oleh

Massa Cipayung Plus Minta Pemeriksaan Kasus Perbudakan Sex Dilanjutkan Tanpa Menunggu Tes DNA

Foto: Suasana Dialog Ditreskrimum Polda NTT Dengan kelompok Cipayung Plus  di Ruang Gelar Kriminal Umum (22/07/2019)

RADARNTT, Kupang – Perbudakan sex terhadap anak di bawah umur menjadi topik penting dalam aksi massa Cipayung Plus disusul dialog dengan Kompol Alexander Aplungi, Kabag Pengawasan Dan Penyidikan Kriminal Umum Polda NTT didampingi Iptu Nuri di Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak di ruang gelar Ditreskrimum Polda NTT pada (Senin, 22/7/2019).

Ferdinand Umbu Tay H, Ketua GMKI, salah satu Perwakilan Cipayung Plus mengatakan, “Korban merupakan warga Kecamatan Sulamu yang pada tahun 2014  saat berusia 11 tahun dan berstatus sebagai siswi sekolah dasar dipaksa untuk melayani seorang kakek berinisial ZA untuk dijadikan budak sex.”

Lebih lanjut dikatakan, pada Bulan Februari ia berhasil melarikan diri dari rumah dalam keadaan hamil dengan usia kandungan mencapai 8 bulan kini sementara dititipkan di Dinas Sosial Kabupaten Kupang.

Setelah korban melarikan diri dari rumah, ia meminta tolong di Rumah Perempuan, kemudian difasilitasi oleh Rumah Perempuan untuk membuat laporan pengaduan ke Polres Babau. Sejak Bulan Februari pasca pengaduan, pihak Polres Babau tidak melakukan pemanggilan kepada seluruh saksi yang disebutkan korban dalam hal ini om, tante dan kakak kandung korban hingga detik ini.

Pihak korban merasa tidak percaya lagi terhadap kinerja polisi Di Polres Kupang karena tidak mendapat keadilan setelah sekian bulan sampai saat ini kasus tersebut didiamkan oleh Polres Kupang. Oleh karena itu, dengan segala keterbatasan, kami datang untuk menuntut keadilan di Kapolda NTT dan seluruh staff yang secara khusus memperjuangkan perempuan dan anak dibawah umur sebagai korban perbudakan sex.

“Berdasarkan keterangan korban, video pengakuan korban, keluarga dan seluruh tetangga yang ada disitu mengatakan bahwa orang tua kandungnya (ayah dan ibunya) yang memaksa Korban untuk melayani ZA,”  tandas Ferdinand.

Selain itu, Adrianus Oswin Goleng, Ketum PMKRI menegaskan, “Bagi kami hal itu merupakan sesuatu yang tidak terpuji, besar harapan keluarga korban maupun kelompok Cipayung Plus kepada pihak kapolda untuk menindaklanjuti dan mengambil alih kasus ini. Kalau bisa proses aparat-aparat yang dalam dugaan kami tidak serius sebab terjadi konspirasi antara Kapolres Kupang dengan ZA karena dalam proses penyelidikan kasus, saksi yang disampaikan korban sebanyak 5 orang saksi sedangkan yang dimintai keterangan hanya 2 saksi dan dari kedua orang saksi ini justru ikut terlibat sehingga ada keterangan yang tidak berimbang dan yang justru menyudutkan korban. Sedangkan 3 saksi lainnya yang mungkin ada disini (ruang Ditreskrimum Polda NTT-red).”

Sementara itu Kompol Alexander Aplungi, Kepala Bagian Pegawas dan Penyidikan Ditreskrimum Polda NTT dalam tanggapannya menjelaskan, “Perlu saya gambarkan berkaitan dengan kasus ini bukan berarti penyidik diam; kami sudah ada respon, Tanggal 17 kemarin kami gelar disini, kami panggil polres untuk datang ke sini. Perlu digaris bawahi disini penyidik dalam hal ini kepolisian tingkat atas bukan diam tetapi proses sementara berjalan.”

Dalam kaitan kasus ini saya sampaikan kepada rekan-rekan bahwa proses sementara berjalan. Kita bicara penyelidikan dan penyidikan berdasarkan KUHP bahwa dua alat bukti keterangan laporan korban, keterangan saksi. Perlu saya jabarkan 184 KUHP kita butuh 2 alat bukti. Untuk sementara baru kita dapat 1 alat bukti.

Dalam kaitan dengan keterangan saksi-saksi kita rekomendasikan 3 nama yang akan dilakukan pemeriksaan tambahan yakni Pak Yufrid, Pak Kornelis dan Bu Weli jadi bukan berarti dia disana lalu polisi diamkan; penyidik tetap bekerja hanya karena teknis penyidikan sehingga berkaitan dengan itu kita menunggu anak ini lahir kemudian dilakukan tes DNA dengan dugaan terhadap orang yang disebutkan tadi.

Terkait dengan permintaan keluarga untuk tarik ke sini (Polda NTT-red) untuk sementara kita berikan kesempatan kepada Polres dimana hari ini dipandang perlu kita sampaikan kepada pimpinan untuk memutuskan, sambungnya.

Alexander menekankan, “Apa yang teman-teman pikirkan kami juga pikirkan karena berkaitan debgan proses penyidikan, jujur ada mosi tidakpercaya dari anak kepada orang tua sehingga orang-orang ini berperan untuk menindaklanjuti masalah ini dan kami respon itu. Jadi, saudara-saudara dan teman-teman semua saya minta bersabar. Kenapa kita tunggu tes DNA karena korban sendiri punya pacar.”

Dialog antara Perwakilan Cipayung Plus  dengan pihak kepolisian berlangsung seru lantaran solusi menunggu tes DNA tidak disetujui massa aksi. (VH/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan