oleh

SPBU Rusak Tanah Air

RADARNTT, Kalabahi – Mencengangkan situasi terkini di lokasi pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Fatau Desa Waisika, Kecamatan Alor Timur Laut, Kabupaten Alor.

Bisa dikembangkan menjadi SPBU Apung pertama dan satu-satunya di daerah itu, karena bangunan itu berada tepat di atas genangan air bervolume besar. Bagaikan kolam ikan, lubang penggalian yang diduga akan dijadikan tempat pembenaman tangki BBM.

Hasil pemotretan situasi terkini di lokasi itu, yang diabadikan Minggu, 30 Juni 2019, oleh aktivis Aliansi Peduli Lingkungan Hidup (APLH) Kabupaten Alor, Dedoris Letmau.

Cukup jelas terlihat dengan telanjang mata, nampak lubang menganga tergenangi air di kedalaman hampir 4 meter dari permukaan tanah, dan kedalam air mencapai kurang lebih satu meter.

Pemerhati masalah lingkungan hidup, pertanian, perikanan dan kelautan, Edgar Plaimo, mengungkapkan keprihatinannya dan menegaskan agar lokasi SPBU itu dipindahkan. Karena, menurutnya jika dipaksakan akan menimbulkan dampak berbahaya bagi lahan pertanian dalam jangka waktu dua sampai tiga tahun ke depan.

“Memprihatinkan kondisi ini, coba diskusi dengan para orang tua dan pihak terkait untuk kalau bisa pindahkan lokasi SPBU. Soalnya, 2 atau 3 tahun lagi dampaknya akan berbahaya terhadap lahan persawahan di bawah itu”, harap Plaimo, via whatsapp, Minggu, (30/6/2019)

Ia mengatakan dampak kerusakan lingkungan tidak terasa saat ini, tetapi dalam jangka panjang. Namun, lanjutnya, dengan melihat situasi yang ada saat ini maka tidak membutuhkan waktu lama dampak buruk itu terasa nyata karena lokasi di tanah berair.

Lokasi yang seperti itu, kata Plaimo, tentu tekstur tanahnya lembut dan berlumpur, sehingga meskipun dipadatkan sedemikian rupa dengan cara apapun akan tetap basah karena rembesan air yang meresap terus menerus akan menyebabkan tanah labil dan ambruk bangunan.

Ambruknya bangunan itu, sambung Plaimo, berakibat merusak tangki BBM dan tumpahan minyak akan tercampur dengan air tanah. Sehingga, katanya sangat berpotensi merusak air dan tanah di lokasi itu.

“Jika sudah tercampur minyak, air dan tanah tidak bisa dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Zat kimia dalam minyak akan merusak unsur hara tanah dan air, sehingga tidak bisa menjadi media hidup tanaman pertanian”, tegas Plaimo.

Dalam rintih dan kesal, mereka meminta penguasa dan pengusaha agar memindahkan lokasi SPBU. “Jika tidak bisa pindahkan SPBU, pindahkan saja lahan sawah yang menjadi sumber penghidupan kami”, teriak sejumlah ibu-ibu petani dalam aksi ujuk rasa belum lama ini.

Bagaimana mungkin memindahkan lahan sawah seluas 76 hektare lebih, dengan pemilik ratusan orang petani. Oleh karena itu, seperti himbauan Edgar Plaimo dan ibu-ibu petani agar lebih tepatnya memindahkan lokasi SPBU ke tempat lain yang kecil resiko dampak lingkungan.

Tetua adat setempat, juga sudah membuat ritual adat larangan membangun di lokasi itu, dengan tanda pukul gong dan gantung daun. Mereka bersedia merelakan lokasi baru yang lebih layak dan strategis. Tidak merusak lingkungan dan mudah dijangkau oleh semua.

Mereka sangat menaruh harap, ada kebijaksanaan dari para pemangku kepentingan, terutama Pemerintah Daerah Kabupaten Alor dan PT. Ombay Sukses Persada berempati dengan petani yang sedang menjerit susah.

Di ujung megaphone dan ruang temu diskusi kritis, aktivis APLH tak henti meneriakan lindungi tanah dan air, dari kerusakan akibat kontaminasi zat berbahaya dari minyak dan bahan berbahaya lainnya. Hemat mereka, tanah dan air adalah aset vital yang harus dijaga, diwariskan kepada anak cucu.

“Bumi ini warisan anak cucu, kita bertugas rawat dan kembalikan ke sang pemiliknya”, tegas kaum muda progresif.

Bapak Bangsa Indonesia, Presiden Soekarno pernah menegaskan, “Kalau kita tidak bisa menyelenggarakan sandang, pangan di tanah air yang kaya ini, maka sebenarnya kita sendiri yang tolol, kita sendiri yang maha tolol”. (TIM/R-N)

Komentar