oleh

Pernyataan Kontroversi Fasilitator Meri Soal Jalan Semen Di Desa Wangkar Weli Dikecam Mahasiswa Sulsel

-Matim, News-797 views

Foto: Kondisi Jalan Semen Yang Baru Dibangun Di Desa Wangkar Weli, Kecamatan Poco Ranaka Timur – Manggarai Timur

RADARNTT, Borong – Pernyataan fasilitator  yang bernama Maria alias Meri yang menyatakan bahwa mutu proyek yang hanya bisa dinilai oleh tim penilai dari lembaganya terhadap pembangunan jalan semen di Desa Wangkar Weli Kecamatan Poco Ranaka Timur – Kabupaten Manggarai Timur yang sebelumnya dimuat laman RADARNTT mendapat kecaman dari mahasiswa Sulawesi Selatan yang juga merupakan putra Desa Wangkar Weli yang sedang mengenyam pendidikan di Makassar.

Salah satunya Remigius Magung, melalui pesan whatsApp, Remigius yang akrab di sapa Cemik ini menulis, sangat disayangkan pernyataan fasilitator dari provinsi yang bernama Meri terkait mutu proyek semenisasi yang hanya bisa dinilai oleh tim dari lembaganya (Minggu, 25/08/2019).

Foto: Jalan Semen Yang Menjadi Kontroversi Warga Wangkar Weli

Menurutnya, tidak ada yang namanya dalam aturan mengenai anggaran yang bersumber dari APBN yang seperti dilontarkan Ibu Meri bahwasanya itu urusan internal, nah pertanyaan apakah itu dana pribadi Ibu Meri atau dana bersumber dari APBN sehingga tidak bisa di transparan.

Terkait tidak ada papan proyek, dirinya juga menegaskan agar kegiatan itu perlu di pasang papan informasi proyek dan penggunaan anggarannya harus transparan kepada siapapun.

“Ibu Meri seolah olah menilai masyarakat tidak tahu tentang bagaimana mekanismenya dari penggunaan anggaran negara,” tulisnya.

Foto: Remigius Magung Salah Seorang Mahasiswa Sulsel Asal Desa Wangkar Weli

Menurutnya, jika jalan tani itu hanya sebagai formalitas hanya untuk dijadikan sebagai laporan, saya sangat kecewa, karena apa? masyarakat Wangkar Weli sudah banyak yang menjadi korban, mereka rela melepaskan tanah sekian meter tiap orang demi jalan tani yang tidak produktif itu.

Hal senada disampaikan oleh Hendratias Iren yang akrab di sapa Iren terkait pernyataan Ibu Meri yang dimuat media ini beberapa hari lalu.

Mahasiswa Sulawesi Selatan yang sedang berlibur di Desa Wangkar Weli itu mengatakan, pernyataan Ibu Meri cukup melukai batin kami sebagai putra daerah Wangkar Weli, seolah-olah kami tidak tahu apa-apa mekanisme penggunaan anggaran negara.

Iren menegaskan, sebagai pemuda Wangkar Weli menuntut pengawas proyek beserta jajarannya harus transparan dalam mengelola proyek, dan papan proyek harus dipajang.

Sebagai pemuda Desa Wangkar Weli kata Iren lagi, meminta klarifikasi dari pengawas proyek terkait upah buru yang hanya dikasih 58 ribu saja perhari, jangan sampai tenaga buruh di peras, atau buruh dapat getah sedangkan pengawas dapat nangkanya.

“Mereka dapat 58.000/hari, makan di tanggung sendiri, lalu jam kerja melebihi dari 8 jam,” tutur Iren melalui sambungan selulernya.

Lebih jauh Iren menjelaskan, kehadiran proyek semenisasi dari pusat melalui pemprov ini bukan memberdayakan masyarakat tetapi memeras tenaga masyarakat, dikarenakan upah yang diberikan jauh dibawah standar harian orang kerja seperti biasanya diterima oleh masyarakat.

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa Meri salah seorang fasilitator kegiatan yang bersumber dari APBN di Desa Wangkar Weli, saat dikonfirmasi melalui pesan telepon terkait keluhan masayarakat atas kerusakan bangunan semenisasi yang baru dikerjakan di desa itu, dengan nada menantang menjawab pertanyaan media ini.

“Masyarakat siapa itu bilang, datang langsung menghadap kami, yang saya dengar apa, dianya siapa, yang dia biasa kerjanya apa,” kata Meri Kala itu (20/08/2019).

Lalu awak media media ini mencoba menyampaikan tujuan konfirmasi terkait keluhan ini, dan Meri menjelaskan, “Saya bukan masalah soal konfirmasi pak, begini, sebagai wartawan harus tahu kode etik, bapak datang bapak tidak bisa langsung ke lokasi proyek.”

begini pak proyek ini sementara berjalan, bapak harus tahu cara mengerjakan proyek itu seperti apa, lalu siapa yang masyarakat mengeluh itu, kok mengeluhnya ke wartawan, kan itu bukan tugas wartawan, kerusakan apapun dan soal mutupun itu akan dinilai oleh kami punya tim penilai, tandas Meri dengan nada geram.

Kadis PU Provinsi NTT Maxi Nenabu menampik kalau itu bukan pekerjaan Pemprov NTT, hal itu dikatakannya melalui sambungan telepon (22/08/2019).

“Itu pekerjaan Balai Cipta Karya, coba konfirmasi ke Balai Cipta Karya, kalian punya foto itu saya liat rusak sepotong begitu itu,” sindirnya. (AJ/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan