oleh

Pemerintah Lakukan Percepatan Penyediaan Lahan Bioenergi

RADARNTT, Tangerang – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melakukan percepatan penyediaan lahan bioenergi di tanah air. Staf Ahli Menteri ESDM, Saleh Abdurrahman melakukan rapat pembahasan percepatan penyediaan lahan bioenergi di Tangerang Selatan, Banten, Kamis (25/7/2019).

Dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) mengamanatkan penyediaan lahan seluas 4 juta hektar secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Bahan Bakar Nabati (BBN).

RUEN juga mengamanatkan untuk memprioriaskan penggalakkan budi daya tanaman-tanaman biomasa non pangan untuk bahan baku bioenergi.

Untuk itu, Saleh menyampaikan tujuan pembahasan adalah untuk menyusun formulasi terobosan kebijakan percepatan penyediaan lahan bioenergi.

Tambah Saleh, “Selain itu, yang perlu kita bahas lebih lanjut mengenai pembahasan opsi skema bisnis untuk pemanfaatan Hutan Tanaman Energi dengan harga keekonomian.”.

“Terobosan apa yang bisa kita hasilkan, termasuk pricing policy,” tutupnya.

Rapat dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian ESDM, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Pertamina, Perhutani dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI).

Menurut Pengajar Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Bandung, Dr. Ir. Tatang Hernas Soerawidjaja, dewasa ini, bangsa Indonesia menghadapi 2 tantangan utama di sektor energi, pertama, meningkatkan penyediaan listrik untuk mendukung seluruh sektor perekonomian dan kedua, meredam impor bahan bakar minyak (BBM) maupun minyak bumi mentah yang volumenya terus membesar akibat, di satu sisi, meningkatnya kegiatan transportasi, industri, maupun penyediaan listrik dan, di sisi lain, terus menurunnya produksi (lifting) minyak bumi di dalam negeri.

“Peningkatan produksi dan pemanfaatan bahan bakar nabati atau BBN, yaitu bahan bakar cair yang berasal dari sumber-sumber nabati (hayati) dan bersifat serupa sehingga dapat dicampurkan ke dalam BBM, merupakan cara yang paling efektif untuk menjawab kedua tantangan utama tersebut”, tegas Tatang, dilansir https://pii.or.id (12/5/2016).

Tatang mengatakan, dunia kini mengenal 2 kategori BBN, yaitu BBN oksigenat (beroksigen) dan BBN biohidrokarbon (hidrokarbon terbarukan). Sesuai dengan namanya, BBN oksigenat mengandung atom-atom oksigen dan, karenanya, memiliki dua sifat utama yaitu, hanya bisa dicampurkan ke dalam BBM padanannya sampai kadar beberapa puluh persen-volume saja (karena pada kadar lebih besar akan mengharuskan modifikasi mesin pengguna) dan keberadaan atau pencampurannya ke dalam BBM membuat emisi mesin (kendaraan) lebih bersih dibanding jika hanya berbahan bakar BBM murni.

Di lain pihak, lanjut Tatang, BBN biohidrokarbon sama sekali tidak mengandung atom-atom oksigen dan terdiri atas hidrokarbon-hidrokarbon dalam kelas yang sama dengan hidrokarbon-hidrokarbon di dalam BBM padanannya tetapi berasal atau terbuat dari sumber daya nabati (definisi ilmiah sejati dari BBM sebenarnya adalah bahan bakar hidrokarbon cair asal/basis fosil).

“Oleh karena wujud komponen-komponennya ini, maka BBN biohidrokarbon bisa dicampurkan ke dalam BBM padanannya pada kadar berapa saja, bahkan sampai kadar 100 %-volume (alias murni) sekalipun, tanpa mengharuskan dilakukannya modifikasi pada mesin pengguna. Karena kebebasan level pencampurannya ini, di dalam bahasa Inggris, BBN biohidrokarbon disebut drop-in biofuels”, tandas Tatang.

Menurut dia bioetanol dan biodiesel adalah dua BBN oksigenat paling utama dan keduanya sekarang telah dikenal baik oleh industri bahan bakar cair di Indonesia. Bioetanol adalah padanan bensin (premium/pertamax/pertamax-plus) sedang biodiesel adalah padanan solar atau minyak diesel. Bioetanol diproduksi dari bahan berkarbohidrat, terutama yang bergula dan/atau berpati, sedangkan biodiesel diproduksi dari minyak-lemak nabati.

Tatang menyebutkan kelas-kelas utama BBN biohidrokarbon adalah minyak diesel hijau (green diesel), bensin nabati (biogasoline), dan bioavtur (jet biofuel, BBN untuk mesin pesawat terbang jet). Dewasa ini, ketiga BBN biohidrokarbon tersebut diproduksi dari minyak-lemak nabati.

“Minyak-lemak nabati merupakan bahan mentah premium (premium raw material) untuk pembuatan aneka jenis BBN, seperti biodiesel, minyak diesel hijau, bensin nabati, dan bioavtur. Di dalam kaitan ini, Indonesia memiliki posisi sangat unggul, karena minyak kelapa sawit merupakan salah satu bahan mentah terbaik untuk produksi keempat jenis BBN tersebut dan negeri ini sekarang merupakan penghasil dan pengekspor terbesar minyak kelapa sawit di seluruh dunia”, terangnya.

Tatang menjelaskan bumi Indonesia juga dikaruniai aneka pohon/tumbuhan darat lain yang potensial untuk didayagunakan sebagai penghasil minyak-lemak nabati serta dikembangkan ke dalam bentuk perkebunan yang diharapkan dapat mulai secara komersial memasok minyak-lemak nabati selain sawit bagi industri BBN nasional pada paruh kedua dekade 2020-an.

Dia juga menyebutkan, pohon-pohon penghasil potensial minyak-lemak yang direkomendasikan untuk dikembangkan adalah kelapa, pongam, nyamplung, nimba dan karet. Indonesia juga sangat beruntung karena merupakan negara tropik bergaris-pantai terpanjang di dunia, sehingga memiliki lahan potensial terbesar untuk budidaya mikroalga, yaitu tumbuhan renik perairan yang kemampuan menghasilkan minyak-lemaknya berlipat-lipat kali pohon kelapa sawit sekalipun.

“Melalui upaya penelitian dan pengembangan (R & D) yang tekun dan sistematik, produksi komersial minyak-lemak nabati berbasis budidaya mikroalga diperkirakan bisa mulai memasok bahan mentah bagi industri BBN di sekitar tahun 2030”, pungkas Tatang. (TIM/RN)

 

(Ket. Foto Dewan Energi Nasional)

Komentar