oleh

Aksi Pentolan HTI di Kupang, Tamparan Keras bagi Penegak Hukum

-News-17.377 views

RADARNTT, Kupang – Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Timur, Ajhar Jowe menegaskan bahwa aksi pentolan organisasi terlarang Hisbuh Tahrir Indonesia (HTI) di Kota Kupang yang marak terjadi akhir-akhir ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah dan penegak hukum di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Sebab sejak HTI dibubarkan oleh Negara secara Nasional kita menyadari bahwa mereka tidak akan melakukan gerakan apapun, tentu pikiran kita hanya sampai disitu tetapi reaksi mereka tetap melakukan berbagai aktivitas hingga melakukan siaran langsung video rapat virtual di depan Kantor Gubermur NTT.

“Secara sengaja ataupun tidak sengaja pentolan HTI saudara Suryadi Koda lakukan aksi bebas menunjukan bahwa mereka itu ada di Kota Kupang.  Walaupun beberapa kali kegiatan mereka di Kupang selama tahun 2019 terus digagalkan oleh GP Ansor NTT. kemarin mereka berupaya dan reaksi kembali dan semakin berani di depan publik, kata Ajhar Jowe, kepada media di Kupang Minggu, (31/5/2020).

Menurut Ajhar, eks HTI beraktivitas di Kupang secara masif mereka melakukan gerakan konsolidasi dari rumah ke rumah. Sehingga pentolan HTI Suryadi Koda berani menunjukkan sikap mencoba publik NTT, Pemerintah, Polisi, TNI dan Badan Intelejen Daerah.

Melalui video itu, kata Ajhar, mereka lagi upaya ujicoba mengundang reaksi penegak hukum, pemerintah serta warga NTT. Karena semua elemen masyarakat NTT sudah menolak kehadiran mereka dengan berbagai cara apapun tetapi hari ini meraka tampil dan tampilan itu di depan Kantor Gubernur NTT. “Video itu mereka menunjukan kepada publik secara Nasional bahwa mereka masih terus hidup dan bergerak di Nusa Tenggara Timur,” jelas Ajhar.

Lebih lanjut dikatakan Ajhar, hal dilakukan pentolan HTI itu,  jangan salahkan mereka, yang perlu digaris bawahi adalah semua pihak lemah mengawasi kehadiran mereka di Nusa tenggara Timur. Mereka hanya sekelompok kecil tapi mereka mampu menggerakan berbagai aktivitas sampai menyebarkan melalui media penyebaran seperti media cetak, buletin serta melakukan video bebas. Itu mereka menganggap sudah ada kekuatan basis serta gerakan mereka di NTT khusunya di Kota Kupang.

“Salah satu strategis mereka lakukan jika mereka belum punya basis mereka diam dan tidak mau muncul di publik, ketika mereka sudah memiliki kekuatan atau basis maka mereka sudah berani menunjukan diri mereka dengan cara apapun. Artinya hari ini Suryadi Koda (Pentolan HTI) diamankan oleh polisi dan terus dilakukan proses hukum, sudah jelas pengganti Suryadi Koda sudah ada. Memang itu cara-cara melalui kaderisasi mereka sehingga sampai kapanpun mereka akan tetap ada di seluruh kota. Hari ini mereka sudah merelahkan Pentolan garis keras HTI di Proses hukum, terus publik membaca bahwa Suryadi Koda di prosea hukum dan selesailah gerakan mereka, maka kita tidak membaca hanya sampai disitu. Kami mau sampaikan gerakan mereka kalau kita jangan membaca secara lurus kita akan berhenti disitu, tetapi berbagai strategis mereka sudah desain dengan berbagai cara, maka penahanan Suryadi Koda bukan menyelesaiakan HTI di NTT dan bukan ending melemahkan sistem gerakan mereka, jelas Ajhar.

Tentu tidak demikian, karena pergerakan mereka yang begitu masif itu yang perlu antisipasi secara baik oleh pihak-pihak yang kompoten dan badan intelejen daerah.

“Perjalanan mereka di NTT terus kita ikuti bersama sejak Negara merencanakan untuk membubarkan HTI, sebelum dibubarkan saat itu saudara Sait Made mengundurkan diri dari Ketua HTI NTT, dalam perjalanan setelah Said mundur mandat ketua dipegang oleh Suryadi Koda hingga HTI resmi diberhentikan oleh Negara. Dengan ancaman apapun untuk mereka tentu mereka sudah mempersiapkan berbagai cara dan berbagai strategi. Ini hal yang perlu dicermati secara bersama oleh semua pihak,” tegas Ajhar.

Ironisnya, kata Ajhar, akibat gerakan HTI yang terus menunjukkan sikap di NTT akhirnya diberbagai medsos membuli agama Islam dengan berbagai komentar yang tidak sehat. Sampai dengan berbagai ancaman terus beredar di semua kalangan. Lebih ngeri lagi di grup facebook Viky Lerik.

“Kita memantau berbagai komentar menunjuk sikap rasa tidak suka dengan agama sangat terlihat, caci maki dan kata-kata yang tidak pantas dilontarkan. Sayangnya ko ulahnya HTI tapi agama diseret ke berbagai komentar,” tegas Ajhar.

Ajhar Jowe menegaskan, pemuda Ansor sejauh ini pun terus memantau gerakan mereka. “Tetapi kewenangan kita terbatas maka hanya sebatas memantau dan memberikan rekomendasi kepada pihak penegak hukum,” tandasnya. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan