oleh

Antara Lab Biomolekuler, Swab Test, dan Petinggi Kota Kupang 

-News-1.204 views

Oleh: Lodimeda Kini

 

(Surat untuk Wakil Walikota dan Walikota Kupang)

Kemarin (22/9) di sebuah grup whatsapp yang diinisiasi Forum Academia NTT untuk secara khusus mencari jalan keluar bersama-sama menghadapi Covid-19, beberapa informasi dikirimkan. Ada dua hal yang menangkap perhatian saya. Pertama adalah beberapa rangkaian foto Laboratorium Biomolekuler hasil kerja kolektif yang dinahkodai Kak Fima Inabuy. Kedua adalah sebuah berita bertajuk “Pemkot Kupang Kaji Kemungkinan Swab Test Bagi Warga Kota” dengan foto Bapak Wakil Walikota Kupang tercinta yang menjadi sampulnya.

Tulisan ini akan menceritakan betapa saya tidak dapat mengerti kerumitan pengambilan keputusan oleh para petinggi di Kota Kupang, yang entah didominasi oleh kerumitan sistem birokrasi, kurangnya komunikasi, besarnya ego sektoral ataukah semata-mata hilangnya kemauan untuk bernegara dan bermasyarakatan dengan jujur dan berkeadilan, ketika mengamati proses pembangunan Lab Biomolekuler di Kota Kupang.

Jika empat bulan lalu kerja kolektif, sebut saja oleh Tim Jagung Bose ini masih sebatas kemauan baik seorang ahli biologi molekuler yang beradu dengan inisiatif seorang rekan insinyur Teknik Mesin untuk membuat mekanisme tes keliling yang melibatkkan metode qPCR, hari ini kita telah melihat sebuah Laboratorium yang hampir siap untuk beroperasi di level Provinsi NTT. Beberapa dari kita mungkin lebih senang menyebutnya: hanya sebuah lab, yang belum tentu bisa beroperasi, apalagi mengingat lab ini butuh pendanaan besar, apalagi juga selama ini mereka lebih banyak ‘mengemis’, mulai dari masalah makan siang, freezer, hingga instalasi listrik.

Terima kasih kepada artikel yang bersampulkan foto Bapak Wakil Walikota tercinta, berita itu mengingatkan betapa jauh, berliku, dan berbeceknya jalan yang telah ditempuh Tim Jagung Bose ini untuk dapat menghadirkan foto bertuliskan Laboratorium Biomolekuler Kesehatan Masyarakat Provinsi NTT di sosial media rekan-rekan pembaca.

Di suatu Sabtu, waktu itu tanggal 2 Mei, Kak Fima dan Om Ben sudah berada di ruang pertemuan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, bersiap untuk rapat dengan dua ide utama, yaitu (1) pegetesan massal dengan metode pooled test; (2) penggunaan mobil keliling untuk pengumpulan sample dari rumah ke rumah. Pada saat itu, jumlah kasus positif di Kupang barangkali baru satu atau dua kasus. Saat itu juga, Om Ben dan Om El menyerahkan sebuah alat sederhana yang berguna untuk mensterilkan masker N95 sehingga bisa digunakan kembali. Pembuatan mesin sederhana berbasis termodinamika dan perpindahan panas ini sebenarnya merespon ketimpangan pasokan-permintaan masker bagi tenaga kesehatan saat itu.

Dalam pertemuan dengan para pengambil keputusan di sektor kesehatan masyarakat pada level pemerintahan provinsi, Kak Fima membuka pemaparannya dengan penjelasan yang menekankan bahwa inisiatif Tim Jagung Bose ini murni untuk membantu, bukan untuk mencari proyek. Pertemuan itu berjalan cukup baik, setiap orang memberikan kesan bahwa ide Kak Fima dan Om Ben ini sangat baik, dengan beberapa catatan di kiri dan kanan, untuk menyempurnakan desain operasionalnya. Setelah pertemuan, Tim Jagung Bose lanjut untuk memperbaiki perencanaan tes massal tersebut karena saat itu Pak Kadis meminta rencana anggaran dari ide tes massal yang digagas.

