oleh

Petani Lewa Sumba Timur Budidaya Porang

RADARNTT, Waingapu – Porang atau dikenal juga dengan nama iles-iles adalah tanaman umbi-umbian dari spesies Amorphophallus muelleri. Jenis tanaman yang tumbuh liar di hutan itu memiliki nilai ekonomi tinggi dengan harga jual yang sangat mahal dan diburu banyak kalangan untuk kebutuhan industri dan ekspor.

Hal ini mendorong petani di Lewa Kabupaten Sumba Timur provinsi NTT mengembangkan budidaya tanaman Porang di lahan seluas 3 hingga 7 hektare tahun ini dengan pola tanaman tumpang sari ada jagung, porang dan kelor.

Tokoh Masyarakat sekaligus tokoh Petani, Hendrik Nango kepada media ini, Senin (9/12/2019) mengatakan tanaman Porang memiliki nilai ekonomi tinggi. “Porang adalah tanaman hutan yang di hutan bisa tumbuh dan berproduksi maka kalau kita budidayakan akan lebih baik hasilnya,” cetusnya.

Dia berharap ke depan kecamatan Lewa bisa menjadi pusat pengembangan dan pembelajaran, pembenihan Porang dan dikembangkan ke berbagai tempat. Sehingga tahun depan menurut dia akan dilakukan panen perdana dan diekpouse ke publik untuk diketahui masyarakat.

“Kita mengajak penyuluh pertanian dan masyarakat untuk mengembangkan tanaman Porang yang punya nilai ekonomi tinggi dan terbukti membantu petani di masa pacekIik,” pinta Nango.

Ia menjelaskan satu hektare lahan membutuhkan benih 40.000 butir umbi porang ukuran kecil dan besar, satu pohon tanaman porang menghasilkan 1-2 kilogram umbi porang pada usia panen dua tahun. Maka hasil panen satu hektare bisa mencapai 80.000 kilogram atau 80 ton.

Sedangkan, Pengusaha Muda Asal Lewa, Bobby Wijaya menegaskan bahwa ia termotivasi membantu masyarakat untuk mengembangkan kabota atau Porang sebagai komoditi yang memiliki nilai ekspor tinggi sehingga bisa meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat.

“Target saya memotivasi masyarakat Sumba Timur supaya menanam komoditi yang ada di daerah ini khusus kabota atau porang yang punya pasar yang pasti dan harga bagus dan barang ekspor,” ungkap Bobby yang digadang-gadang sebagai bakal calon Bupati Sumba Timur.

Dia selalu mendorong masyarakat untuk mengembangkan komoditi yang punya nilai tinggi dan pasaran ekspor seperti porang, kelor, jagung,  kemiri, kopi, kakao, dan berbagai komoditi lainnya.

“Salah satu program prioritas saya adalah peningkatan dan pengembangan komoditi, seperti mente, cengkeh, porang, kelor, jagung, kemiri, kopi, kakao, kunyit dan lain-lain,” tegas Bobby Wijaya.

Untuk diketahui, manfaat porang ini banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, selain juga untuk pembuatan lem dan “jelly” yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke negeri Jepang.

Umbi porang banyak mengandung glucomannan berbentuk tepung. Glucomannan merupakan serat alami yang larut dalam air biasa digunakan sebagai aditif makanan sebagai emulsifier dan pengental, bahkan dapat digunakan sebagai bahan pembuatan lem ramah lingkungan dan pembuatan komponen pesawat terbang, demikian dilansir laman resmi Kementerian Pertanian.

Porang adalah tanaman yang toleran dengan naungan hingga 60%. Porang dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja di ketinggian 0 sampai 700 mdpl. Bahkan, sifat tanaman tersebut dapat memungkinkan dibudidayakan di lahan hutan di bawah naungan tegakan tanaman lain.

Untuk bibitnya biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbinya yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung. (MKE/RN)

Komentar