oleh

Publik NTT Jangan Terkecoh Isu Siapa Menteri

RADARNTT, Kupang – Masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mesti fokus dan kritis melihat hasil pembangunan di daerah itu, jangan terkecoh isu yang bukan menjadi domain daerah seperti siapa layak menjadi menteri, biarkan itu menjadi hak prerogatif Presiden.

Demikian tegas Koordinator Forum Pemuda NTT, Agustinus Budiutomo Gili Roma atau Bedi Roma kepada media ini, Minggu (15/9/2019) via seluler.

“Saya melihat berkembang diskusi di jagat media massa dan sosial media tentang siapa paling layak masuk kabinet Jokowi, padahal ini bukan ranahnya publik mewacanakan dan seolah-olah ikut mendikte Presiden,” ungkap Bedi Roma.

Hal ini, kata dia, sangat tidak tepat dan tidak etis, biarkan Presiden menentukan sesuai kewenangannya bukan publik menggiring seolah-olah ikut menentukan siapa layak dan tidak layak menjadi menteri.

Bedi Roma mengajak masyarakat NTT agar lebih fokus membangun kehidupan sesuai isu dan permasalahan di daerah, dimana daerah itu selalu menyandang peringkat teratas dalam hal kemiskinan, kebodohan, pengangguran dan stunting.

“Data BPS menunjukkan provinsi NTT selalu bertengger diurutan 3 teratas kemiskinan, kebodohan dan stunting,” tegas Bedi Roma.

Menurut dia, permasalahan serius yang dihadapi daerah itu yang mestinya menjadi fokus perhatian publik dan pemerintah daerah, bukan mengurusi hal yang bukan menjadi domain daerah.

“Berapa penurunan angka kemiskinan, berapa peningkatan angka IPM kita, dan berapa penurunan angka stunting. Karena masalah stunting kita berada diurutan puncak secara nasional diangka diatas 40 persen,” tegas Bedi Roma.

Dia juga membeberkan data rilis BPS per Maret 2019 menunjukan presentase penduduk miskin di NTT sebesar 21,09 persen, atau sedikit mengalami peningkatan sebesar 0,06 persen poin terhadap September 2018. Namun bila dibandingkan dengan keadaan Maret 2019, terdapat penurunan sebesar 0,26 persen poin.

Data menunjukan jumlah penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 1.146,32 ribu orang, meningkat 12,21 ribu orang terhadap September 2018 dan meningkat 4,15 ribu orang terhadap Maret 2018. Disparitas kemiskinan antara perkotaan dan perdesaan juga masih tinggi.

Menurut dia saat ini NTT masih merupakan provinsi yang memiliki presentase penduduk miskin tertinggi di urutan ketiga setelah Papua dan Papua Barat.

Prevalensi stunting di NTT mencapai 40,3 persen, kata Bedi Roma, menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Angka tersebut di atas prevalensi stunting nasional sebesar 29,6 persen.

“Saya kira ini masalah serius kita yang harus didiskusikan oleh publik dan disikapi segera oleh pemerintah daerah baik provinsi dan kabupaten/kota,” tegas Bedi Roma.

Dia mengatakan waktu setahun kepemimpinan Gubernur Viktor Laiskodat mungkin dinilai belum respresentatif mengukur capaian kinerja pembangunan, tetapi waktu setahun pertama ini juga bisa menjadi pintu masuk dan fondasi untuk melangkah lebih jauh ke depan.

“Pemerintah bersama stakeholder dan masyarakat harus lebih terbuka dan kritis terhadap kondisi obyektif yang terjadi di daerah agar bisa mengambil langkah kerja konkrit mengatasi permasalahan, jangan hanya berwacana dengan hal yang bukan substansi,” tandas Bedi Roma.

Dia juga menegaskan soal Menteri, “kita serahkan ke Jokowi dan yang paling penting adalah masyarakat NTT harus menjadi cermin bagi pemimpinnya. Wajah pembangunan kita cerminan kualitas pemimpin,” pungkas Bedi Roma. (TIM/RN)

Komentar