oleh

Manajemen RS Mamami Apresiasi Pemprov NTT Bangun Pabrik Pengolahan Limbah B3

RADARNTT, Kupang – Satuan Pengawas Internal Rumah Sakit (RS) Mamami Kota Kupang, Bobby Damanik sangat mengapresiasi rencana pemerintah provinsi (Pemprov) NTT membangun pabrik pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Kota Kupang dan beberapa Kota lainnya.

“Kita mengapresiasi rencana pemerintah membangun pabrik pengolahan limbah B3, yang selama ini dihasilkan rumah sakit dan klinik pengobatan. Selama ini kita kerja sama dengan PT. Semen Kupang, sekarang dengan RS Boromeus”, terang Bobby Damanik, kepada radarntt.co, Sabtu, (20/7/2019).

Mengingat semakin meningkatnya jumlah penyedia fasilitas kesehatan di Kota Kupang, kata Bobby Damanik, tentu akan menghasilkan limbah yang semakin besar ke depannya. Sehingga perlu ada strategi penanganan limbah B3 yang terpadu dan terintegrasi.

“Saya menilai pemprov perlu membangun pabrik, tapi bukan hanya sekedar membangun, tapi juga harus berjalan”, tegas Bobby Damanik.

Dia berharap agar niat baik pemerintah membangun pabrik pengolahan limbah B3 perlu didukung oleh semua pihak. Namun, tegasnya, tidak sekedar membangun tetapi harus terus beroperasi. Karena, kata Bobby Damanik, ada pengalaman banyak fasilitas yang dibangun pemerintah menggunakan uang rakyat tetapi tidak difungsikan secara optimal dan mubasir.

Menurut data yang dirilis Dinas Lingkungan Hidup Provinsi NTT per Jumat, (11/1/2019). Limbah B3 yang dihasilkan rumah sakit di Kota Kupang mencapai 83 ton lebih, yang merupakan akumulasi selama Januari-September 2018 yang sampai kini belum tertangani secara baik.

Dilansir Pos-Kupang.com, Selasa, (15/1/2019), bahwa limbah B3 yang dihasilkan sepuluh rumah sakit pemerintah dan swasta di Kota Kupang mencapai 83 ton lebih. Jumlahnya terus bertambah sehingga terjadi penumpukan. Pengolalaan sampah medis kering ini tidak dilakukan secara baik lantaran tidak semua rumah sakit memiliki insinerator.

Rumah sakit terbanyak yang memproduksi limbah adalah RSUD Prof. Dr. WZ. Johannes Kupang mencapai 26.112,0 Kg atau 26 ton lebih. Kemudian disusul Rumah Sakit SK Lerik sebanyak 19 ton dan Rumah Sakit Tentara (RST) Wira Sakti Kupang dengan 10 ton lebih.

Sementara Rumah Sakit Sint. Carolus Boromeus dan Rumah Sakit TNI Angkatan Udara (AU) El Tari mampu mengolah limbah B3 karena punya insinerator atau alat pembakar sampah medis.

Limbah B3 adalah zat atau bahan-bahan lain yang dapat membahayakan kesehatan atau kelangsungan hidup manusia, makhluk lain, dan atau lingkungan hidup. Karena sifat-sifatnya itu, bahan berbahaya dan beracun serta limbahnya memerlukan penanganan yang khusus. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan