oleh

Atonik Dukung Ketahanan Pangan NTT

-News-278 views

RADARNTT, Kupang – Mendukung pembangunan ketahanan pangan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), PT Oat Mitoku Agro melakukan sosialisasi produk Atonik 6,0 L zat perangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman kepada masyarakat petani di Kupang, Kamis (17/9/2020) di Hotel Neo Aston.

Direktur PT Oat Mitoku Agro, Suryadi Jaya dalam presentasi materi menegaskan, guna mensukseskan program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional PT Oat Mitoku Agro tak henti-hentinya memperkenalkan produk Atonik 6,0 L kepada masyarakat, khususnya para petani.

Kali ini petani di Nusa Tenggara Timur yang mendapatkan pengenalan dan edukasi tentang Atonik 6.0 L yang kaya manfaat bagi tanaman sebagai biostimulan yang dapat meningkatkan imunitas dan daya tahan tanaman serta mengurangi stres pada tanaman.

“Dengan begitu manfaatnya akan dirasakan langsung oleh petani, terlebih Atonik 6,0 L ini dapat digunakan pada berbagai jenis tanaman pangan, diantaranya padi dan jangung. Sedangkan untuk jenis tanaman hortikultura, produk ini dapat digunakan pada tanaman bawang merah, tomat, cabai, kentang. Untuk tanaman perkebunan, biostimulan ini juga dapat digunakan pada tanaman karet dan kakao,” jelasnya.

Suryadi menjelaskan berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB), Atonik 6,0 L terbukti mampu meningkatkan hasil panen padi per herktar hingga 25%, meningkatkan bobot biji kering jagung per hektar hingga 59%, meningkatkan hasil panen tomat per hektar hingga 41% serta meningkatkan hasil panen kentang per hektar hingga 76%.

“Dikenalnya Atonik 6,0 L oleh masyarakat luas, khususnya para petani, diharapkan petani Indonesia mampu meningkatkan kesejahteraannya melalui peningkatan hasil panen produk pertanian yang mereka geluti. Sehingga ketahanan pangan nasional pun semakin meningkat,” tandas Suryadi, kepada 100 lebih peserta yang datang dari puluhan Desa di kabupatem Kupang.

Untuk diketahui, PT Oat Mitoku Agro merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri dan pemasaran biostimulan tanaman dan pupuk. Salah satu produknya adalah Atonik 6,0 L yang telah masuk ke Indonesia lebih dari 40 tahun, tepatnya sejak tahun 1979. Atonik 6,0 L merupakan biostimulan atau senyawa anorganik yang mampu menstimulasi proses alami, mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Keunggulan tersebutlah yang membedakan Atonik 6,0 L dengan pupuk cair, insektisida maupun fungisida yang beredar di pasaran.

Kepala BPMPD kabupaten Kupang, Carles Panie, dalam sambutannya mengatakan Pemerintah kabupaten Kupang memiliki Program 5 P (pertanian, perternakan, perkebunan, perikanan, pariwisata) yang tentu akan mendapat dorongan melalui aplikasi zat pengatur tumbuh Atonik 6,0 L untuk mendapat hasil yang lebih optimal.

Ia mengharapkan agar dengan adanya sosialisasi ini, setiap desa akan lebih giat bekerja meningkatkan ekonomi melalui program 5 P, khususnya pertanian melalui aplikasi Atonik 6,0 L.

“Saya tidak memaksa tetapi desa yang bisa memilih untuk yang terbaik demi kemajuan masyarakat di desa,” tegasnya.

Dia menegaskan perlu ada kebun desa di setiap desa untuk mengembangkan potensi pertanian. Ada dapur hidup di rumah tangga, menanam sayuran di pekarangan rumah untuk kebutuhan harian.

“Kalau bisa ke depan ada perlombaan produk pertanian antar desa. Dan hasilnya bisa dipasarkan ke luar daerah,” kata Carles Panie.

Pada tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian kabupaten Kupang, Pandapotan Siallagan menyampaikan bahwa tantangan di NTT adalah kekeringan, pada Musim Tanam Satu di bulan Maret petani tidak bisa melakukan penanaman padi sawah tadah hujan karena kekurangan air atau kekeringan, karena curah hujan sangat kecil tahun ini.

“Solusinya kita memberikan bantuan benih tanaman yang umur pendek agar lebih cepat tumbuh dan panen. Kita meningkatkan produksi pada luas lahan yang sama dengan menerapkan bibit unggul, pupuk termasuk Atonik yang sudah lama ada namun belum familiar di petani kita,” kata Siallagan.

Menurutnya, meningkatkan produksi pertanian perlu digalakan untuk memenuhi konsumsi dan bisa dijual untuk kebutuhan lainnya.

Program tanam jagung panen sapi (TJPS), katanya, sudah mengantarpulaukan jagung ke luar NTT, kita harapkan dengan kehadiran PT OAT Mitoki Agrio bisa meningkatkan produksi pertanian.

“Ke depan pemerintah akan membangun 1000 sumur bor. Karena air merupakan kebutuhan pokok untuk air minum dan irigasi pertanian,” tuturnya.

Ia menyarankan agar dalam menentukan titik demonstrasi plot dapat memgambil satu titik di Sumalu antara desa Oeteta dan Pariti karena disana sedang dikembangkan tanaman jagung.

Kepala Desa Pariti Melkior Radja, usai kegiatan kepada media ini mengatakan, sosialisasi produk Atonik 6,0 L sangat bermanfaat menambah pengetahuan dan diaplikasikan dalam usaha pertanian di desa.

“Saat ini sedang pengembangan 100 hektar jagung program TJPS dari pemerintah provinsi maka bisa menggunakan produk Atonik sekalian uji coba,” kata Melkior.

Ia berharap program TJPS yang sedang dikembangkan pada lahan 100 hektar di desa Pariti bisa menggunakan produk Atonik 6,0 L, pada ukuran luasan lahan tertentu sebagai uji coba. Selanjutnya dapat dikembangkan pada tahun mendatang dengan luasan yang lebih besar maupun di desa lain.

Agustinus Tamo Mbapa (Gustaf) selaku Pemrakarsa Kegiatan Sosialisasi di NTT menyampaikan bahwa kegiatan sosialisasi hari ini merupakan yang ke delapan, setelah Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya di tahun 2020. Kali ini, kunjungan dan sosialisasi dimulai dari Manggarai Barat, Manggarai, ManggaraiTimur, Ngada, Nagekeo, Belu, TTU, TTS dan kabupaten Kupang. Dan sisa 10 daerah yang belum didatangi akan dijadwalkan pada tahun 2021.

“Kita bantu petani agar keluar dari kemiskinan,” kata Gustaf. Karena data menunjukkan sesuatu yang saling bertolak belakang, dimana sektor pertanian menyumbang terbesar PDRB NTT tetapi kemiskinan juga terbanyak adalah petani di desa-desa.

Oleh karena itu, Gustaf menegaskan, inovasi teknologi di bidang pertanian perlu ditingkatkan demi meningkatkan produksi dan produktivitas hasil usaha tani, yang tentunya akan memberikan dampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan petani.

“Salah satu cara untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian adalah aplikasi produk Atonik 6,0 L oleh petani. Produk ini sudah teruji dan lama digunakan di Jawa dan Sumatera sejak tahun 1979,” tegas Alumnus FIA Undana Kupang. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan