oleh

Oknum Guru SMPN 2 Kota Kupang ‘Jual Buku Mata Pelajaran’ Berstempel Sekolah

Foto : Buku Mapel Bahasa Indonesia Berstempel Sekolah Yang Diperjualbelikan Oknum Guru SMPN 2 Kota Kupang

RADARNTT, Kupang – Dunia pendidikan Kota Kupang kembali tercoreng dengan adanya ulah segelintir oknum guru SMPN 2 yang secara terang terangan menjual buku mata pelajaran yang sudah distempel oleh pihak sekolah. Fakta ini terungkap berdasarkan kesaksian sejumlah murid murid sekolah tersebut kepada radarntt.co.

Sebut saja mawar, siswi tersebut menceritakan bahwa guru mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPS menyuruhnya untuk membeli buku mata pelajaran tersebut (mapel). Gadis itu mengaku bahwa gurunya meminta uang sebesar 25 ribu rupiah untuk Mapel Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, sedangkan untuk Buku IPS dipungut sebesar 17,5 ribu rupiah. Hal tersebut dibenarkan orang tua mawar saat ditemui media ini, “Awalnya saya tidak tahu pak tetapi saat anaknya saya menunjukkan salah satu buku mapelnya yang berstempel sekolah, saat itu saya mulai curiga. Kok bisa inventaris sekolah diperjualbelikan,” katanya.

Selain persoalan buku, rupanya rumor tidak sedap menerpa SMPN 2 Kota Kupang ini yang digadang gadang sebagai sekolah favorit menyangkut rencana rehab gedung sekolah. Dari laporan masyarakat dikatakan bahwa pihak SMPN 2 belum memiliki SPMK atau Surat Perintah Mulai Kerja yang mana dalam dokumen itu dilampirkan RAB dan Gambar. Namun fakta menunjukkan gedung yang hendak direhab sudah dibongkar terlebih dahulu.

Dari dua persoalan diatas awak media mengkonfirmasi pihak SMPN 2, namun hanya bertemu dengan Daniel Bunga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, karena pihak kepala Sekolah Ishak Koroh sedang tidak berada di tempat. “Untuk kedua hal tersebut kami kurang tahu pak, sebaiknya ditanyakan langsung Bapak Kepala Sekolah,” ucapnya. “Saat ini kami lagi sibuk untuk menghadiri pemakaman orang mati,” tambah Daniel. Hal itu dikatakan saat wartawan hendak mewawancarai langsung ketiga guru Mapel: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPS.

Foto: Buku Mapel IPS Yang Berstempel Diperjualbelikan Oknum Guru SMPN 2 Kota Kupang

Sementara itu Plt Kadis Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Kupang Dumul Djami menyatakan bahwa pihaknya berterima kasih atas informasi yang diberikan ini. “Saya berterima kasih atas info ini karena teman teman telah menjadi penyambung lidah orang tua murid, Untuk itu pasti saya tindaklanjuti sebelum masalah ini menjadi besar,” tandasnya.

“Sebelum teman teman wartawan datang, memang ada orang tua yang melaporkan masalah ini, dan kami telah memanggil Pak Ishak Koroh untuk menanyakan masalah ini, dan hal itu diakui kepsek bahwa beberapa gurunya telah melakukan hal tersebut,” beber Dumul Djami.
“Atas dasar itu saya minta transaksi penjualan buku di sekolah dihentikan dan segera guru-guru tersebut mengembalikan uang uang tersebut kepada siswa, sebelum masalah itu menjadi besar, karena buku itu inventaris sekolah,” tegas Plt. Kadis.

Foto: Dumul Djami Plt. Kadis Pendidikan Dan Kebudayaan Kota Kupang

Buku buku mapel yang dibeli menggunakan dana BOS dimanfaatkan untuk kebutuhan siswa untuk jangka waktu tertentu, memang bila saat siswa meminjam buku lalu hilang, wajib hukumnya siswa mengganti buku sekolah yang dihilangkannya, bukan lantas diperjualbelikan seenaknya oleh oknum guru, tambahnya.

“Anak anak boleh beli buku referensi untuk menunjang, itupun harus beli diluar, karena sekolah bukan toko buku, ” tegas Dumul. Kemudian ia menyambung, “Kalau untuk sekolah swasta silakan karena mereka punya aturan tersendiri, tetapi untuk SD inpres dan SMP Negeri menjual buku di sekolah dilarang.”

Menurut Dumul Djami, kejadian seperti ini menjadi pelajaran untuk sekolah lain, agar segera mengembalikan uang pungutan hasil penjualan buku, sebelum masalah itu menjadi besar.

Menyangkut rencana rehab bangunan SMPN 2 yang bersumber dari DAK Reguler , Plt Kadis menegaskan, “Pihak kami (dinas-red) sifatnya hanya memfasilitasi dan ikut mengawasi, soal perencanaan dan siapa yang melaksanakan itu domain sekolah, jadi sifatnya swakelola.” Dijelaskannya, soal bongkar membongkar untuk rehab memang kewenangan penuh kepala sekolah, jadi sebaiknya bisa ditanyakan langsung petunjuk teknis untuk merehab bangunan kepada kepala sekolah bersangkutan. Hingga berita ini ditayangkan awak media belum berhasil mengkonfirmasi Kepala Sekolah SMPN 2 Ishak Koroh.
(TIM/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan