oleh

Dampak Psikologi Covid-19

-News-575 views

RADARNTT, Surakarta – Virus Corona atau Covid-19 yang semakin merebak di negara-negara besar termasuk Indonesia tidak hanya menyebabkan perbedaan dan penyakit fisik saja. Akan tetapi, juga memberikan kontribusi psikologis yang baik pada penderita atau masyarakat luas.

Psikolog Program Studi (Prodi) Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rini Setyowati, M.Psi., mengatakan, bagi penderita, psikologis yang bisa ditonton, seperti tertekan, stres, cemas saat didiagnosis positif Covid -19. Penderita bisa mendapatkan cemas atau khawatir tentang kompilasi privasinya atau identitasnya bocor untuk publik sehingga dikucilkan oleh lingkungan sekitarnya.

“Dalam kondisi ini, reaksi dari penderita dapat menjadi tidak jujur ​​dengan riwayat penyakit, perjalanan yang sebelumnya dan yang pernah terjadi dengan penderita Covid-19 lainnya kepada tenaga medis. Reaksi lainnya dapat melibatkan penderita yang dilindungi cemas atau khawatir tentang hasil yang lebih lambat setelah perawatan medis. Bagi masyarakat luas dapat menimbulkan perasaan tertekan, stres dan cemas dengan pemberantasan tentang jumlah penderita Covid-19,” kata Rini kepada uns.ac.id, Kamis (19/3/2020).

Jika ditambahkan, pemberitaan yang simpang siur atau kurang tepat dapat mengatasi stres pada masyarakat yang meningkatkan hormon stres yang menyebabkan sistem imun meningkat dan rentan tertular Covid-19.

“Reaksi masyarakat bisa jadi memproteksi berlebihan terhadap diri sendiri juga. Misalnya dengan mencuci tangan berulang kali, membersihkan rumah dan lingkungan terus menerus, ”imbuh Rini yang juga sebagai Psikolog Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta (RS UNS) ini.

Lebih jauh, kata Rini, hal ini dapat menimbulkan gejala obsesif compulsif, yaitu gangguan mental yang menyebabkan penderitanya harus melakukan tindakan berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, individu tersebut akan diliputi pertimbangan atau kesulitan. Namun tidak dapat dipungkiri karena masih ada masyarakat yang kurang bijak menyikapi kebijakan pemerintah selama 14 hari beraktivitas di rumah (belajar, bekerja dan beribadah di rumah), dimana mereka malah berlibur ke tempat wisata. Masyarakat itulah yang perlu mendapat pendidikan tentang pemerintah dan masyarakat.

Selanjutnya, ungkap Rini, bagaimana mendorong percakapan psikologis terhadap Covid-19 ini? Perlu strategi coping adaptif yaitu cara mengatasi masalah yang diadaptasi oleh baik penderita maupun masyarakat luas. “Perasaan khawatir, tertekan dan kesulitan ini dapat diolah dengan tepat oleh individu maka dapat menghubungkan individu tersebut pada reaksi yang melindungi diri dengan tepat dan meningkatkan religiusitas individu karena individu dapat lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Mengabaikan, membahas strateginya adalah mengatasi maladaptif maka tidak dapat menghentikan individu yang dapat mengubah distres, cemas, gejala obsesif, kompulsif, atau kesulitan psikologis lainnya,” tuturnya.

Rini menjelaskan, disediakan himbauan untuk masyarakat dari Himpunan Psikologi Indonesia terkait penyebaran Covid-19 yang disingkat PSIKOLOGI, yaitu: mempertimbangkan kesehatan, menjauhkan atau jaga jarak sosial, jaga kebersihan, memakan buah, vitamin dan makanan bergizi, membalikkan olah berpikir, olah rasa dan meminimalisir percakapan, melakukan konsumsi dengan baik, menutup mulut saat batuk dan bersin serta hindari menghubungi bagian wajah dengan tangan. Olah raga teratur, gunakan masker dan ingatlah untuk berdoa. (Humas UNS /Dwi)

Komentar

Jangan Lewatkan