oleh

Dua Mesin qPCR Siap Test Swab Massal di NTT

-News-597 views

RADARNTT, Kupang – Dua buah mesin Quantitative Polymerase Chain Reaction (qPCR) hasil rakitan anak NTT siap digunakan untuk tes massal. Kedua mesin qPCR itu, selama ini berada di Laboratorium Biomolekuler RSU W.Z Johannes dan satu lagi berada di Laboratorium Bio Science Universitas Nusa Cendana (Undana).

“Saya tahu ada mesin qPCR di Undana sejak tanggal 14 Mei 2020, dan satu lagi di Laboratorium Bio Science sejak tanggal 2 Juni 2020,” kata Dr.Fima Inabuy, ahli biomolekuler yang sedang merancang pool test atau tes massal.

Dua mesin bisa melakukan tes sebanyak 600 swab per hari untuk surveilens, dan dengan metode pool test ini dapat dilakukan pemetaan wilayah sehingga pencegahan dapat segera dilakukan, terutama di daerah padat penduduk dan sentra ekonomi. Zona merah seperti TDM misalnya, menjadi target untuk melakukan pool test.

“Dengan kedua qPCR manual ini memungkinkan kita melakukan tes secara massal dalam konteks pencegahan, sebab hingga hari ini faktanya kita belum menemukan vaksin, jadi pencegahan harus kita lakukan semaksimal mungkin,” ujar Fima.

Akses untuk menggunakan kedua qPCR keluar setelah ia mendapatkan Surat Permohonan Peminjaman dari Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 NTT , Ir. Benediktus Polo Maing, kepada pihak Undana maupun RSUD W.Z Johannes sejak tanggal 11 Juni 2020.

Dr. Fima Inabuy menjelaskan, sejak tanggal 28 April 2020 ia memimpin Tim Pool Test yang giat merancang upaya menghadirkan tes yang murah dan massal di NTT.

“Jadi saya mau meluruskan bahwa kehadiran saya dan teman-teman, bukan di dalam Tim Expert Gugus Tugas seperti yang orang kira, tetapi kami tergabung Tim Pool Test, yang terdiri dari 12 orang, dan ini berdiri sendiri dan terlepas dari SK Kepala Dinas Kesehatan, dan kebetulan dalam SK Tim Expert yang muncul ada 5 orang dari 12 anggota tim kami di situ, ini perlu kami luruskan agar publik tidak terlalu jauh keliru menilai kami,” ujar Fima.

Anggota tim ini memang berasal dari berbagai fakultas dan kampus yang tergabung dalam jaringan Forum Academia NTT, baik yang berada di Indonesia, Amerika Serikat dan Australia.

Fima mengatakan dalam waktu dekat ada Doktor biomolekuler lain yang bergabung dalam tim ini di Kupang adalah Doktor Alfredo Kono lulusan dari Iowa State University. “Kami menunggunya dan berharap kami bisa melakukan terobosan lain dalam berhadapan dengan Covid-19, sebab dengan kemampuan kami sebagai peneliti rasanya untuk berbuat sesuatu dengan qPCR yang ada,” tuturnya optimis.

“Mimpi saya adalah NTT menjadi contoh salah satu provinsi di Indonesia yang mengatasi penyebaran Covid-19 dari hulu, dan saya sendiri ingin membuktikan bahwa kita bisa melakukan inovasi di luar protokol WHO yang ada, dan meyakinkan bahwa ada alternatif lain yang lebih terjangkau dalam menangani wabah ini,” ujar Fima.

Mulai hari Senin di minggu depan berbekal dua qPCR ini, mereka Tim Pool Test akan melakukan pelatihan laboran yang melibatkan 20 orang. “Selama ini qPCR di kedua lembaga tidak ada yang memakainya, jadi dalam kesempatan ini, saya akan mengajarkan kepada 20 orang baru bagaimana menggunakan qPCR, dan dengan cara ini kita bisa mempunyai lebih banyak orang di NTT yang mampu mengoperasikan qPCR,” ujar Fima.

Anggota tim lain adalah Rudi Rohi, dosen ilmu politik di FISIP Undana mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam tim untuk membantu melakukan pemetaan masalah sosial dam tata kelola kelembagaan.

“Kehadiran saya sebenarnya membantu untuk memetakan persoalan sosial dan tata kelola kelembagaan, tidak mudah kita meminjam alat-alat yang kami kumpulkan dari berbagai lembaga, dua qPCR datang dari dua lembaga yang berbeda, sedangkan alat lain kami mengaksesnya dari UPT Veterinarian, dan Politani, untuk meminjam alat-alat ini, kami harus melakukan pertemuan maraton dengan pimpinan berbagai instansi,” ujar Rudi.

Dominggus Elcid Li, sosiolog yang menjadi salah satu motor Forum Academia NTT mengatakan memasuki masa adaptasi kebiasaan baru, kita perlu berpikir dan mengambil sikap antisipasi kemungkinan buruk yang terjadi kemudian.

“Keinginan saya sederhana saja, ketika memasuki periode adaptasi kebiasaan baru, kita di NTT sudah punya peralatan yang mengantisipasi kemungkinan terjadinya out break, dan test swab massal adalah salah satu jalan keluarnya, dan tidak mungkin roda ekonomi bergerak tanpa ada jaminan kesehatan yang memadai,” kata Elcid.

Ia menambahkan bahwa dari NTT mungkin kita menemukan jalan keluar untuk Indonesia, khususnya ketika kita berhadapan dengan persoalan health-security tanpa kapan ada jaminan bakal selesai.

Usaha para anggota Tim Pool Test untuk menjadikan mimpi melakukan tes massal dan murah memang diharapkan oleh orang banyak. Pendeta Junus Inabuy, yang juga Bapak dari Dr. Fima mengatakan bahwa dengan ilmu pengetahuan banyak hal bisa dipecahkan.

“Ya, banyak orang berharap pada orang-orang idealis seperti para anggota tim ini, saya bisa melihat ketulusan mereka,” ujar Junus. (TIM/RN)

Komentar

Jangan Lewatkan