oleh

Wagub NTT: Ya, Saya Harus Omong Terus Terang, Dia Bukan Mahasiswi.

RADARNTT, Kupang – Kunjungan Wakil Gubernur NTT, Yoseph A. Nae Soi bersama rombongan saat mengikuti dialog tatap muka bersama TKI Flobamora yang berada di Hongkong, (Minggu, 27/01/2019), bagi sebagian warga NTT yang berada di luar negeri khususnya Hongkong, hal tersebut merupakan suatu bentuk perwujudan kerinduan luar biasa yang dikemas bukan hanya sekedar narasi permainan bahasa namun diwujudkan dalam tindakkan konkrit yang direalisasikan oleh pemerintah Provinsi NTT.

Dialog yang terjadi berlangsung atraktif dan menarik serta disuguhkan dengan suasana kekeluargaan sehingga tidak terkesan monoton atau pun tegang.

Saat itu penanya pertama, Amaris mempertanyakan tentang program apa saja yang sudah di kerjakan oleh Gubernur dan Wakil gubernur. Dalam penjelasannya wakil gubernur mengatakan selama kurang lebih empat bulan menjabat sebagai gubernur dan wakil gubernur sesuai dengan visi mereka dari Viktory Joss disebutkan pertama, NTT bangkit, NTT Sejahtera. Mengapa NTT bangkit karena NTT selalu terpuruk. Kedua, minat literasi yang rendah. Ketiga, NTT merupakan provinsi nomor empat terkorup. Oleh sebab itu, kami melepaskan jabatan kami masing-masing lalu pulang ke NTT untuk memperkuat dan membenahi NTT.

Pada hari pertama menjabat sebagai wagub saya melihat kamar WC kotor saya perintahkan untuk membersihkan WC, memberikan sangsi kepada 70 pegawai untuk mengenakan rompi orange atas tindakkan indisipliner, moratorium pengiriman tenaga kerja ke luar negeri, moratorium tambang, jalan desa serta pariwisata dijaga secara atraktif.

Penanya kedua, Tina Kana menanyakan tentang kapan NTT akan maju dan pertanyaan dari Lusia dengan fokus pertanyaan yang berpusat pada masalah perdagangan manusia (human trafficking) di NTT yang dari tahun kian meningkat khususnya tahun 2018 bahkan mencapai 128 jiwa yang kembali dalam keadaan sudah tidak bernyawa lagi, pertama, langkah kongkrit apa saja yang dilakukan untuk mencegah keberangkatan. Kedua, meskipun sudah dibentuk tim khusus untuk mencegah keberangkatan TKI dan TKW melalui Dinas Nakertrans Provinsi NTT, apakah hal itu efektif sebab beberapa waktu lalu Satgas Nakertrans sempat menahan perjalanan seorang mahasiswa asal Alor yang berkuliah di Yogyakarta karena di duga sebagai TKW yang akan berangkat untuk bekerja di luar negeri hanya karena ciri fisik. Ketiga, bagaimana nasip warga NTT yang digagalkan keberangkatannya dan dikembalikan ke kampung halamannya, sudahkah pemerintah menetapkan program untuk menyediakan lapangan kerja. Ke empat, bagaimana dengan TKI/ TKW yang saat ini berada di luar negeri dan belum memiliki dokumen-dokumen lengkap, adakah cara mengantisipasi agar pulang tidak dalam keadaan mengenaskan atau pun terbujur kaku.

Wagub dalam penjelasannya menyampaikan, kasus mahasiswi itu sebenarnya kasus dari 1000 orang hanya satu kasus yang belum pasti kalau dia itu adalah seorang mahasiswi sebab banyak sekali calo mempergunakan orang-orang seolah-olah dia bikin KTP palsu, kartu mahasiswa palsu kemudian dia mau ke luar negeri. Tidak ada rasis yang dituduhkan, tidak ada yang mengatakan bahwa dia tampangnya kampungan. Terus, ada bahasa-bahasa yang mengatakan, kampungan; tidak ada sama sekali. Memang ini calo lebih hebat dan lebih canggih, dia bikin demo seburuk rupa dan bikin diri seburuk rupa lalu mengatakan ini satgas tidak becus supaya terlena dengan hal-hal ini mereka bolek kirim orang dan sebagainya.

Lebih lanjut ia mengatakan, kita tidak melarang hak asasi orang tetapi tolong mereka untuk ikuti UUD 1945 mengakui kewajiban asasi manusia. Oleh sebab itu, kami akan tetap, kami tidak akan mundur. Saya dan pak Gub sudah memberitahukan kepada ibu Kadis supaya jangan mundur.

Kebetulan ibu kadis adalah seorang wanita yang tegar. Kalau di Inggris ada Margaret Thatcher maka di NTT ada Sisilia Sona. Bila anda melihat di Facebook mereka memaksa kepala Dinas untuk keluar, ia keluar. Suruh ke DPR: mereka mengatakan kamu ikut kami ke DPR, Sisilia Sona bilang tidak, kalau anda perintah saya; saya tidak ikut. Kalau DPR yang perintah saya, saya ikut, lalu dia masuk ke dalam.

Jadi memang isu di luar sangat luar biasa, bukan kami membela diri tetapi kami mau membenahi satgas. Betul, kami ada kekurangan tetapi dari kasus kemarin kami akan buka bulan depan. Kami kumpul dulu data-datanya karena sangat indah mereka bikin ini, dari kartu mahasiswa adiknya menjadi kakaknya; dapat dikatakan anak kembar, tahun lahirnya juga beda, itu semuanya beda. Masa ini mahasiswi mau pergi lagi tidak tau apa-apa dan tampangnya, ya saya harus omong terus terang dia bukan mahasiswi. Saya dosen, saya baru 30 tahun menjadi dosen jadi saya tahu.

Sisilia Sona menambahkan, penjelasan terkait langkah-langkah yang sudah ditempuh untuk mencegah pemberangkatan TKI ke luar negeri. Pertama, kami sudah menyiapkan skema dari hulu sampai ke hilir. Dari hilir yakni kami mencoba untuk membentuk tim terpadu keberangkatan non prosedural yang kami bentuk dari desa, kecamatan, kabupaten sampai provinsi yang mana tugas kami adalah melakukan pendataan sebab sampai saat ini kami belum bisa memastikan berapa data TKI non-prosedural yang ada di luar NTT atau yang prosedural berkisar antara 1500- 2000 tetapi kalau yang ditanya non-prosedural sangat banyak dan tidak terdaftar secara baik sehingga hampir setiap saat dan sekarang saja sudah sekitar 8 jenasah pada bulan januari. Ke dua, yang kami lakukan ketika TKI hendak berangkat ke luar negeri, kita berlakukan kepada seluruh perusahaan dan ia sendiri sudah bertemu 27 perusahaan yang sudah terdaftar untuk melakukan pendidikan baik negeri maupun swasta untuk melaksanakan pendidikan sehingga mereka memiliki keterampilan dan diuji kompetensi, apakah mereka mampu atau tidak. Disamping itu, sebelum berangkat ada perjanjian kerja antara pencari kerja, perekrut, dan pihak perusahaan yang akan menerima mereka untuk bekerja sehingga dapat dipastikan perlindungan saat sebelum keberangkatan dan saat kembali ke Indonesia. Ketiga, yang akan dilakukan pemerintah ketika TKI kembali ke Indonesia.

Langkah awal dengan melakukan advokasi dari kepada seluruh masyarakat NTT ketika hendak bekerja di luar negeri, silahkan tetapi ikut prosedural, lebih lanjut ia mengatakan, semua disiapkan dengan sistim datu atap; kalau mau betangkat silahkan datang dan kami siap memberikan langkah terbaik untuk memberikan perlindungan terhadap warga NTT. Desa desmigrafi juga disiapkan bagi anak-anak yang ditinggalkan oleh bapak atau ibunya dalam upaya pendampingan supaya mengikuti pendidikan secara baik bila ayah atau ibunya keluar dari wilayah NTT.

Disamping itu, kita juga memberikan pendampingan untuk melakukan usaha-usaha produktif dan sekarang ini ada KUR yang sangat mudah termasuk untuk TKI ketika kembali supaya dijadikan modal usaha. Ia menambahkan, ketika mereka melakukan usaha-usaha produktif, pemasaran juga disiapkan dengan langkah-langkah yang tepat. (Vinsen/SET/RN).

Komentar