oleh

Marak Pembabatan Liar Hutan Adat Resahkan Warga Desa Kotafoun

-News-430 views

RADARNTT, Kefamenanu — Maraknya pembabatan liar hutan adat oleh oknum tidak bertanggung jawab sangat meresahkan masyarakat Desa Kotafoun Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara.

Tindakan liar ini terjadi di 2 lokasi yakni Wehudi dan Weain, dilakukan oleh oknum atas nama Wandelinus Moruk, Efodius Taek, Kasmir Tnesi, Maria Goreti Lotuk dan Marsel Moruk.

Sikap oknum tersebut memicu masyarakat menuntut keadilan hak adat atas tanah beserta isinya yang selama ini mereka lindungi. “Kami sudah lakukan pertemuan dengan pemerintah Provinsi dan pihak Polda NTT serta sudah lakukan komunikasi dengan dinas-dinas terkait untuk mengawal masalah ini”, ungkap Dominikus Fahik salah satu perwakilan yang ditemui di Kupang, Rabu, (4/9/2019).

Dominikus Fahik menjelaskan lahan yang dibabat berada di 2 lokasi dengan luasan mencapai 5 hektare dan pembabatan dilakukan di lokasi yang dijaga turun temurun. Aksi pembabatan liar ini sudah dilaporkan ke Kepala Desa Kotafoun dan sudah ada penyelesaiannya, namun hasil keputusan di tingkat desa diabaikan oleh oknum pelaku tersebut.

“Para oknum ini tidak mau ambil pusing untuk mematuhi hasil keputusan dari pemerintah desa, malah kami ditantang untuk menempuh jalur hukum ke kepolisian”, kata Dominikus Fahik.

Melalui surat pelimpahan masalah yang dikeluarkan oleh kepala desa, terang Dominikus Fahik, pihaknya langsung melapor ke Kepolisian Sektor Biboki Anleu, namun laporan yang disampaikan tidak ditanggapi serius oleh pihak kepolisian setempat.

“Kami laporkan ke Polsek Biboki Anleu tapi tidak dibuatkan surat tanda terima laporan, malah kami dipertemukan untuk di mediasi dan langsung diputuskan oleh pihak polsek bahwa status tanah tidak jelas”, kata Dominikus Fahik.

Padahal, jelas dia, yang dilaporkan oleh pihaknya ke kepolisian bukan persoalan tanah tetapi yang dilaporkan adalah persoalan pembabatan liar oleh oknum tak bertanggung jawab di lokasi hutan adat.

“Kami laporkan pembalakan liar di lokasi hutan adat yang di dalamnya terdapat kuburan tua, mata air dan tempat-tempat ritual”, ujar Dominikus Fahik

Pada tempat yang sama, Roger A. Berek salah satu perwakilan juga membenarkan hal tersebut. Ia mengisahkan bahwa para pelaku aksi pembalakan liar tersebut merupakan penduduk baru di Desa Kotafoun.

“Hutan yang sudah kami jaga turun temurun dari nenek moyang langsung mereka rusaki, padahal mereka baru tinggal di kampung ini sekitar tahun 1983”, kata Roger.

Roger mengharapkan perhatian penuh dari pihak pemerintah Provinsi, Polda NTT dan dinas-dinas terkait agar masalah ini cepat terselesaikan. “Ini pengrusakan lingkungan, jadi kita harapkan ada perhatian serius pemerintah atas masalah ini”, tegasnya. (ND/RN)

Komentar