oleh

Yoseph Nae Soi Sebut,  “Dari Kartu Mahasiswa Adiknya menjadi Kakaknya, dapat dikatakan anak Kembar.”

RADARNTT, Kupang – Yoseph Nae Soi bersama rombongan saat mengikuti perayaan Natal bersama komunitas FLOBAMORA Hongkong – Macau dengan tema “Kitong Semua Untuk Indonesia” pada Minggu, 27 Januari 2019, pukul 14:30 – 18:00 waktu setempat di St. Paul’s Convent School (Primary Section) mengatakan, “Dari kasus kemarin kami akan buka bulan depan. Kami kumpul dulu data-datanya karena sangat indah mereka bikin ini. Dari kartu mahasiswa adiknya menjadi kakaknya; dapat dikatakan anak kembar. Tahun lahirnya juga beda, itu semua beda. Masa ini mahasiswi mau pergi lagi tidak tau apa-apa.”

Pernyataan yang dilontarkan entah didasarkan pada fakta-fakta obyektif yang didukung oleh data-data empiris yang memadai atau hanya sekedar pernyataan subyektif yang sontak membuat berang Aliansi Pemerhati Kemanusiaan (APK) yang merupakan koalisi dari organisasi Kemanhuri, FMN Cabang Kupang, Ikmahwel, Imahlolong, Semata, Permapar, Permata, Ikmas Abad, PMNK STKN KPG, Himpunan Undana, Himap menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Polda NTT dan Kantor Gubernur Provinsi NTT (Jumat,  08/02/2019).

Yohanis Lamkari dalam orasinya saat berdemo di depan kantor Polda NTT mengatakan, “Kami mahasiswa masih turun ke jalan dan mempertanyakan persoalan Selvina M Etidena asal kabupaten Alor yang ditahan di bandara Eltari Tanggal 4 Januari 2019 dan proses hukumnya sudah berjalan tetapi sampai dengan hari ini sesuai dengan kesepakatan audiens Tanggal 25 Januari 2019 melalui Kapolda NTT yang saat itu mengatakan bahwa kasus Selvina M Etidena akan segera dituntaskan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. “Ada apa dibalik semuanya itu sehingga persoalannya sampai hari ini masih dalam proses penyelidikan, penyelidikan dan penyelidikan?” tanyanya.

Lebih lanjut, Efi Famani dalam orasinya menegaskan, hingga saat ini kami belum mendengar penyelesaian kasus tersebut. Kami datang ke sini karena kami tahu kami memiliki peraturan, kami tahu pemerintah mampu menyelesaikan masalah ini. Namun, hingga saat ini persoalan itu didiamkan saja tanpa bertindak apapun. “Bertindaklah sesuai aturan dan keadilan, jangan diamkan seperti kutu busuk di dalam sangkar,” ucapnya.

Kami minta keadilan, negeri ini selalu mempermainkan kami rakyat kecil, kami rakyat kecil mau kemana? Oleh sebab itu, kami datang untuk meminta keadilan kepada Kapolda NTT, berikan kami keadilan kepada rakyat-rakyat kecil yang dianggap rendah, yang dianggap tidak mempunyai apa-apa tetapi kami juga mempunyai hak. Oleh sebab itu, kami meminta hasil audiens tanggal 25 Januari 2019,” tegasnya.

Salah satu sumber kepolisian di Polda NTT yang enggan menyebutkan namanya saat ditemui oleh tim RADARNTT (Jumat, 08/02/2019), di ruang kerjanya menyampaikan, “Kami akan memfasilitasi dan akan memberikan informasi hanya sekarang pak Kapolda dan Kabid sedang melakukan kegiatan Ungket di Polres Ngada.”

“Masalah ini sudah diproses, bahkan Plt. Kepala Dinas Nakertrans sudah dipanggil oleh para penyidik. Sampai sejauh mana proses penyelidikan yang dilakukan oleh para penyidik tunggu pak kabid, tentu hasilnya akan kami beritahu,” ungkapnya. (TIM/RN)

Komentar