oleh

Momen NTT Bangkit Lewat Peningkatan Kualitas SDM dan Penciptaan Peluang Kerja

RADARNTT, Jakarta – Untuk kali pertama, Indonesia Development Forum (IDF) 2019 menyuguhkan sesi khusus daerah. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terpilih sebagai Provinsi pertama di Indonesia yang menjadi percontohan untuk upaya penurunan tingkat pengangguran terbuka.

Fokus IDF 2019 adalah soal ketenagakerjaan dan NTT telah berhasil menurunkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 3,10 persen di bawah TPT Nasional. Menjadikan NTT berada pada posisi ke enam dari provinsi dengan TPT terendah di Indonesia.

Meski demikian, NTT masih menghadapi tantangan kemiskinan dan produktivitas tenaga kerja yang masih rendah. Untuk itulah, NTT dipilih untuk berbagi praktik-praktik pembangunan terbaiknya untuk membangun solusi terpadu atas tantangan pembangunan SDM dan penciptaan lapangan kerja yang dihadapi.

Lewat IDF 2019 yang bertema Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif, pemerintah dan berbagai pihak mendorong upaya-upaya untuk memperbaiki iklim investasi untuk penciptaan lapangan kerja. Juga mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah yang berdaya saing global serta mengembangkan talenta dan pasar lokal, hingga peningkatan kualitas modal manusia di NTT.

Dalam sesi Imagine Plenary, Sesi Khusus NTT, Wakil Gubernur Josef Nae Soi mengatakan NTT mengusung NTT Bangkit, NTT sejahtera.

“Bagaimana caranya untuk bangkit? Artinya kita mengajak semua komponen yang ada di NTT dan diaspora NTT untuk minimal memikirkan NTT”, kata Josef Nae Soi, di Jakata Convention Center, Selasa, (23/7/2019).

Agar bisa bangkit, kata Josef Nae Soi, NTT harus lompat untuk mengejar, ketertinggalan NTT yang saat ini menjadi provinsi termiskin ketiga di Indonesia. Pemerintah NTT mulai menyusun desain besar dengan memanfaatkan kekuatan NTT, termasuk pariwisata.

“Komodo hanya NTT satu-satu yang punya di dunia”, lanjutnya.

“Pulau terindah di dunia ada di pulau Sumba, tapi jalan yang terburuk juga di pulau Sumba”, tambah Josef Nae Soi.

Karena itu menurut Josef Nae Soi untuk sejahtera harus mengembangkan pariwisata yang didukung aksesibilitas dan melibatkan semua elemen masyarakat NTT.

“Aksesibilitas NTT sangat rendah, elektrisasi NTT juga terendah di Indonesia”, kata Josef Nae Soi menyampaikan tantangan yang harus dihadapi NTT.

Langkah itu, kata Josef Nae Soi, sudah dimulai dengan pembangunan jalan dengan memanfaatkan dana desa.

Potensi lainnya kata Josef Nae Soi yang bisa dikembangkan di NTT adalah kopi yang bahkan diakui dunia.

“Kopi dari NTT terbaik di Eropa”, tambahnya.

Berikutnya adalah peternakan. Menurut Josef Nae Soi, dengan potensi-potensi yang ada, kebangkitan NTT bisa dimulai dengan kekayaan daerah sendiri.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo sepakat tentang potensi pariwisata NTT.

“BUMDEs (Badan Usaha Milik Desa) bisa diarahkan pada sektor pariwisata”, kata Eko.

Eko menggarisbawahi bahwa tantangan di NTT adalah sebagian besar wilayah NTT kering dan panas, dengan air yang terbatas.

“Infrastruktur NTT juga sangat minim. Tanpa infrastruktur akan sulit berkembang”, katanya.

Untuk itu pemerintah pusat membangun infrastruktur air.

“Pemerintah membangun tujuh bendungan di NTT”, katanya.

Selain itu, di NTT juga dibangun embung agar bisa digunakan untuk menopang irigasi pertanian tebu.

Hadir pula, tokoh perempuan dan pegiat lingkungan, 2013 Goldman Environmental Prize Winner, Aleta Baun. Aleta mengatakan masih melihat pembangunan belum terlalu inklusif.

“Karena pembangunan hanya untuk orang tertentu, sehingga yang miskin tetap miskin”, kata Aleta.

Untuk itu, Aleta meminta agar pemerintah memperhatikan agar pembangunan lebih inklusif dengan melibatkan masyarakat dari tingkat bawah.

“Pembangunan yang melibatkan masyarakat dari bawah, di kampung, pemerintah kampung, NGO, dan lain-lain”, katanya.

Ia mencontohkan masyarakat bawah di wilayah terpencil NTT yang tidak bisa berbahasa Indonesia, kerap tidak didengar atau dilibatkan dalam proses pembangunan.

Lebih dari itu kata Aleta, pembangunan tak boleh melupakan kelestarian alam agar berkelanjutan. Tanah, air, dan bantu adalah modal kehidupan manusia yang harus selalu terjaga.

“Jaga sumber daya alam, agar pembangunan bisa maju”, tegasnya.

Joseph Robet Daniel dari Institute of Resource Governance and Social berbicara dalam Special Session NTT Bangkit. Joseph menyampaikan tentang talenta lokal yang muncul secara organik di NTT. Joseph menyebut ada empat talenta yang berkembag di NTT dan berpotensi memajukan wilayah.

“Ada sosial ekonomi inklusif, ada media, ada sektor pendidikan termasuk bea siswa dan kelompok literasi, dan media”, papar Joseph Robet. Selama ini menurut Joseph mereka bekerja sendiri-sendiri.

“Kalau talenta ini dikumpulkan akan menjadi kekuatan besar”, katanya lagi.

Salah satu bisnis sosial diakukan Hanna Keraf dari Du’anyam mengisahkan bisnis inklusif Du’anyam yang telah mebantu para ibu di NTT.

“Para perempuan yang diberdayakan oleh Du-anyam, memiliki penghasilan alternatif, penghasilan naik hingga 40 persen”, kata Hanna yang merupakan, COO, Du’anyam.

Du’anyam telah bekerja bersama sekitar seribu ibu di hampir 50 desa. Du’anyam juga berhasil mengangkat anyaman lontar NTT ke tingkat nasional bahkan ke sejumlah negara lain. IDF 2018 bekerja sama Du’anyam untuk merchandise peserta dan undangan.

Di bidang seni, ada Nathalino Mela, seniman music tradisional sasando ini dalam sesi Ideas and Innovation Marketplace “Art Culture Development’’ menyampaikan keinginannya untuk membuat sasando mendunia.

“Agar alat musik ini tidak hanya dikenal dan dimainkan oleh anak-anak NTT, atau Indonesia tapi juga di dunia”, katanya. Caranya dengan melakukan promosi lewat media sosial dan roadshow ke berbagai wilayah. Tahun lalu Nathalino melakukannya di Kolombia dan Malaysia.

Dari sisi film, Alberto Manuel Maia dari Komunitas Film Kupang ingin menyampaikan narasi Timur secara langsung, bukan hanya direpresentasikan dengan eksotisme dalam film. Dulu, pemutaran film di Kupang dibayar dengan air 5 liter dan kayu.

Komunitas film ini mengembangkan program Jumat Di Garasi sebagai bioskop alternatif untuk pemutaran dan diskusi film. Ketika media arus utama banyak membawa narasi ibukota. Mereka melahirkan produksi film yang dekat dengan realitas, seperti membahas patriarki, kekerasan terhadap perempuan, dan human trafficking atau perdagangan manusia.

“Kita terlalu berjarak dengan investor. Kami belum menemukan model yang pasti untuk bertahan”, keluhnya.

NTT dengan segala keterbatasan dan potensinya, bisa membangun Pekerjaan Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif, sekaligus berkelanjutan. (TIM/RN)

 

(Sumber : indonesiadevelopmentforum.com)

Komentar