oleh

SDM Kompetitif, Kunci Transformasi Struktural Menuju Indonesia Maju

RADARNTT, Jakarta – Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetitif, menjadi kunci transformasi struktural menuju Indonesia maju. Demikian tegas, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Menteri PPN/Bappenas), Bambang Brodjonegoro, saat menyampaikan paparan pada sesi Plenary Utama Indonesia Development Forum (IDF) 2019, di Jakarta Convention Center, Selasa, (23/7/2019).

Regulasi, kualitas institusi rendah, infrastruktur yang kurang memadai, kebijakan fiskal, serta SDM yang belum kompetitif menjadi persoalan-persoalan yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Untuk itu, transformasi struktural menjadi kunci, utamanya dengan memanfaatkan bonus demografi, agar dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi negara dan pada akhirnya mengubah status ekonomi dari negara berkembang menjadi negara maju.

Mempercepat transformasi struktural menjadi salah satu sub-tema yang dibahas pada gelaran IDF tahun 2019, yang mengetengahkan topik utama “Mission Possible: Memanfaatkan Peluang Pekerja Masa Depan untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif.” Topik ini menjadi penting mengingat transformasi struktural erat kaitannya dengan perubahan struktur ekonomi negara; dari berbasis agraris menjadi industri, dan kemudian menjadi berbasis sektor jasa.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat dikatakan berjalan secara konsisten selama 20 tahun terakhir, perubahan struktur ekonomi justru berjalan lambat dan tidak sesuai rencana. Sektor industri belum mampu menyerap tenaga kerja sebanyak yang dibutuhkan, dan angkatan kerja banyak yang berada di sektor jasa, namun bersifat informal dan tidak memberikan penghasilan yang memadai.

Dalam paparannya pada sesi Plenary Utama “Transformasi Struktural” pada hari pertama penyelenggaraan IDF 2019, Menteri PPN/Bappenas, Bambang Brodjonegoro, menyampaikan bahwa visi “Indonesia 2045” mencita-citakan bahwa ketika Indonesia berusia 100 tahun, Indonesia telah berhasil menjadi negara pendapatan tinggi.

Hal tersebut hanya bisa diwujudkan jika pertumbuhan ekonomi rata-rata dapat dipertahankan pada kisaran 5,1 hingga 7 persen secara terus menerus. Menurut Bambang, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir banyak bertumpu pada komoditas dan sumber daya alam yang sulit memberi kontribusi untuk pertumbuhan tinggi.

Untuk itu, kata dia, Bappenas telah menyiapkan tiga skenario pembangunan ekonomi, dengan menitikberatkan fokus pada revitalisasi industri agar pertumbuhan sektor manufaktur selalu lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi; transformasi sektor jasa, khususnya di sektor pariwisata; serta meningkatkan produktivitas sektor unggulan seperti pertanian dan perikanan.

“Untuk mencapai pertumbuhan tinggi Indonesia harus kembali ke sektor manufaktur,” kata Bambang.

Untuk membedah peluang Revolusi Industri 4.0, Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyebutkan lima sektor prioritas pada Making Indonesia 4.0., yaitu industri makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik, serta kimia. Untuk memaksimalkan potensi ekonomi pada sektor-sektor prioritas ini, kebijakan 2020-2024 mendatang akan diarahkan pada peningkatan produktivitas dan daya saing manufaktur ekspor, serta penguatan industri hulu yang strategis.

Salah satu kebijakan lain yang dianggap dapat mendorong percepatan transformasi struktural dengan pemberian insentif pajak untuk mendorong pengembangan vokasi di Indonesia. Tujuannya agar negara dapat terus mencetak SDM dengan daya saing yang kompetitif.

Keunggulan IDF 2019 mempertemukan berbagai pihak dari pemerintah, akademisi, dan pelaku praktik cerdas. Professor Ekonomi dan Carl Marks, Universitas Cornell, Ithaca dan New York, Kaushik Basu menilai pentingnya perubahan kebijakan yang radikal untuk pendidikan di Indonesia. Investasi pendidikan harus diarahkan ke pendidikan kreatif, inovatif, dan berbasis riset. Karena pendidikan teknis ataupun mekanikal sudah digantikan oleh teknologi.

“Saya sangat optimis dengan perekonomian Indonesia. Indonesia sudah melalui berbagai krisis ekonomi besar di tahun 1998 dan 2008, namun tetap bisa bangkit dan menjaga pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 persen. Negara lain juga optimis akan ekonomi Indonesia. Kedepannya ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih besar lagi. Bahkan, hingga 7 persen per-tahun”, ujar Kaushik.

IDF menitikberatkan pada riset, praktik cerdas dan pelajaran dari pengalaman pembangunan di tingkat akar rumput hingga nasional maupun internasional. Melalui pendekatan berbentuk diskusi dengan mendatangkan berbagai narasumber berpengalaman, IDF diharapkan dapat mendukung Indonesia untuk terus bergerak mengejar kompetisi sekaligus mendapatkan gagasan-gagasan yang relevan sebagai basis penyusunan peta jalan dan kebijakan terkait peluang ketenagakerjaan di masa depan Indonesia. (TIM/RN)

 

(Sumber : indonesiadevelopmentforum.com)

Komentar

Jangan Lewatkan