Sambil menyelam minum air, Tim Jagung Bose menyempurnakan ide mereka dan memilih Kota Kupang sebagai kota pengujian konsep ini. Kabar baiknya, Bapak Wakil Walikota tercinta bersedia meluangkan waktu untuk mendengar ide mereka saat itu. Satu kali kerja untuk dua target, pemerintah provinsi dan pemerintah kota, harapannya strategi atas-bawah ini bisa mempercepat proses pengambilan keputusan. Pagi itu Tim Jagung Bose bertemu dengan Pak Wakil di ruangannya yang dingin dan nyaman itu duduk bersama. Walau diawalnya kerepotan mengoperasikan layar TV untuk menampilkan presentasi Kak Fima, pemaparan disampaikan dengan lancar.

Setelah pemaparan dari Kak Fima, Pak Wakil memberikan tanggapan yang kurang lebih isinya meminta tim untuk bertemu kembali. Beliau menyampaikan bahwa beliau bukanlah orang yang memegang kuasa untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu, pada pertemuan yang akan datang, akan diundangnya orang-orang ‘teknis’ yang dapat mengambil keputusan terkait ide tes massal tersebut, itu janjinya. Selain itu, ia juga memberikan kata-kata penguatan kepada tim, dalam kapasitasnya sebagai seorang dokter, katanya ia memahami dengan jelas pemaparan Kak Fima. Ia memahami bahwa ide ini merupakan ide dan inisiatif yang sangat baik. Namun, ide ini harus dipoles di sudut-sudut tertentu agar tidak menjadi benda yang asing ketika masuk ke sistem pencernaan birokrasi pemerintahan. Tim Jagung Bose pun pulang dengan penuh harapan di dalam hati mereka. Pak Wakil telah berhasil membakar semangat Tim Jagung Bose pada saat itu.

Tim terus bekerja, berpikir, berhitung dan bergerilya kiri kanan dalam usahanya mewujudkan tes swab massal ini. Pucuk dicinta ulam pun tiba, undangan dari Pemkot Kupang tiba, walau bukan lewat burung camar, undangan itu tetap menghangatkan hati para anggota tim. Kali ini bukan Pak Wakil yang kami temui, melainkan Bapak Plt Sekda Kota Kupang.

Pembicaraan cukup terasa getir saat itu. Pesan terbesar yang ditangkap oleh tim adalah bahwa mereka terlambat beberapa langkah dalam menyampaikan ide ini. Kata Bapak Plt Sekda pada saat itu, ide ini jelas pasti akan diimplementasikan jika saja tim ini menemuinya lebih awal, tepatnya sebelum dana dialokasikan untuk tindakan mitigasi lain yang telah dipilih pemerintah Kota Kupang. Sayang sekali, tidak ada yang tahu caranya memutar kembali waktu. Dengan setengah berat hati, tim kembali ke markas untuk mencari jalan lain.

Tidak putus asa, berbagai jalan ditempuh dan menunjukkan jalan terang. Tim Jagung Bose melakukan perekrutan tim laboran sembari bergerilya mengitari lab-lab yang ada di Kota Kupang. Tanyakan saja kepada Kak Fima, adakah lab berbau-bau biologi yang belum ia kunjungi di Kupang? Om El berulang kali mengatakan di berbagai kesempatan berdialog dengan para petinggi bahwa uang kita, maksudnya pemerintah daerah, tidak akan pernah cukup. Tetapi jika kita bekerja bersama, ada kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa ditempuh. Saya rasa pelatihan para laboran tim surveilens Covid-19 di NTT yang pada saat itu booming karena tidak mampu beli makan siang, telah menjadi bukti nyata. Kegiatan itu dilaksankan di Politani, dengan peralatan yang bersumber dari berbagai lab di Politani, dibantu oleh UPT Veteriner Dinas Peternakan Provinsi NTT, Dinas Sosial dan lain sebagainya.

Pak Walikota, setelah dikirimi surat cinta, berkenan juga menengok kegiatan Tim Jagung Bose di Politani. Lucunya, walau Pak Wakil, Pak Plt Sekda dan Pak Walikota berkantor di gedung yang sama, mereka rupanya tidak banyak saling berbicara. Pak Walikota mengaku belum mendengar apa-apa tentang insiatif yang diajukan Tim Jagung Bose.

