oleh

Ansy Lema Pertanyakan Izin Investasi di Taman Nasional Komodo

RADARNTT, Jakarta – Politisi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema (Ansy Lema) mempertayakan izin investasi yang dilakukan di Taman Nasional Komodo (TNK) kepada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar, saat Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Rabu, (19/2/2020) lalu.

Untuk kedua kalinya Komisi IV DPR RI menggelar rapat kerja bersama KLHK dan pertemuan kali ini, Ansy Lema kembali menyuarakan persoalan izin investasi di Taman Nasional Komodo yang beberapa hari sebelumnya menuai demonstrasi masyarakat Manggarai Barat.

Pertama, terkait pemberian izin investasi dimana KLHK memberikan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) kepada dua perusahaan, yaitu PT SKL seluas 21,1 hektar di Pulau Rinca dan PT KWE seluas 151,94 hektar di Pulau Komodo dan 274,13 hektar di Pulau Padar. “Apa yang mendasari pemberian izin terhadap dua perusahaan tersebut untuk membuka usaha di ruang hidup komodo,” tanya Ansy Lema.

Dia berpandangan bahwa investasi dan konservasi adalah dua hal yang berbeda, sehingga tidak mudah untuk disatukan. “Apakah KLHK bisa menjamin investasi yang masuk tidak akan merusak keberlangsungan hidup komodo? Di sisi lain, apakah sudah ada kajian akademis yang komprehensif-interdisipliner terkait berbagai aspek mengenai TNK, seperti aspek ekologis, ekonomis, antropologis, sosiologis dan kosmologis,” tegas Ansy Lema.

Ia memberikan seruan tegas kepada KLHK agar tidak tunduk kepada investor. KLHK harus sangat berhati-hati dalam memasukkan investasi di wilayah konservasi seperti TNK.

Kedua, mengenai alih fungsi hutan Bowo Sie yang merupakan hutan tutupan Kota Labuan Bajo namun telah beralih fungsi menjadi kawasan pariwisata. Hutan seluas 400 hektar ini dikelola oleh Badan Otorita Pariwisata (BOP) Labuan Bajo dan dibagi kepada pihak swasta.

Pernah terjadi banjir di Labuan Bajo akibat alih fungsi Hutan Bowo Sie. “Apa yang menjadi dasar kajian pemerintah dalam mengubah status fungsi lahan Hutan Bowo Sie? Pasalnya, akan menjadi sangat tidak baik bagi pengembangan ekonomi apabila destinasi wisata kelas dunia seperti Labuan Bajo terkena banjir,” tegas Ansy Lema.

Diakhir pernyataannya Ansy Lema menegaskan kepada KLHK agar lebih hati-hati masuk ke kawasan TNK. Pembangunan pariwisata Labuan Bajo harus lebih memperhatikan nature dan pariwisata di daratan pulau Flores lebih mengeksplorasi culture.

Untuk itu, Ansy Lema juga meminta Menteri LHK untuk turun ke Labuan Bajo dan berdiskusi bersama aktivis konservasi lingkungan dan masyarakat agar ada kesamaan pemahaman melihat apa sebenarnya investasi di TNK.

Merenspons beberapa pertanyaan kritis Ansy Lema terkait investasi di TNK, Menteri LHK mengatakan akan memberikan jawaban secara tertulis. Namun prinsipnya, semua ini dilakukan berdasarkan kajian akademis dan sudah ada yang melakukan itu. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan