oleh

Sukses Menggunakan Statistik

Oleh: Vincent Gaspersz

Kesuksesan ditentukan oleh bagaimana kemampuan kita menggunakan tiga tingkatan statistik yaitu: Statistical Thinking, Statistical Engineering, and Statistical Tools.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Nadiem Makarim pernah mengungkapkan dalam pidato bahwa yang dibutuhkan dalam era industri 4.0 dan masyarakat 5.0 adalah pelajaran yang berkaitan dengan Statistika, Psikologi, Programming, dan lain-lain.

Khusus untuk pelajaran statistika, saya meyakini 99,99% yang dipahami oleh banyak orang bahkan sang Menteri millenial adalah berkaitan dengan statistical tools yang berkaitan dengan pengolahan data menjadi informasi saja. Jika hal ini benar demikian, maka jangan pernah mengharapkan mereka yang ahli statistical tools ini akan mampu menyelesaikan permasalahan akut yang berkaitan dengan sistem pendidikan di Indonesia.

Mengapa demikian?

Karena sampai dengan saya lulus dari program pascasarjana (S2) statistika terapan, hanya statistical tools ini yang dipahami oleh saya, seolah-olah memang itu adalah ilmu statistika yang sesungguhnya.

Padahal ilmu statistika itu terdiri dari tiga tingkat mulai dari tingkat paling bawah adalah statistical tools, tingkat menengah adalah statistical engineering, dan tingkat paling tinggi adalah statistical thinking.

Juga ingat berdasarkan model DIKUW (Data – Information – Knowledge -Understanding – Wisdom), kita tidak akan pernah mencapai wisdom (hikmat/kebijaksanaan) apabila hanya berhenti sekedar pada menghasilkan informasi saja, seperti yang terjadi pada sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini.

Jika kita hanya menguasai “Statistical Tools”, maka dalam posisi manajerial suatu organisasi apapun (swasta maupun publik/pemerintahan) kita hanya akan menjadi bawahan sebagai tukang mengolah data untuk menghasilkan informasi saja.

Selanjutnya jika kita hanya menguasai “Statistical Engineering”, maka kita akan menjadi “Process Engineer” juga sebagai tukang memperbaiki proses-proses operasional sistem saja.

Tetapi jika kita menguasai “statistical thinking”, maka kita akan mampu memperbaiki sistem (termasuk Redesain/Desain Ulang Sistem) untuk meningkatkan kinerja sistem apapun juga (semua sistem) agar memberikan kepuasan kepada pelanggan, pemegang saham, manajemen dan karyawan, dan stakeholders yang lain. Pemikiran Statistika (Statistical Thinking) adalah kombinasi dari berbagai pemikiran sistem secara holistik (Systems Thinking, Design Thinking, Creative Thinking, etc).

Tentu saja success dalam dunia nyata, apakah dalam organisasi bisnis dan industri, maupun organisasi publik (pemerintahan), atau lembaga swadaya masyarakat, harus berdasarkan kombinasi aplikasi attitude, knowledge, and skills secara terus-menerus melalui continual improvement and innovation yang berfokus pada pencapaian sasaran atau target-target terukur secara kuantitatif untuk memuaskan pelanggan, pemegang saham, manajemen dan karyawan, serta stakeholders yang lain.

Ikuti pemahaman saya ketika mulai belajar statistical tools, statistical engineering, sampai statistical thinking, sehingga telah meringkaskan bentuk aplikasi dari semua ilmu pengetahuan dan teknologi apapun yang dipelajari. Jika hal-hal yang dipelajari itu mampu menjawab semua aspek, maka kita akan success dalam dunia nyata. Tetapi jika tidak, maka kita akan selalu gagal terus-menerus. Jenis maupun level pendidikan apapun yang diikuti, seharusnya membentuk pemikiran sistem seperti ini.

 

Penulis adalah Lean Six Sigma Master Black Belt and Certified Management Systems Lead Specialist

Komentar