oleh

Core Bisnis PT Jamkrida NTT

RADARNTT, Kupang – PT Jamkrida NTT saat ini memiliki dua core bisnis yaitu Penjaminan Kredit dan Penjaminan Proyek. Demikian kata Direktur Operasional, Octaviana Ferdiana Mae dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD NTT pada akhir Juni lalu.

“Penjaminan kredit dilakukan dalam tiga bentuk: penjaminan kredit multiguna, penjaminan kredit produktif, dan penjaminan kredit konstruksi,” kata Sofi,-sapaannya.

Sedangkan penjaminan proyek, lanjutnya, dilakukan dalam dua bentuk: penjaminan Bank Garansi, dan penjaminan Surety Bond. Penjaminan proyek dilakukan terhadap proyek APBN dan APBD.

Ibu Sofi juga membeberkan data modal PT Jamkrida NTT per Mei 2020 sebesar Rp 75.250.000.000 yang bersumber dari penyertaan modal Pemerintah Daerah Provinsi NTT sebesar Rp 75.000.000.000 dan Gabungkan Koperasi Pegawai Negeri RI (GKPRI) Provinsi NTT sebesar Rp 250.000.000.

Dijelaskan Sofi, Gearing Ratio adalah batas pemberian Penjaminan sesuai POJK Nomor 2 tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Usaha Lembaga Penjamin yakni sebesar 40 x dari modal atau sebesar Rp 3.010.000.000.000, dimana gearing ratio (per Mei 2020) sebesar 30,13 x atau sebesar Rp 2.562.858.073.206.

Data per Desember 2019, PT Jamkrida NTT memiliki Aset senilai Rp 126.262.763.752, Modal Rp 75.250.000.000, Ekuitas Rp 85.131.440.661, Laba Rp 6.330.284.608, deviden Rp 3.051.000.000.

“Sebagai salah satu BUMD dalam menjalankan peran bagi pengembangan pelaku UMKMK, selama kurun waktu tahun 2015 sampai dengan periode bulan Mei 2020 tercatat 11.044 pelaku UMKMK Produktif yang mendapat jaminan usaha baik atas fasilitas pinjaman kredit oleh perbankan maupun dalam jaminan kegiatan proyek,” tutur Sofi.

Sofi juga menyampaikan target yang ingin dicapai PT Jamkrida NTT di tahun 2020 adalah peningkatan Aset menjadi Rp 172.613.000.000 (75,16%), Modal Rp 100.250.000.000 (75,05%), Ekuitas Rp 112.469.000.000 (75,63%), Laba Rp. 7.240.000.000 (64,64%).

PT Jamkrida NTT juga merencanakan pengembangan usaha di bidang Agency Penutupan Asuransi Kerugian. PT Jamkrida NTT bertindak sebagai agen marketing perusahaan asuransi dalam hal ini terhadap produk Penutupan Asuransi atas Risiko Kerugian Aset.

“Penutupan Asuransi Kerugian atas Obyek pertanggungan yang meliputi: aset yang merupakan aset tetap dan/atau inventaris baik dari mitra perbankan utama (Bank NTT) maupun dari aset milik Pemprov NTT dan tidak menutup kemungkinan untuk mitra-mitra perbankan/instansi/perusahaan lainnya, dan aset tetap yang merupakan Agunan Kredit dari Debitur mitra perbankan,” jelas Sofi.

Rencana pengembangan bisnis masih menunggu persetujuan dari pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sofi menyebutkan, ada dua pihak sebagai partner sinergi bisnis yaitu: PT Jasaraharja Putera sebagai pihak asuradur, dimana telah dilakukan penandatanganan MoU kerja sama, dan PT Bank NTT masih dalam proses draft Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Penutupan Asuransi Kerugian.

Program penanganan Covid-19 dan penyelamatan ekonomi daerah, terhadap mitra lembaga perbankan, PT Jamkrida NTT memberikan pembebasan Imbal Jasa Penjaminan (IJP) terhadap kredit yang direstrukturisasi oleh mitra penjaminan yang merupakan langkah kebijakan stimulus perekonomian nasional sebagai countercyclical atas dampak penyebaran coronavirus disease 2019.

Pada kesempatan RDP itu, Anggota Komisi III dari Fraksi NasDem, Inosensius Fredy Mui meminta pihak PT Jamkrida NTT untuk memperhatikan asas pemerataan dan keadilan, agar pemberian penjaminan kredit menyebar ke 22 kabupaten/kota.

“Jangan hanya di kota atau kabupaten tertentu saja dan berharap Bank NTT bisa bersinergi dengan PT Jamkrida NTT,” tegas Fredy Mui. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan