oleh

Rasa Empati Jadi Penghalang Pengungkapan Kasus Narkotika di NTT

RADARNTT, Kupang,– Upaya pemberantasan narkotika oleh Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Nusa Tenggara Timur (NTT) terkendala karena rasa empati masyarakat yang sangat tinggi.

“Rasa empati yang begitu tinggi dari masyarakat menjadi penghalang kita di NTT dalam pemberantasan narkotika,” ujar Yuli Beribe, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Pemberantasan BNNP NTT di hadapan awak media.

Menurut Yuli, sebenarnya banyak masyarakat NTT tahu soal pengedar dan pemakai narkotika, namun karena masyarakat menunjukkan sikap untuk melihat situasi dari perspektif dari orang-orang tersebut, maka sikap tidak mau tahu soal peredaran ini akan muncul.

“Masyarakat kita kalau sudah tahu ada yang menggunakan atau mengedar akan menunjukkan sikap cuek, ya itu karena rasa empati tadi,” jelasnya.

Padahal, lanjut Yuli, jika masyarakat tahu ada menggunakan narkotika disekitarnya dan langsung melaporkan, pengguna tersebut dijamin akan bebas dari tuntutan hukum dan pihaknya akan langsung melakukan proses rehabilitasi bagi pengguna.

“Pengguna akan kita rehabilitasi dan bagi yang melaporkan kami jamin akan rahasiakan identitasnya,” ungkapnya

Sampai dengan saat ini, lanjutnya, untuk kasus pengguna narkotika yang mau direhabilitasi, pihak BNNP NTT belum pernah menerima laporan langsung dari masyarakat.

“Yang sudah ada dan sementara akan direhabilitasi itu adalah hasil penjangkauan,” ujarnya.

Pada tempat yang sama, Kabid Rehabilitasi BNNP NTT, Stef Joni Didok mengatakan, selama tahun 2019 pihaknya fokus terhadap penguatan lembaga rehabilitasi.

“Ada lembaga  rehab milik pemerintah,
lembaga masyarakat dan pasca rehabilitasi,” kata Stef.

Ia mengungkapkan, pencapaian rehabilitasi selama tahun 2019 berjumlah 12 fasilitas.

Pihak Stef juga melakukan pelatihan kepada petugas sebanyak 25 orang dari target 100%.

“Target klinik pratama tahun 2019 sebanyak 60 orang  yang direhabilitasi sementara sampai sekarang capaian 58 orang,” kata dia.

Dari  jumlah 58 orang yang direhabilitasi, kata dia, sebanyak 50 orang secara sukarela datang untuk direhabilitasi. Sedangkan 8 lainnya pemakai narkoba yang telah ditangkap sebelumnya.

“Kami dibantu oleh empat yayasan yakni Yayasan Warna Kasih, Yayasan Mensa Lembata, Yayasan Yak Esra Maumere dan Yayasan Mitra Harapan So’e,” ungkapnya.

Menurut Stef, keberhasilan penguatan lembaga karena hubungan kerja sama dengan instansi Pemerintah. (ND/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan