oleh

Pelaku Pariwisata Desak Pemerintah Cari Solusi Tepat Guna Penuhi Kebutuhan Air di Labuan Bajo

RADARNTT, Labuan Bajo – Tokoh pariwisata Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT Matheus Siagian mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah tepat guna demi mencukupi kebutuhan air minum bersih di kota pariwisata Labuan Bajo.

“Sudah waktunya pemerintah mengambil langkah tegas dan mengatur semua bisnis air yang ada di Manggarai Barat. Air seperti hal-hal vital lainnya seharusnya dikuasai dan diatur oleh negara, sesuai undang-undang dasar”, kata Matheus kepada RadarNTT, Senin 25 Agustus 2019 di Labuan Bajo.

Menurut Matheus selain pembangunan infrastruktur jalan, pemerintah harus mengambil langkah langkah tepat guna mencukupi kebutuhan air di Manggarai Barat.

“Sumber air banyak, air terjun ada dimana-mana , tinggal dibuatkan jalur irigasi yang tepat, seperti bendungan lalu juga sistem pemipaan yang berkualitas dan mesin yang memadai”, tutur Matheus.

Matheus beroptimis masyarakat memiliki pemerintah yang baik dan tidak korupsi, pasti masalah kekurangan air ada jalan keluarnya. Yang penting, semua hati dan pikiran di konsentrasikan ke tujuan yang sama. Distribusi air harus di atur lebih baik lagi.

Matheus menambahkan pertumbuhan Labuan Bajo sebagai pintu kawasan pariwisata dan pelabuhan dagang sangat cepat. Tentu kebutuhan akan air bersih sangat tinggi.

“Saat ini, Labuan Bajo sudah mampu menyediakan 1100 kamar bagi para pelancong. Jika dulu saja air bersih sudah menjadi masalah, bayangkan 1 tanki 5000L, katakan ada 200 kapal yang butuh air bersih. Jangan lupa, kebutuhan air bersih di Labuan Bajo tidak hanya di darat, tapi juga di laut. Dalam kasus ini, 200 kapal butuh 1.000.000 L! Belum lagi jika kita menghitung kebutuhan saudara-saudara kita yang tinggal di pulau-pulau dan pesisir. Jangan normalisasi kondisi krisis air”, kata Matheus.

Menurut Matheus pemerintah harus mengambil langkah sebagai regulator untuk mengeluarkan aturan-aturan darurat yang strategis guna menyelamatkan rakyatnya dari krisis air.

“Salah satu contoh aturan darurat yang pemerintah bisa keluarkan adalah dengan melarang pembangunan kolam renang, atau kalau mau pakai kolam renang, gunakan air asin. Tempat-tempat pariwisata lain di dunia melakukan hal ini”, ujar Matheus.

Matheus mengungkapkan beberapa kawasan pariwisata menggunakan kolam renang air asin sebagai tanggapan eco-friendly.

“Ingat, turis datang ke Labuan Bajo bukan untuk berenang di kolam renang. Turis datang le Labuan Bajo untuk berenang di laut dan air terjun. Coba lihat sendiri perbandingan turis yang menginap dengan penggunaan kolam renang di hotel-hotel besar yang sudah ada, seperti di Plataran, Luwansa, atau Jayakarta. Hal ini juga dapat dijadikan catatan bagi pemerintah, bahwa perhitungan kualitas hotel tidak hanya meluluh berdasarkan jumlah bintang, yang mengharuskan suatu hotel memiliki fasilitas kolam renang. Pariwisata harusnya tumbuh memberi manfaat buat masyarakat, bukan memberi masalah”, ucap Matheus.

Matheus mengatakan untuk hotel-hotel yang berada di peri-peri kawasan konservasi seperti Labuan Bajo, bijak jika perhitungan kualitas hotel diukur dengan alat ukur lain. Seperti misalnya Green Award atau tingkat keramahan lingkungannya. Seperti yang kita ketahui, negara-negara maju seperti Singapura dan Australia sudah tidak lagi mengedepankan jumlah bintang pada hotelnya sebagai alat marketing, melainkan prinsip keramahan mereka pada lingkungan.

“Jika masalahnya pada turis, saya yakin bilamana turis dijelaskan dengan baik, mereka akan paham. turis-turis datang ke sini bukan untuk berenang di atas penderitaan banyak orang. Tentunya aturan pelarangan kolam renang ini sementara saja, hingga masalah air teratasi. Hal ini juga perlu disanding dengan memberi penyuluhan ke tempat tempat usaha terkait kiat-kiat agar hemat air; seperti cuci piring pakai air laut, dan lain-lain. Untuk toilet pergunakan air laut. airlaut bisa di pakai buat banyak hal selain mandi , makan dan minum”, terang Matheus. (Mhen/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan