oleh

Rektor Undana dan Unwira Melarang Mahasiswa Terlibat Aksi Besok

RADARNTT, Kupang – Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana) dan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) bersepakat melarang mahasiswanya terlibat aksi damai terkait masalah nasional yang terjadi saat ini. Aksi dilakukan besok, Kamis (26/9/2019) yang diinisiasi oleh Aliansi Mahasiswa NTT.

Sikap tegas diambil kedua rektor dalam surat edaran masing-masing yang beredar luas dan sampai di tangan radarntt.co, Rabu (25/9/2019) petang.

Rektor Undana Fredrik Benu dalam surat edaran nomor 4205/UN15.1/PP/2019 tertanggal 25 September 2019 menyampaikan lima poin, yakni:

  1. Ditegaskan bahwa Civitas Akademika Undana tidak akan terlibat dan tidak mendukung kegiatan/aksi damai pada Kamis, 26 September 2019
  2. Tidak diperkenankan membawa bahkan menggunakan simbol Undana pada kegiatan atau aksi tersebut
  3. Bagi oknum tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan mahasiswa yang dengan sengaja membawa bahkan menggunakan aribut Undana dalam aksi/kegiatan dimaksud akan dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku
  4. Partisipan yang akan memgikuti kegiatan tersebut ditegaskan untuk tidak melibatkan Undana dalam bentuk apapun dan segala hal yang dilakukan dalam aksi/kegiatan tersebut adalah menjadi tanggung jawab pribadi
  5. Ditegaskan bahwa kegiatan perkuliahan/aktivitas akademik pada Kamis, 26 September 2019 di lingkungan Undana berjalan seperti biasannya.

Sedangkan Rektor Unwira Pastor Philipus Tule, SVD dalam surat edaran nomor 02/WM.H/SE/2019 tanggal 25 September 2019, juga menyampaikan lima poin sebagai berikut:

  1. Unwira tidak terlibat dan tidak mendukung aksi tersebut
  2. Bahwa pemuatan logo Unwira pada banner Aliansi Mahasiswa NTT tanpa seizin pimpinan Unwira
  3. Kegiatan akademik pada Kamis, 26 September 2019 tetap berjalan seperti biasa. Untuk itu, para mahasiswa, dosen maupun tenaga kependidikan di lingkungan Unwira diminta untuk tetap melakukan aktivitas akademik sebagaimana mestinya
  4. Partisipasi terhadap aksi tersebut diminta untuk tidak melibatkan Unwira dalam bentuk apapun dan segala hal yang dilakukan atas aksi tersebut menjadi tanggung jawab pribadi
  5. Bagi dosen, karyawan dan mahasiswa yang dengan sengaja menggunakan atribut Unwira dan membawa nama Unwira dalam aksi dimaksud akan dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.

Ketua Forum Pemuda NTT Bedi Roma menilai sikap kedua Rektor universitas paling beken di Kota Kupang itu adalah bentuk otonomi kampus masing-masing, tetapi bukan dalam rangka mengekang dan mengebiri daya kritis mahasiswa dalam menyikapi permasalahan bangsa dan negara.

“Mahasiswa sebagai pribadi yang otonom bisa bersikap sesuai panggilan nurani dan gerakan moral”, tegasnya via seluler, Rabu (25/9/2019) malam.

Untuk itu kampus jangan sampai mengintimidasi mahasiswa, lanjut Bedi Roma, jangan langkah mundur kembali ke masa lalu masa kelam dimana mahasiswa pernah dipasung hak-haknya oleh rezim orde baru.

“Mahasiswa jangan sampai mengalami kemunduran idealisme, mahasiswa harus proaktif dan kritis terhadap permasalahan yang terjadi di masyarakat,” ujar Bedi Roma.

Menurut dia gerakan ini bukan latah-latahan tetapi sebagai bentuk solidaritas atas keprihatinan kondisi nasional akhir-akhir ini. Mahasiswa harus menunjukkan kepedulian dan perhatiannya kepada masalah sosial, “aksi unjuk rasa merupakan salah satu saluran menyampaikan pendapat di alam demokrasi,” pungkas Bedi Roma.

Komentar