang sudah lama menjadi kekayaan alam dan budaya di Nusa Tenggara Timur, langkah selanjutnya ialah dimana pihak-pihak terkait bisa membuat kebijakan atau peraturan terkait minuman ini. Saya setuju ada nilai lokal yang diberdayakan, kita tahu bersama ada amanat UU Desa No. 6 Tahun 2014 yang dimana desa secara harfiah mampu melakukan inovasi salah satu bidangnya ialah potensi ekonomi lokal masyarakatnya”, ungkapnya.

Menurut Alimansyah, saat ini kebanyakan BumDes di NTT masih bergelut dibidang usaha layanan jasa dan sewa barang saja, jika ini dikelola dengan baik, dimana BumDes bisa jadi pintu masuk atau menjadi jembatan untuk diakomodirnya ke pihak pengelola di provinsi sehingga dapat menyediakan logistik minuman ini.

“Tinggal ada kerjasama yang baik saja antara pemerintah provinsi dan pihak terkait kepada desa atau kelompok-kelompok pembuat minuman khas ini. NTT pasti bisa lebih maju lagi dan kami pikir masih banyak potensi lokal lainnya yang bisa dikembangkan di desa untuk menjadi sumber ekonomi dan pendapatan masyarakat”, ujarnya. (Agsto/RN)

Komentar