oleh

Siasat Guru Pedalaman Papua Hadapi Minimnya Fasilitas Pendidikan

RADARNTT, Mappi — Kondisi Pendidikan di Papua kerap diberitakan masih jauh tertinggal dari daerah lain di negeri ini. Hal ini salah satunya disebabkan oleh minimnya tenaga Pendidik Profesional di banyak sekolah dari tingkat dasar sampai menengah terutama di daerah Pedalaman Papua.

Mengatasi persoalan ini pemerintah daerah tengah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Papua. Salah satunya melalui Program Guru Penggerak Daerah Terpencil (GPDT) yang mana merekrut guru dari daerah lain yang siap untuk mengabdi di pedalaman Papua.

Salah satu aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang, Kanisius Usfinit yang merupakan lulusan Sarjana Pendidikan dari Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) Kupang pada tahun 2017 lalu, merasa prihatin dan terpanggil untuk mengabdi sebagai guru di pedalaman papua.

Pemuda asal Malaka ini akhirnya lulus setelah melalui beberapa tahapan seleksi GPDT di Kupang pada Juni 2019 dan bergabung dalam GPDT angkatan IV yang berjumlah 186 Orang yang diberangkatkan ke Papua.

Kanis adalah aktivis pemuda yang aktif berorganisasi semasa kuliahnya baik organisasi mahasiswa intra kampus dari jenjang Prodi, Fakultas dan Senat Mahasiswa Universitas maupun organisasi mahasiswa ekstra kampus baik lokal dan nasional.

Mantan Ketua umum Ikatan Mahasiswa Malaka(IMMALA) Kupang ini mengakui bahwa berbagai pengalaman organisasi yang diperolehnya itu turut berkontribusi bagi dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan di pedalaman Papua terutama dalam proses beradaptasi dengan lingkungan sosial budaya masyarakat pedalaman Papua.

Seperti yang ditulis pada halaman facebook Kanisius Usfinit yang banyak dibagikan oleh netizen, Kanis menceritakan kondisi sekolah tempat ia mengabdi yakni SD Negeri Amajaman, Kampung Masin, Distrik Obaa, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua.

Dalam tulisannya, Kanis mengungkapkan sempat meneteskan air mata ketika pertama kali tiba dan menyaksikan sebuah sekolah yang jauh dari bayangannya sebelumnya, dimana sekolah itu hanya beratapkan daun sagu yang sudah reot dan berlubang dengan jumlah ruangannya hanya dua ruangan kelas berlantai tanah. Tempat duduk siswa tanpa meja, hanya berupa tempat duduk papan panjang sekitar 2 meter yang dipaku pada dua tiang penyangga serta dinding papan yang dipaku melintang setinggi dada.

Sempat ditanya oleh Bapak Philip selaku orang dinas yg mengantarnya, apakah Kanis ingin pindah ke sekolah lain?, namun dengan tegas Kanis menjawab tidak. Dirinya siap mengabdi di sekolah ini. Terbersit dalam banyangannya, Kalau dia minta pindah, bagaimana dengan nasib pendidikan anak-anak disini?

Saat mulai bertugas mengajar, Kanis selalu mensiasati kondisi sekolah itu dengan sekolah berpindah-pindah. Saat panas matahari langsung menembus ruang kelas maka kegiatan kelas berpindah di bawah pohon dan saat hujan anak-anak belajar di Gereja atau Dermaga.

Kampung Masin merupakan daerah bagian dari distirk Obaa tetapi susah dijangkau karena transportasinya yang hanya melalui sungai namun bagi Kanis ini tidak menyurutkan semangat dan dedikasinya untuk kemajuan pendidikan di tanah Papua.

Dikisahkan Kanis, di tengah keterbatasannya kampung Masin juga mempunyai potensi yang luar biasa yakni hasil alam seperti Gaharu dan Ikan Arwana serta perilaku masyarakat yang ramah dan peduli dengan pendidikan dan sangat menghormati guru, baik itu para orang tua siswa maupun tokoh masyarakat di kampung itu. Hal ini merupakan inspirasi tersendiri bagi Kanis dalam mewujudkan mimpinya.

Harapan Kanis kiranya SDN Amajaman bisa mendapat perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk segera dibuatkan gedung yang layak agar anak-anak dapat memperoleh tempat belajar yang baik dan nyaman.

Menurutnya, sejatinya pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa Indonesia terlebih untuk Kabupaten Mappi sendiri sesuai dengan misi besar Presiden Jokowi menciptakan SDM Unggul Indonesia. (JM/ND/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan