oleh

Sosialisasi Peran Pengasuhan dan Dampak Kekerasan Terhadap Anak

-News, Ngada-598 views

Foto: Lidwina Dhiu Menyampàikan Materi ‘Pola Pengasuhan Dan Dampak Kekerasan Terhadap Anak

RADARNTT, Bajawa – Kegiatan Jambore PKK diisi dengan kegiatan sosialisasi tentang ‘Peran Pengasuhan dan Dampak Kekerasan Terhadap Anak’ di Kecamatan Wolomeze (Rabu, 14/08/2019).

Sosialisasi pengasuhan ini menghadirkan dua narasumber dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Ngada, Maria Dolorosa Nay dan Lidwina Dhiu.

Ketua TP PKK Kabupaten Ngada Ny. Kurniaty Soliwoa yang hadir serangkaian kegiatan Jambore PKK memberi apresiasi penyelenggaraan kegiatan ini dan langsung mengikutinya hingga selesai. Dia bahkan meminta agar kegiatan seperti ini diintegrasikan dengan desa model PKK yang sudah dibentuk Ny. Kurniaty ingin upaya mengatasi masalah kekerasan terhadap anak terus diperhatikan dan menjadi salah satu program di desa model PKK.

Hadir pada kegiatan sosialisasi itu Camat Wolomeze Kasmin Belo dan Ketua TP PKK Wolomeze Ny. Nurhayat S. Belo, para TP PKK desa, para kepala desa, para guru, para kader PKK dan para siswa remaja putri.

Sayangnya tidak banyak laki-laki yang ikut kegiatan ini, kecuali para kepala desa. Padahal kegiatan macam ini sangat baik melibatkan para laki-laki sehingga membangun pemahaman yang sama dalam pola pengasuhan anak.

Kegiatan ini, kata Ketua TP PKK Wolomeze, Ny. Nurhayat, untuk memberi gambaran yang jelas kepada orang tua dalam mengasuh anak di rumah sehingga dapat mencegah kekerasan terhadap anak yang belakangan terus meningkat. Karena itu kegiatan semacam ini sangat strategis agar orang tua tau bagaimana pengasuhan anak yang tepat.

Pola Pengasuhan

Lidwina Dhiu atau yang akrap disapa Winda dari P2TP2A mewarnai sosialisasi tentang pengasuhan anak dengan contoh-contoh praktis. Dia juga memperlihatkan bagaimana contoh ril pengasuhan anak yang salah.

Salah satu contoh, kata Winda, orang tua menjadikan HP sebagai ‘obat penenang’ bagi anak. Dengan begitu orang tua bisa bebas ngerumpi atau kesenangannya sendiri. Mereka lupa bahwa HP yang diberikan kepada anak membuat anak tenang dan asyik bahkan hingga menikmati tayangan yang syur di layar HP. Winda menunjukkan hal itu sebagai awal mala petaka yang disebabkan salah pengasuhan, dan masih banyak lagi.

Hal lain yang disoroti Winda adalah kesibukan orang tua dengan banyak urusan sehingga mengabaikan anak. Sibuk urus rumah tetapi lupa beri perhatian pada anak. Karena itu, Winda mengajak para orang tua agar selalu memanfaatkan waktu luang bercengkrama dengan anak. Kalau dia pulang sekolah beri perhatian dengan menanyakan pelajaran di sekolah, peluk dia sehingga anak merasa dikasihi. Karena saat kita memeluk anak aliran energi kasih sayang akan mengalir ke anak.

Ada orang tua yang senang rumahnya rapih. Kalau anak buat berantakan malah dibentak-bentak. Jadi anak diabaikan hanya karena ingin rumah teratur. “Itu juga baik. Tapi jangan salah ketika anak sudah besar kita akan merindukan suasana rumah yang berantakan itu. Merindukan lagi suara mereka yang ribut dulu kala masih kecil. Padahal saat kecil itulah kita punya momen liat rumah berantakan dan suara ribut mereka. Setelah besar, itu semua akan hilang dan kita akan merindukannya lagi,” urai Winda.

Pengasuhan, ada dua yakni pengasuhan fisik dan psikis. Kepada peserta Winda bertanya, ‘sudahkah anda memeluk anak anda hari ini? Karena tindakan kecil justru dapat mengalirkan energi dan perasaan kepada anak. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari banyak orang tua tidak peduli dengan anak. Mereka pergi tinggal pergi, tanpa diketahui orang tua. Begitu juga ketika mereka pulang rumah, orang tua biasa-biasa saja tanpa ekspresi,” bebernya.

Jadi jangan heran kalau anak tidak betah di rumah, karena mereka memang tidak diperhatikan. Orang tua lebih sibuk dengan HP, kemudian tertawa sendiri. Makanya ada pengalaman di suatu keluarga anak marah orang tua. “Iya sama HP tertawa-tertawa tetapi dengan anak sendiri tidak pernah,” ucap winda mencontohkan.

Dalam mengasuh anak, beber Winda, harus kenali karakter mereka. Semua anak tidak sama karakternya, karena itu cara pengasuhan juga berbeda. Kenali juga minat mereka, dan hindari paksa anak harus begini dan harus begitu.

Pada kesempatan itu, para peserta tampak antusias menyimak apa yang disampaikan narasumber. Kadang peserta juga tertawa geli karena apa yang disampaikan narasumber mengena pada diri mereka yang selama ini salah dalam pengasuhan anak, sehingga tampak anggukan kepala tanda sepakat dengan penyampaian narasumber.

Peran P2TP2A

Sementara di bagian lain Maria Dolorosa Nay, yang juga Ketua P2TP2A menyampaikan tugas dari lembaga yang dipimpinnya. P2TP2A, kata dia adalah sebuah lembaga yang dibentuk dan dikukuhkan dengan SK Bupati dalam menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Ngada.

Kata Ros Nay, P2TP2A adalah pusat kegiatan terpadu yang menyediakan pelayanan bagi perempuan dan anak korban tindak kekerasan di Kabupaten Ngada yang meliputi pelayanan medis, Pelayanan hukum, Pelayanan Psikis dan Pelayanan Rehabilitas Sosial.

Pada kesempatan itu, Ros juga mensheringkan pengalaman dalam melakukan pendampingan kepada para korban kekerasan bersama tim P2TP2A. Dia berharap sosialisasi ini menjadi momen bagi semua untuk mencermati betapa kasus kekerasan terus bertambah menimpa perempuan dan anak. Mereka ini adalah kelompok rentan yang kadang tidak berdaya menerima perlakukan kekerasan.

Ros juga sepakat dengan rencana Ketua TP PKK yang menyertakan program sosialisasi dan penanganan korban kekerasan perempuan dan anak melalui desa model, salah satunya desa model di kecamatan Wolomeze. Diharapkan upaya demi upaya dapat menumbuhkan kesadaran guna menekan angka kekerasan yang terus terjadi. (FRANSISKUS/SET/R-N)

Komentar

Jangan Lewatkan