Sebagai penonton dan pendengar, saya bertanya dalam hati, apakah arti setiap pertemuan yang kami lakukan selama ini. Apakah arti kesan ketertarikan dan dukungan yang ditunjukkan dari rapat ke rapat yang dilewati? Apakah Tim Jagung Bose yang salah jalur, ataukah memang ada jalur komunikasi di dalam gedung asri kantor walikota yang sedang terputus, ataukah memang pada dasarnya kata-kata dan kesan para petinggi hanyalah seperti alkohol pembersih yang berbau tajam sekejap lalu menguap tanpa meninggalkan bekas?

Ide kecil untuk melakukan tes massal berbasis biomolekuler telah berkembang manjadi semakin matang dan berpotensi mengambil peran penting pada sektor kesehatan masyarakat di Provinsi NTT tercinta kita. Alhasil, bertempat di Klinik Pratama Undana, dengan alat yang berasal dari berbagai “rumah”, dengan banyak printilan yang bersumber dari rekening-rekening pribadi warga NTT, lab biologi molekuler yang misi pertamanya adalah menyediakan tes swab massal bagi warga Kota Kupang selangkah menuju terwujud.

Mengenang perjuangan mereka mengumpulkan receh demi receh saya membantin. Di Kupang, atau di NTT ini memang aneh. Untuk yang penting dan prioritas orang ‘mengemis’ sedangkan yang untuk berfoya-foya uang seperti banjir tiada putus. Pesta dibuat tidak peduli dengan standar Covid-19. Para pejabat juga demikian tiada berbeda. Bertemu tanpa bermasker seolah hal biasa.

Rasa kedaruratan yang minim ini datang bersamaan dengan trend naik Covid-19 di NTT. Kali ini para pejabat Kota Kupang tidak siap. Kemarin mereka mengadakan rapid test massal sebanyak 500 biji. Hari Jumat akan dilanjutkan lagi. Entah berapa duit yang dihabiskan. Jika satu tes rapid dihargai 150 ribu, ada 75 juta rupiah yang dihamburkan percuma. Yang untung tentunya distributor dan mungkin para pejabat yang suka berdagang. Sebagai seorang dokter, tentunya wakil walikota tahu rapid test tidak efektif untuk mendeteksi. Kenapa Pemerintah Kota Kupang malah sibuk menghabiskan uang untuk rapid test massal yang tidak efektif? Di saat yang sama seharusnya mereka tahu para petugas hingga hari ini belum menerima bayaran uang jasa.

Bahkan dalam berita kemarin, harga swab yang dikutip wakil walikota Kupang adalah ‘harga Jakarta’, bukan harga Swab Kota Kupang. Saya sedih karena presentasi tim yang dipimpin oleh Kak Fima di depan wakil walikota dan walikota tidak menjadi bahan pemikiran. Pak Walikota masih sibuk dengan taman, dan trotoar, belum ada ide soal penanganan Covid-19. Sedangkan Bu Risma sudah bikin swab gratis.

Aduhai sayang seribu kali sayang, semoga kawan-kawan di Tim Jagung Bose tidak kecewa dan sedih mengenang perjuangan panjang, mengenang senyum hangat dan kata-kata penguatan dari Pak Wakil Walikota ketika membaca berita dengan wajah rupawan beliau di salah media online kita. Katanya, Pemerintah Kota Kupang sedang mengkaji faktor pembiayaan swab untuk warga Kota Kupang yang kembali setelah bepergian ke luar daerah.

Jangan sedih dan kecewa jika ternyata dalam kajian mereka, inisiatif Tim Jagung Bose tidak menjadi bahan pertimbangan, apalagi setelah beberapa kali bertemu dengan para petinggi di Kota Kupang. Memang kita sempat berharap banyak, apalagi mengingat salah satu orang penting dalam kursi kepemimpinan paham dengan sangat baik dunia kesehatan masyarakat. Jika yang lalu alasannya Tim Jagung bose terlambat, mungkin kali ini alasannya adalah karena langit masih biru dan rerumputan masih hijau.

 

Penulis Anggota Forum Academia NTT, Peneliti IRGSC (Institute of Resource Governance and Social Change)

Komentar

Jangan Lewatkan