oleh

Ada 881 ODP di NTT, 20 Orang Status PDP

RADARNTT, Kupang – Sejak awal Maret 2020, ODP dan PDP di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berjumlah 881 orang. 177 dari 881 orang dinyatakan sembuh atau selesai pemantauan dan 20 orang diantaranya dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Hal ini disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 provinsi NTT, Marius Jelamu, melalui telewicara pada Minggu, (5/4/2020) pukul 21:00.

Terkait sejauh ini ada banyak kasus positif corona yang kemudian diketahui asymptomatik. Hasil pengecekan suhu tubuh menggunakan termogan atau termometer scanner bisa tricky (=penuh tipu daya, disengaja, intrik, red). Lalu seberapa ketat perijinan keluar masuk NTT untuk memastikan tidak ada kecolongan warga yang positif tetapi asymtomatik?

Marius Jelamu menegaskan, Pemerintah NTT sejauh ini tidak bisa melarang orang masuk NTT karena mereka sebenarnya kembali ke rumah setelah di PHK di daerah kerja mereka atau di daerah-daerah terpapar virus.

“Kita tidak mungkin melarang orang untuk masuk, karena mereka kembali ke rumah setelah terjadi PHK di daerah kerja atau di daerah-daerah terpapar virus, atau pelajar mahasiswa atau para pelaku ekonomi. Kita juga tidak bisa menghalanginya,” kata Marius.

Dia mengatakan, Pemerintah menerapkan kontrol secara ketat di pintu-pintu masuk pelabuhan laut dan bandar udara. Para medis dan Kantor Kesehatan Pelabuhan disiagakan satu per satu untuk mengontrol para pendatang dari luar NTT dan disiapkan alat health card dan setelah mereka isi, petugas akan mengikuti orang itu sampai ke rumahnya untuk memastikan.

Itu menjadi koordinasi semua infrastruktur pemerintahan, kata Marius, untuk mengontrol dan memastikan jikalau ia (orang yang masuk/datang dari luar NTT, red) misalnya adalah ODP, maka ia melakukan isolasi secara mandiri di rumah dan kalau ada tulisan klinis maka ia dirawat di rumah sakit.

Bisa saja NTT belum ada yang positif karena alat testnya tidak ada, apakah sejauh ini alat testnya tidak ada?

Juru bicara Penanganan Covid-19 NTT itu gamblang menjawab bahwa dokter-dokter dan para medis punya standar pemeriksaan pasien dan bagaimana pemeriksaan orang yang datang. “Ketika misalnya suhu tubuhnya di atas 38°C (derajat celsius, red) kita akan periksa secara ketat. Lalu kemudian pemeriksaan klinis menentukan dia harus rawat klinis, maka dia harus masuk rumah sakit dan dirawat di rumah sakit,” ujarnya.

Karo Humas dan Protokol Setda NTT itu menambahkan, selama ini untuk menentukan positif dan negatif itu berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium di Surabaya dan Jakarta.

“Sampai saat ini kita sudah mengirim 38 sampel ke Surabaya dan Jakarta dan 17 sampelnya negatif dan 21 sampelnya masih dalam proses. Kita tetap berdoa supaya hasilnya tetap negatif. Suatu saat ada kecolongan ya nanti kita akan buktikan,” tegas Marius. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan